Para penghuni pusat rehabilitasi Yayasan Bani Syifa bersama Toni Azhari (baju merah) di kantor BNN Provinsi Banten.

SIANG itu, Rabu (4/4), cuaca cerah, matahari berada tepat di atas kepala. Radar Banten, mendatangi pusat rehabilitasi Yayasan Bani Syifa di perbatasan Kecamatan Pamarayan dan Cikeusal, Kabupaten Serang. Lokasinya, tak jauh dari Bendung Pamarayan Baru, Kecamatan Cikeusal.

Rasanya sudah banyak yang tahu soal Yayasan Bani Syifa. Pusat rehabilitasi yang banyak menjadi rujukan masyarakat dan pemerintah daerah untuk mengatasi gangguan jiwa. Selain pasien-pasien dari dalam Banten, yayasan ini juga kerap menerima pasien dari luar Banten.

Kantor Yayasan Bani Syifa tampak sederhana, ukurannya minimalis dan tidak dilengkapi dengan alat perkantoran. Di sekitar kantor, banyak ditemui pasien-pasien rehabilitasi yang sedang bersantai. Tatapan mereka kosong, sesekali senyum-senyum tanpa sebab. Beberapa lagi, ada yang tubuhnya dipenuhi dengan tato, tetapi  dapat berinteraksi jelas dengan orang-orang di sekitarnya. Di balik pintu, seorang pengurus yayasan menyambut dengan hangat. Adalah Toni Azhari, seorang mantan pecandu berat narkoba yang kini menjadi ketua rehabilitasi di Yayasan Bani Syifa. Ia menjalani hari-hari suramnya itu selama tiga tahun. Yakni, sejak 2005 hingga 2008. sehari-harinya, Toni selalu ketergantungan pada obat-obatan terlarang ini.

Kisah kelam Toni dimulai saat ia bekerja di Jakarta. Saat itu, teman-teman kerjanya merupakan para pecandu berat. Hidup di lingkungan pecandu, membuat Toni terseret ke dalamnya. Mulai dari sekadar mencoba, Toni menjadi kecanduan mengonsumsi narkoba. Saat itu, bagi Toni, tidak ada hari tanpa mengonsumsi narkoba. Mulai dari sabu, ganja, dan obat-obatan terlarang lain merupakan konsumsi sehari-hari Toni.

Saat itu, Toni menjadi ketergantungan pada obat-obatan terlarang ini. Sehari tidak mengonsumsi, tubuhnya menjadi lemas, kepala pusing, dan perasaan sangat resah. Ditambah lagi, Toni saat itu hidup di dunia malam yang bebas. “Teman-teman saya semuanya para pecandu,” katanya.

Suatu hari Toni menyaksikan kejadian yang mengenaskan. Rekan kerja Toni meninggal dunia mengenaskan saat mengonsumsi narkoba. Ia menyaksikan tubuh temannya itu kejang-kejang, sambil mengeluarkan busa di mulut karena overdosis. “Teman saya meninggal di hadapan saya, saat nyabu,” kata Toni.

Kejadian tragis itu membuat Toni trauma. Ia tidak mau lagi mengonsumsi obat terlarang itu. Namun, niatan Toni itu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Ia harus menekatkan niat dan benar-benar menjauhi lingkungan itu. “Waktu itu saya masih nyabu, susah sekali berhenti,” ucapnya.

Pada 2008, Toni pulang ke kampung halamannya. Warga Kecamatan Cikeusal itu mencari tempat yang bisa membantunya ke luar dari kebiasaan buruknya itu. Akhirnya, Toni memutuskan untuk masuk Yayasan Bani Syifa, yang saat itu hanya untuk tempat rehabilitasi orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) saja. “Saya masuk sini karena inisiatif sendiri, tidak ada yang mendorong,” ujarnya.

Kurang lebih selama satu tahun di Yayasan Bani Syifa, Toni pun mulai mengalami perubahan. Ia benar-benar tidak lagi mengonsumsi obat terlarang dan tekun mempelajari agama. Setelah itu, Toni berinisiatif untuk mendirikan tempat rehabilitasi pecandu obat terlarang di bawah naungan Yayasan Bani Syifa. “Cukup saya saja yang pernah menjadi korban, saya ingin membantu yang lainnya untuk ke luar dari lingkaran narkoba,” terangnya.

Lain dulu lain juga dengan sekarang. Toni saat ini dipercayai sebagai ketua rehabilitasi di Yayasan Bani Syifa oleh pemilik. Tak hanya itu, ia juga dipercayai untuk mempersunting anak gadis pemilik yayasan. “Sampai sekarang sudah punya anak dua,” ucap Toni.

Di yayasan ini, Toni mengurus 144 pasien dimana 16 di antaranya merupakan pasien rehabilitasi narkoba. Pasien Toni berasal dari berbagai daerah, mulai dari Pandeglang, Tangerang, Jakarta, hingga Padang. Toni menjalani profesi ini betul-betul ingin membantu para pecandu berhenti mengonsumsi narkoba, sama halnya dengan masa lalunya.

Melalui yayasan ini, Toni berhasil memulangkan ratusan pasien dengan kondisi sembuh total. Ia menggunakan metode keagamaan ala pondok pesantren untuk merehabilitasi pasiennya. Metode ini dapat menjauhkan pecandu dari kebiasaannya. “Setiap malam Selasa kita ada rehabilitasi khusus, namanya rujat,” ucapnya.

Keseriusan Toni di bidang rehabilitasi menjadi dikenal oleh berbagai kalangan. Sampai-sampai, namanya didengar oleh Badan Narkotika Nasional (BNN) Provinsi Banten dan Kementerian Sosial RI. Kini, Toni menjadi seorang konselor adiksi di kedua lembaga pemerintahan itu.

Menurut Toni, mengonsumsi narkoba sama saja dengan terjun ke dalam lingkaran hitam. Para pecandu akan kesulitan untuk keluar dari kebiasaannya tanpa ada dorongan motivasi dari diri sendiri. “Perlu keinginan yang kuat untuk keluar. Pesan saya, jangan sekali-sekali mencoba mengonsumsi narkoba,” tutupnya. (ABDUL ROZAK)