Tolak People Power, BEM se-Banten Gelar Konsolidasi

Kuatkan barisan, gerakan, dan pemikiran, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) se-Banten gelar silaturahmi dan dialog bersama. Kegiatan yang digagas oleh BEM Untirta tersebut, membahas berbagai persoalan urgensional, di antaranya adalah demokrasi Indonesia yang dinilai gagal, serta menurunnya daya kritis aktivis.

Dihadiri oleh presiden mahasiswa, wakil presiden mahasiswa, serta jajaran kementrian BEM dari perguruan tinggi se-Banten, silaturahmi BEM se-Banten berlangsung pada 21 Mei 2019, di aula rumah makan S Rizki, Kota Serang.

Agenda tersebut bertujuan untuk menjalin silaturahmi dan menguatkan barisan gerakan BEM se-Banten, terlebih BEM menilai proses demokrasi di Indonesia yang telah diselenggarakan pada 17 April 2018 lalu dinilai belum berhasil.
Muhammad Muhtoy Syafe’i, Menteri Luar Negeri BEM Untirta mengatakan, silaturahmi BEM se-Banten dimaksudkan untuk memperkuat gerakan dan prinsip para aktivis dan mengembalikan posisi para aktivis sebagai agent of change dan social control. Ditanya soal pemilu, Muhtoy mengatakan, tak berpihak pada kubu manapun, BEM se-Banten akan mengawal proses pemilu yang memiliki indikasi kecurangan, namun tetap berada di tengah dan bersikap netral.

“Saat ini, aktivis kampus telah menurun daya kritisnya. Maka silaturahmi BEM se-Banten ini dimaksudkan untuk menguatkan dan mengembalikan ghiroh aktivis, khususnya BEM se-Banten untuk kembali melakukan gerakan secara massif, untuk mengawal dan mengkritisi pemerintah. sebagai social control, aktivis sudah sepantasnya demikian,” ujar Muhtoy kepada Radar Banten.

Sementara itu, Presiden Mahasiswa Untirta Rafi Maulana menyatakan, sikap sebagai oposisi pemerintah dalam artian siapapun pemenang pemilu dan yang duduk di parlemen, dirinya akan sampaikan kritik dan membawa kepentingan rakyat untuk rakyat. Soal isu people power, Rafi menolak bila people power ditunggangi kepentingan-kepentingan lain yang bukan kepentingan rakyat. Dirinya berkomitmen untuk tetap menjaga kondusivitas dan keutuhan NKRI bersama BEM se-Banten.

“Jika people power justru merusak tatanan negara dan membuat NKRI menjadi tidak kondusif saya tidak setuju. Namun bila bertujuan mengawal demokrasi kemarin yang disinyalir terindikasi kecurangan, saya akan kawal bersama BEM se-Banten, hingga persoalannya tuntas,” kata Rafi.

Dalam kesempatan tersebut, Presma Untirta bersama seluruh perwakilan BEM se-Banten mengikrarkan diri untuk tetap menjaga keutuhan NKRI dan tetap mengawal demokrasi Indonesia. Menghangatkan sinergitas, acara tersebut juga sekaligus buka puasa bersama (bukber) dan diskusi publik untuk membahas persoalan-persoalan bangsa, serta persoalan internal BEM. (zee)