Tragedi Kapal Zahro Express, Kisah Pilu Rombongan 57 Karyawan Diskotek X One

0
641 views
Evakuasi mayat korban kapal wisata Zahro Express. Foto: JawaPos.com

Api menjalar dari sebuah kapal. Jerit ketakutan keras melebihi gemuruh gelombang yang datang. Asap kematian dan bau daging terbakar terus menggelepar dalam ingatan”.

SEPENGGAL lirik lagu dari Iwan Fals berjudul Celoteh Camar Tolol Dan Cemar itu mengisahkan sebuah kapal Tampomas II yang terbakar pada 1981 yang menewaskan ratusan orang. Kejadian itu terulang di awal 2017 di perairan Kepulauan Seribu. Di mana Kapal Motor Zahro Express terbakar yang menewaskan 23 orang (hingga kemarin pukul 14.30).

Dua puluh orang terbakar di geladak kapal dan belum teridentifikasi, 3 orang teriidentifikasi karena sempat loncat ke laut. Namun, mereka tak bisa berenang. Ketiga orang itu GM X One, Jackson Wilhemus, 39, Elly Eliana, 28, dan Masduki, 40.

Teriakan para penumpang di dek lantai dua kapal mengagetkan Sofyan, 35, salah seorang penumpang KM Zahro Express yang sedang rebahan di dek lantai dua. Tak lama berselang terdengar suara suruhan “Cepat loncat ke air.” Sofyan dan empat rekannya masih tak beranjak rebahan di dek lantai dua itu meskipun ada suruhan loncat.

“Kami belum ngeh kenapa ada anak buah kapal (ABK) yang nyuruh kami loncat ke air. Setelah bilang itu, ABK itu langsung loncat,” kata Sofyan yang juga karyawan diskotek X One, Bogor itu,saat ditemui di RS Atmajaya, Pluit, Penjaringan, Jakut.

Teriakan suruhan itu juga diiringi dengan berhamburannya penumpang di dek lantai dua. Ada yang teriak minta tolong. Ada juga yang teriak Allahu Akbar. Ada juga yang langsung loncat ke air dengan menggunakan stereoform dan jaket pelampung. Merasa penasaran, Sofyan pun mencoba mencari tahu kenapa dirinya harus loncat.

Ketika mau turun ke geladak kapal, ternyata tangga penghubung lambung ke dek lantai dua sudah terbakar. Kebetulan api saat itu masih di geladak kapal belum merembet ke dek atas. “Nah, saat itu saya langsung lari nyuruh teman untuk ambil tas nyuruh loncat,” ucapnya.

Lantaran kehabisan jaket pelampung, Sofyan dan keempat rekannya pun terpaksa loncat dari dek lantai dua. “Alhamdulillah-nya kami bisa berenang,” kata Sofyan.

Sofyan bercerita, Minggu pagi (1/1) itu karyawan diskotek X One yang berjumlah 57 orang ingin liburan ke Pulau Tidung. Rombongan itu pun berangkat dari Bogor Minggu subuh. Biasanya, kata dia, saat perayaan tahun baru pihak perusahaan tidak mengadakan outing.

Namun, tahun ini General Manager X One, Jackson Wilhemus, 39, mengajak semua karyawannya, termasuk waiters, pemandu lagu untuk berlibur ke Pulau Tidung.

Saat kejadian, lanjut Sofyan, kebanyakan karyawan ada di geladak kapal, termasuk GM X One, Jackson. Sebelum Sofyan loncat, dia melihat bosnya sudah ada di laut dengan kondisi mengambang. “Kayaknya bos saya nggak bisa berenang, jadi nyawanya nggak bisa tertolong,” ucapnya.

Sofyan bersama para penumpang yang loncat sempat terombang-ambing di perairan selama 30 menit. Tak lama kapal kecil pencari ikan menyelamatkan para penumpang. Lalu berlanjut kapal patroli dari polisi berdatangan untuk mengevakuasi penumpang yang di perairan.

Sofyan mengakui ada beberapa karyawan diskotek yang mengalami luka bakar. Baik karyawan perempuan atau laki-laki. “Luka bakarnya ada yang di tangan, pundak, dan rambut. Saya kurang tahu luka bakarnya berapa persen,” ucapnya. (GUGUN GUMILAR/JawaPos.com)