Tren Penggunaan Lampu HID di Kendaraan

Ilustrasi

Tren penggunaan lampu aftermarket kian marak. Fungsi headlamp sebagai alat bantu visual sudah melebar pada kebutuhan peningkatan safety dan style. Hal itu terbukti dari semakin banyaknya peminat lampu aftermarket seperti HID, LED, dan instalasi lampu-lampu pendukung seperti DRL atau LED daytime running light.

Menurut para produsen dan pemain bisnis aftermarket, lampu seperti HID memang mempunyai standar kualitas di atas lampu bawaan mobil yang umumnya berjenis halogen. ”Umumnya alasan konsumen ingin beralih ke lampu HID karena tak puas dengan visual pada malam hari yang dihasilkan lampu bawaan,” ujar Marketing Manager Autovision Dedi, sebagaimana dilansir JawaPos.com.

Selain HID, ada jenis lampu aftermarket yang biasa dipilih, yaitu jenis LED. Namun, dalam kasus penggunaan sebagai lampu utama, HID lebih banyak diminati. ”Karena lampu LED sifatnya menyebar. LED titik fokusnya benar-benar mengandalkan reflektor bawaan mobil. Jadi, kalau reflektornya usang atau apa, titik fokus akan terganggu,” jelas Dedi.

Hal itu berbeda dengan sifat lampu HID yang fokus atau menyorot sehingga tak terpengaruh ketika reflektor rusak atau usang. ”Maka dari itu, kami biasa menyarankan headlamp menggunakan HID. Sementara untuk lampu fog, bisa menggunakan LED,” jelas Dedi. Lampu HID atau high intensity discharge menghasilkan cahaya dengan cara busur listrik.

Menurut Dedi, mobil pabrikan Jepang umumnya lebih dimudahkan jika ingin mengganti lampu aftermarket. Sebab, sebagian besar kelistrikan mobil Jepang belum menggunakan ECU untuk lampunya sehingga cenderung aman untuk memakai tipe HID apa aja. ”Lampu aftermarket tipe apa saja bisa karena dia tidak akan mengganggu indikator apa pun di ECU,” papar Dedi.

Untuk mobil yang tidak dilengkapi projektor, Dedi selalu menyarankan konsumen untuk menggunakan lampu maksimal 35 watt. Sedangkan lampu yang menggunakan projektor disarankan maksimal 55 watt. ”Karena untuk kasus mobil yang mengunakan projektor, ada dua filter yang mereka tembus. Pertama adalah lensa projektornya, berikutnya adalah kaca/mika dari lampu mobil itu sendiri,” urai Dedi.

Batasan maksimal tersebut mutlak perlu diketahui bagi siapa saja yang ingin mengganti lampu halogen dengan HID atau LED. Sebab, berdasar spesifikasi pabrik, umumnya kekuatan reflektor produk mobil yang masuk Indonesia maksimal 55 watt. ”Watt harus sesuai karena HID sangat panas. Efeknya bisa membuat reflektor lampu cepat kusam,” katanya.

Meski ada banyak hal yang perlu diperhatikan, lampu HID akan memberi banyak kelebihan jika diinstal dengan benar. Bahkan, kualitas terangnya disebut tujuh kali lipat lebih baik dibanding lampu halogen. Selain itu, mengingat bahan material yang digunakan adalah plastik, ada potensi terbakar jika overheat.

Mengenai warna, pemilik harus paham terhadap jenis dan hasil dari masing-masing karakteristik lampu HID. Umumnya yang banyak beredar di pasar adalah 3800 kelvin (warna putih bias kuning), 4300 kelvin (warna mirip lampu standar), 6000 kelvin (warna putih), dan 8000 kelvin (warna putih kebiruan).

”Kalau mobil sering ke luar kota disarankan 4300–8000 kelvin. Tip khusus bagi yang biasa berkendara jauh, saat malam dan di medan yang sering turun hujan, kalau memang ingin memasang yang 4300 kelvin ke atas, usahakan foglamp-nya kuning. Jadi, ketika kabut, ada yang membantu visual,” ujar Dedi. (agf/c21/sof/JPG)