Anggota Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Cilegon mengamankan jeriken berisi tuak saat razia yustisi, Selasa (18/6).

CILEGON – Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Cilegon mengamankan tujuh pasangan belum nikah dan delapan jeriken tuak pada razia yustisi Kecamatan Jombang, Kota Cilegon, Selasa (18/6).

Dari tujuh pasangan belum menikah, dua pasangan ditemukan di Jombang Kali, sedangkan lima lainnya ditemukan di Sukmajaya. Sementara delapan jeriken ditemukan di Jombang Kali.

Operasi yustisi digelar sejak pukul 10 hingga pukul 11.30. Satpol PP membagi dua regu dalam operasi tersebut agar proses operasi bisa dilakukan dalam waktu yang bersamaan.

Radar Banten berkesempatan mengikuti penyisiran kontrakan-kontrakan tersebut di Masigit. Di sana, operasi yustisi dipimpin Kepala Seksi Penegakan Perda Satpol PP Kota Cilegon Chairul Hasan. di RT 02 RW 09, petugas menemukan delapan jerikan tuak di salah satu kontrakan. Minuman itu diketahui milik Beni, warga Sumatera.

Petugas langsung melakukan pendataan dan menyita KTP milik Beni, selanjutnya petugas mengingatkan yang bersangkutan untuk tak lagi menjual barang haram tersebut. Sedangkan barang bukti berupa delapan jeriken diamankan petugas ke kantor Satpol PP Kota Cilegon dimusnahkan.

Di 03 RW 09, petugas meneumkan dua pasangan yang tidak bisa menunjukan dokumen pernikahan berada dalam satu kontrakan dengan kondisi baru bangun tidur dan berpakaian cukup terbuka.

Salah satu pasangan mengaku telah menikah. Namun saat diminta dokumen kependudukan, pasangan tersebut hanya menikah siri sehingga tidak memiliki dokumen pernikahan. “Kami menyita KTP dan mendata warga yang belum memiliki identitas penduduk. Nanti untuk KTP diserahkan ke kecamatan dan kelurahan,” ujar Chairul usai operasi.

Seluruh pasangan belum menikah diminta petugas untuk datang ke masing-masing kelurahan untuk mengambil KTP dan memperingati agar tak kembali tinggal dalam satu kontrakan.

Beni, pemilik tuak, mengaku mendapatkan pasokan tuak dari Mancak, Kabupaten Serang. Dalam memasarkan minuman itu mengandalkan informasi dari mulut ke mulut dan tidak membuka toko. “Di kontrakan aja pak. Kadang ada yang diminum di sini, ada juga yang dibawa ke rumah,” papar Beni kepada wartawan.

Beni mengaku sudah enam tahun berjualan tuak di Kota Cilegon. Menurutnya peminat minuman tersebut cukup tinggi. Konsumenn berasal dari berbagai kalangan dan usia, ada dari pelajar ada juga yang telah dewasa. (Bayu Mulyana)