Tujuh Dosen UIN Banten Ikut Konferensi Internasional 2020

0
1.213 views

Sejumlah dosen dari berbagai fakultas di Universitas Islam Negeri (UIN) Sultan Maulana Hasanuddin Banten mengikuti 6th International Conference on Human Sustainability (INSAN) 2020 di Universiti Tun Hussein Onn Malaysia. Konferensi ini dillaksanakan pada tanggal 19 Agustus 2020 yang melibatkan antar perguruan tinggi dari empat negara yaitu Malaysia, Indonesia, Brunei Darussalam, dan Thailand secara online. Berikut laporannya yang dikirimkan kepada Radar Banten.

UIN Banten sebagai salah satu perguruan tinggi yang mewakili Indonesia berhasil mengirim enam dosen yang telah lulus seleksi dalam konferensi tersebut. Prof. H. Fauzul Iman, MA, selaku Rektor UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten menyambut dengan baik kegiatan tersebut. Pada saat yang sama, Prof. Fauzul menyampaikan apresiasinya kepada para dosen yang telah mewakili dari UIN Banten dalam presentasi internasional tersebut. Konferensi internasional tersebut menurut Rektor UIN Banten memiliki nilai positif sebagai sarana penguatan dan pengembangan akademik kelembagaan di kampus. Untuk itu, kerjasama dalam penyelenggaraan konferensi perlu dilakukan secara kontinyu. Lebih lanjut Rektor UIN Banten juga menjelaskan bahwa kegiatan konferensi internasional sebagaimana yang diselenggarakan oleh Universiti Tun Hussein Onn Malaysia ini membawa pengaruh positif bagi pengembangan SDM di Perguruan Tinggi, terutama dalam mempersiapkan percepatan pencapaian guru besar.

“Saya mengapresiasi kegiatan konferensi internasional yang diselenggarakan oleh UTHM melalui program INSAN ini. Program ini memiliki nilai positif dalam menguatkan kelembagaan kampus. Melalui program semacam ini, kolaborasi antar perguruan tinggi akan semakin terbangun. Kemudian juga program seperti ini akan menambah jejaring keilmuan bagi para dosen yang nantinya akan berdampak positif pada penguatan SDM-nya untuk mempercepat ketersediaan guru besar”. Demikian disampaikan Prof. Fauzul Iman.

Ketujuh dosen yang telah berhasil menempuh proses seleksi makalah dan menjadi perwakilan dari UIN Banten untuk presentasi di forum tersebut adalah Dr. Masykur, M.Hum, Dr. Naf’an Tarihoran, M.Hum, Dr. Sholahuddin Al Ayubi, MA, Dr. Andi Rosa, MA, Dr. Ade Fakih Kurniawan, M.Ud, Dr. Dedi Sunardi, M.H., dan Dr. Ali Muhtarom, MSI.

Tema yang diangkat oleh para presenter dari UIN Banten ini cukup menarik dan variatif yaitu dalam perspektif tafsir Qurani, hukum Islam, tasawwuf, dan pendidikan Islam. Secara lebih spesifik tema-tema tersebut memiliki kesesuaian dalam konteks pengembanagan keilmuan, khususnya di Perguruan Tinggi Keagamaan Islam.

Dr. Masykur Wahid mengangkat tema tentang “Reviving Religious Moderation for World Peace from the Religious Moderation House in Indonesia”. Secara ringkas tema ini menjelaskan kontribusi pendirian rumah moderasi beragama di PTKIN untuk menebar pemikiran dan gerakan moderasi beragama di Nusantara. Dilatarbelangi adanya fenomena ancaman agama ketika dipandang hanya secara formal dan ritual belaka. Juga, adanya eksklusivisme dan ekstremisme yg cepat menyebar, seperti di medsos orang mudah kafir mengafirkan orang lain sebab hanya beda sudut pandang. Pemikiran mengenai AKTOR RAMA (adil seimbang, toleransi, kerjasama, rahmat dan maslahat). Gerakan menegakkan KATA (kebangsaan, anti-kekerasan, toleransi dan akomodatif kebudayaan lokal). Pemikiran dan gerakan moderasi beragama itu akar mewujudkan perdamaian dunia yg harmoni dg menempatkannya di dalam masyarakat multikultur dengan dialog dan rekognisi sosial.

Dari perspektif keilmuan Islam ushuliddin tema yang disampaikan berhubungan dengan kajian tasawuf yaitu, pertama Dr. Sholahuddin Al Ayubi menyajikan tema tentang “Ijazah and Magic Science and Transmission Study of the Tradition of Ijazah in Santri at the Pesantren Salafiyah Islamic Boarding School Banten. Makalah ini menjelaskan bahwa dalam kehidupan serba modern masih dan tetap berlangsung pengijazahan ilmu ilmu magis di Banten, padahal di Banten ada fatwa ulama tahun 2009 yang mengharamkan seni debus yang di dalamnya ada unsur unsur ijazah ilmu magis yang bersifat istidraz. Namun fatwa ini juga ditentang banyak oleh masyarakat. Kedua, Ade Fakih Kurniawan mengangkat tema tentang “Praying through the Saint’s Hand; Discursive Tradition of the Wawacan Seh Ritual in Banten”. Dalam makalah ini menjelaskan tentang tradisi wawacan seh di Banten. Ada tiga aspek yang coba ia jelaskan mengenai tradisi ini, yakni pertama, awal pembentukan tradisi dan negosiasi kulturalnya. Kedua, vernakularisasi teks dan proses intersesionari teks wawacan. Dan ketiga, ketiga, diskursus tradisi ini di Banten.

Dari perspektif Tafsir Dr. Andi Rosa menyampaikan tema tentang “Islamic Epistemology in Quranic Interpretation; Quraish Shihab’s View on Hermeneutics and His Practics of Tahlili Method in Quranic Tafsir. Sementara dari perspektif keilmuan hokum Islam Dr. Dedy Sunardi mengangkat tema “tentang the harmonitation between the regulation of financial service authority and the fatwa of the national sharia council dealing with sharia banking in relation to the principle of legal assurance. Makalah ini menjelaskan tentang kedudukan Fatwa DSn dan peraturan OJK yang mengatur Perbankan syariah.

Sedangkan tema dalam bidang pendidikan Islam disampaikan oleh Dr. Naf’an Tarihoran dan Dr. Ali Muhtarom. Adapun Dr. Naf’an Tarihoran menyampaikan tema presentasi yang berjudul “Pre-service Teachers’Perspection on Online Learning in Islamic University during Coronavirus. Paper ini menjelaskan tentang. persepsi mahasiswa pendidikan Guru (tarbiyah) tentang pembelajaran daring (online) selama masa pandemik Covid-19. Pembelajaran daring memerlukan tidak hanya ketersediaan sarana dan daya dukung, tetapi juga kesediaan sumberdaya guru yang kompeten baik dalam mengajar maupun menyiapkan materi ajar.

Sementara Dr. Ali Muhtarom menyampaikan makalah tentang kontestasi kelembagaan pendidikan dalam perspektif gerakan dan ideologi keislaman transnasional yang secara khusus dikaitkan dengan keberadaan lembaga pendidikan Salafi dan Syiah di Indonesia. Makalah yang disampaikan tersebut secara khusus, selain mendalami persaingan dari masing-masing kelembagaan Salafi dan Syiah serta berbagai jaringannya, juga didalami karakteristik bentuk ideologi yang muncul dari masing-masing lembaga yang bersifat transnasional tersebut. Adapun judul makalah tersebut adalah “Salafi-Shia Ideological Contestation in Education: Transnationalization, Development and Network in Shaping Islamic Discourses in Indonesia. (am/alt)