TKW Asal Carenang Itu Lima Tahun Tak Digaji

Tertahan di KBRI Arab Saudi

0
1.043 views
TKW TERTAHAN: Maria menunjukkan foto istrinya, Munirah, TKW yang tertahan di KBRI Arab Saudi, Selasa (28/2). FOTO: ROZAK / RADAR BANTEN

CARENANG – Nasib Munirah (37) warga asal Kampung Bojong Gadung, Desa Ragas Masigit, Kecamatan Carenang, Kabupaten Serang, yang menjadi tenaga kerja wanita (TKW) di Arab Saudi tidak jelas karena sudah delapan bulan Munirah tinggal di penampungan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Arab Saudi tanpa ada kepastian kapan akan pulang ke Tanah Air.

Munirah berangkat untuk bekerja di negara penghasil minyak terbesar itu pada April 2011 melalui perusahaan jasa tenaga kerja indonesia (PJTKI) PT Bahtera Tulus Karya yang berkantor di Jakarta. Namun, ia berangkat melalui seorang agen yang pada saat itu ada di Kecamatan Carenang.

Setelah enam tahun bekerja, Munirah tidak pernah pulang ke rumahnya. Berdasarkan pengakuan dari keluarga Munirah, ia di sana tidak mendapatkan gaji selama lima tahun. “Dapat gaji waktu pertama saja,” kata Maria, suami Munirah saat ditemui Radar Banten di kediamannya, Selasa (28/2).

Ayah dari tiga orang anak ini menuturkan bahwa keluarga sempat berkomunikasi dengan Munirah melalui telepon seluler. Munirah belum tahu kelanjutan nasibnya kapan akan dipulangkan ke negara asalnya. “Kita sudah ke orang pintar juga mas, tapi belum ada kejelasan,” ujar Maria.

Ia mengaku tidak mengetahui banyak soal pemberangkatan dan perkembangan nasib isterinya di negara padang pasir tersebut. Sejak keberangkatannya hingga saat ini, Munirah belum pernah pulang ke Indonesia. “Berangkatnya dua orang sama orang sini, yang satunya mah sudah pulang,” jelasnya.

Teman Munirah yang juga ikut berangkat ke Arab Saudi, Siti Komariyah mengatakan, keberangkatan mereka menjadi TKW memang bermasalah. Ia mengatakan bahwa saat berangkat hanya dibekali paspor penerbangan saja. “Surat-surat lainnya tidak ada, kalau ada masalah kan jadi susah begini,” katanya.

Sambil menahan air mata Komariyah menceritakan semasa menjadi TKW di Saudi. Komariyah berangkat sendiri ke Saudi, kemudian selang satu minggu Munirah menyusul. Tapi, mereka bekerja di tempat yang berbeda. “Saya cuma dua bulan di sana, tidak betah karena majikan saya menganiaya,” ujarnya.

Setelah mendapatkan perlakuan yang keras dari majikannya, Komariyah menuntut untuk pulang ke Indonesia dengan bantuan hukum negara setempat. Ia mengaku tidak mendapatkan perlindungan dari pihak PJTKI yang memberangkatkannya. “Ya, saya di sana ikut sidang beberapa kali, berbicaranya juga pakai bahasa isyarat karena enggak bisa bahasa Arab,” tuturnya.

Proses pemberangkatan ke Arab Saudi tidak begitu dipahami oleh Komariyah. Ia mengaku hanya diberangkatkan secara mendadak dengan dibekali uang Rp1 juta dari pihak PJTKI. “Saya juga sudah tanyakan, bagaimana izinnya, asuransi, perlindungan dan sebagainya tapi tidak dijawab, tahunya berangkat saja,” jelasnya.

Komariyah meyakini masalah yang dihadapi Munirah tidak jauh berbeda dengan apa yang dialaminya. Hanya saja, Munirah tidak berani untuk memaksa pulang dan bertahan selama enam tahun di sana. “Kita satu agen, pasti sama lah,” imbuhnya.

Sementara itu, Camat Carenang Bakhroem mengaku baru mengetahui ada warganya yang tertahan di KBRI. Menurutnya, daerah Carenang memang menjadi salah satu kantong TKI di Kabupaten Serang. “Setiap ada yang berangkat itu tidak ada laporan ke kita, jadi kita juga tidak punya datanya,” katanya saat ditemui di Kantornya.

Bakhroem mengaku, sekira empat tahun yang lalu pernah ada PJTKI yang berdiri di Kecamatan Carenang. Namun, ia tidak mengetahui pasti asal muasalnya. “Itu dulu pernah ada katanya, kalau sekarang sudah tidak ada lagi,” ujarnya.

Bakhroem berharap warganya tersebut dapat segera dipulangkan ke kampung halamannya. “Ya, kalau sudah di KBRI saya rasa tidak usah dipersulit untuk dipulangkan,” imbuhnya. (Rozak/Radar Banten)