Tol Serang-Panimbang Tumbuhkan Tiga Sektor Usaha

SERANG – Pembangunan Tol Serang-Panimbang akan rampung dan dioperasikan pada 2020. Tol sepanjang 83 kilometer (km) itu memberikan efek ganda terhadap pembangunan infrastruktur di daerah dan pertumbuhan ekonomi baru di sekitaran exit tol.

Bank Indonesia Kantor Perwakilan Provinsi Banten memprediksi ada tiga sektor ekonomi yang bakal tumbuh, yakni pariwisata, perumahan, dan industri padat karya. Ditambah lagi dengan tumbuhnya perekonomian baru yang mengikuti dari tiga sektor tadi.

Kepala Tim Advisory Ekonomi dan Keuangan Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Banten Purwanto mengungkapkan, kehadiran tol sebagai konektivitas antardaerah mempercepat distribusi barang dan manusia.

“Ini karena jarak tempuh menjadi lebih singkat sehingga bisa lebih efisien dari segi waktu dan anggaran,” kata Purwanto kepada Radar Banten, kemarin.

Menurutnya, Tol Serang-Panimbang ditujukan untuk membuka wilayah Banten Selatan dan mendukung kawasan pariwisata, seperti KEK Tanjung Lesung, Pulau Umang, dan Taman Nasional Ujung Kulon. Kehadiran tol itu harusnya dimanfaatkan seefektif mungkin untuk mendorong perekonomian Banten Selatan yang saat ini didominasi oleh sektor pertanian.

“Pemda Pandeglang dan Lebak sebaiknya bisa memanfaatkan keberadaan tol ini untuk mendorong pertumbuhan sektor ekonomi baru, seperti pariwisata yang potensinya sebenarnya cukup besar di kedua wilayah tersebut,” katanya.

Ia menambahkan, ekonomi lain yang bisa dikembangkan adalah industri padat karya seperti pabrik sepatu, industri makanan dan minuman, agro industri, dan lainnya. Tingginya UMK di daerah kawasan industri di Banten, seperti Kota Tangerang, Kabupaten Tangerang, dan Kabupaten Serang menyebabkan beberapa perusahaan seperti perusahaan alas kaki dan tekstil melakukan ekspansi ke luar Banten. Hal tersebut harusnya bisa dimanfaatkan oleh wilayah Pandeglang dan Lebak yang saat ini memiliki UMK yang relatif masih rendah dengan memberikan ruang untuk industri-industri tersebut.

“Untuk pabrik sepatu, daripada ekspansi ke luar Banten lebih baik ke Banten Selatan karena upahnya lebih murah dibandingkan daerah Banten Utara,” katanya.

Selain itu, industri pengolahan juga berpotensi untuk dikembangkan. Namun, yang berbasis agro dengan memanfaatkan hasil pertanian yang ada di Pandeglang dan Lebak. Misalnya pabrik pengolahan sawit atau cokelat yang bisa dintegrasikan dengan pabrik makanan minuman. Dari sisi jenis, industri yang bagus untuk dikembangkan ada baiknya jika bersifat padat karya.

“Sehingga, bisa menjadi lapangan pekerjaan bagi masyarakat sekitar dengan persyaratan kompetensi yang tidak setinggi industri padat modal,” katanya.

Ia menilai, potensi ekonomi baru di exit tol itu bisa berkembang dengan baik jika pemda dan masyarakat memberikan respons yang positif terhadap perubahan. Untuk itu, pemda harus bisa berkomunikasi dengan baik. Selain itu, pemda juga harus meningkatkan SDM masyarakat dan mempermudah perizinan agar daerahnya bisa berkembang.

“Tentu potensi ini harus melibatkan masyarakat sekitar. Untuk itu, pentingnya mengembangkan kompetensi diri agar bisa ikut andil dan tidak hanya menjadi penonton bagi masyarakat sekitar,” katanya.

Rencana pembangunan jalan tol dan KEK Tanjung Lesung membuat sejumlah investor juga mengincar lahan untuk dikembangkan berbagai proyek ke depannya. Salah satunya perumahan, terutama pengembang besar. Hal itu juga terjadi di daerah Panimbang yang tanahnya banyak dimiliki investor. 

“Rencana proyek jalan tol ini memang menjadi incaran bagi para investor melakukan investasi dengan membeli lahan dan setelah ramai baru dikembangkan,” katanya.

Ketua Dewan Pimpinan Daerah Real Estate Indonesia (DPD REI) Banten Roni Hadiriyanto Adali mengatakan, saat ini, banyak pengembang yang melirik melakukan investasi di dekat exit Tol Serang-Panimbang. Terutama pengembang besar seperti Ciputra dan lainnya yang memang memiliki kecukupan modal untuk investasi.

“Para pengembang ini memang benar-benar mengikuti rencana pengembangan infrastruktur pemerintah sebagai acuan melakukan investasi. Namun, pengembang kecil belum,” katanya.

Menurutnya, tidak bisa dipungkiri infrastruktur yang memadai akan mendorong pertumbuhan ekonomi daerah sekitar seperti yang akan terjadi di Tol Serang-Panimbang. Daerah yang ada di samping gerbang tol pasti sudah dilirik oleh pengembang atau investor lainnya.

“Mungkin pengembang kecil daerah yang agak jauh dari gerbang tol, tetapi sekarang pasti tanah-tanah di sekitar gerbang tol banyak dibeli investor,” katanya.

Pengamat ekonomi Hadi Sutjipto mengatakan, daerah yang dilalui Tol Serang-Panimbang harus menggali potensi desa agar ekonomi di wilayah tersebut bisa berkembang dengan baik. Untuk itu, perlu memanfaatkan dana desa yang nilainya cukup besar untuk peningkatan sumber daya manusia dan mengali potensi desa yang bisa dikembangkan agar bisa memberikan nilai tambah.

“Jangan sampai masyarakat yang di sepanjang jalan tol tidak bisa menikmati dampak dari pembangunan proyek ini,” katanya.

Ia menambahkan, dengan adanya pembangunan tol ini pasti ada perubahan tata ruang. Untuk itu, pemerintah daerah juga harus melakukan pemetaan daerah yang cocok untuk pengembangan industri sehingga tidak berdekatan dengan masyarakat.

“Jangan sampai terjadi gesekan di kemudian hari,” kata akademisi Untirta itu.

Ia mengungkapkan, tujuan dari adanya tol tersebut untuk membuka akses bagi masyarakat yang ada di Banten Selatan terutama Kawasan Ekonomi Khusus Tanjung Lesung. Wilayah tersebut secara pasti akan menjadi daerah pariwisata dan ekonominya akan tumbuh. Namun, daerah sepanjang tol itu juga harus bisa dioptimalkan baik alamnya maupun SDM.

“Masyarakatnya harus kreatif sehingga tidak menjadi penonton,” katanya. (skn/aas/air/ira)