Tumbuh di Tengah Pandemi

0
458 views

Oleh Dr. H. Fadlullah, S.Ag., M.Si.

Kepala Lab. PGPAUD FKIP UNTIRTA

Saya tertegun dan miris saat membaca berita tragedi kemanusiaan di Kota Tangerang. Tanggal 26 Agustus 2020 lalu, seorang ibu tega melakukan tindakan kekerasan kepada anak kandungnya sendiri hingga tewas.

Ia kesal terhadap anak kelas I Sekolah Dasar itu lantaran susah mengikuti belajar daring. Ia membentak, mencubit, memukul dan menendang hingga sang anak lemas dan akhirnya meregang nyawa. Ia bersama suaminya membawa janazah korban ke Rangkasbitung Lebak untuk menghilangkan jejak dan menguburkan jasad korban lengkap dengan baju seragam.

Demikian isi berita tersebut. Seorang anak menjadi korban kekerasan orangtuanya sendiri hingga tewas karena kesulitan belajar daring.

Fenomena di atas harus menjadi perhatian pemangku kebijakan pendidikan khususnya Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota yang berwenang mengurus Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dan Pendidikan Dasar (SD/SMP) serta layanan pendidikan Nonformal dan Informal. Intinya Pemerintah daerah perlu mengeluarkan kebijakan pendidikan yang ramah terhadap anak dan memberikan kesempatan kepada anak untuk tumbuh berkembang secara wajar sesuai taraf perkembangan mereka. Memberikan pelatihan kepada guru sehingga memiliki kompetensi pedagogik yang mengarahkan anak tumbuh alamiah dengan menghargai perbedaan minat, bakat, dan kecerdasan mereka.

Pemerintah juga perlu memprioritaskan kebijakan pendidikan informal. Sudah lama Keluarga tidak menjalankan peran dan fungsinya sebagai lembaga pendidikan. Orangtua kehilangan daya sebagai pendidik utama di rumah. Karena selama ini semua diserahkan kepada sekolah. Pandemi menyadarkan kita untuk kembali menjadikan rumah sebagai pusat pendidikan dan ibu sebagai pendidik utama. Pemerintah bisa menghidupkan kembali program PKK dan layanan posyandu sebagai sarana penyuluhan tentang tumbuh kembang anak dengan prinsip silih asah, silih asuh, silih asih, dan silih wangi.

Kebijakan belajar dari rumah di masa Pandemi perlu penyesuaian kurikulum yang lebih berorientasi kepada pendidikan kecakapan hidup. Belajar dari rumah tidak boleh diartikan sebagai pemindahan kegiatan pembelajaran dari sekolah ke rumah. Anak diberi tugas belajar sesuai jadwal pelajaran seperti di sekolah. Anak dibebani berbagai muatan akademik yang berorientasi semata kognitif, seperti membaca, menulis, berhitung, dan mengerjakan rumus-rumus ilmu pengetahuan alam.

Sedangkan tugas bimbingan dan pengajaran yang seharusnya dilakukan guru dilakukan oleh orangtua yang tidak menguasai keterampilan pedagogik. Apalagi melibatkan penggunaan media pembelajaran daring yang tidak dikuasai oleh orang tua maupun anak didik. Lebih dari itu, orangtua mulai stres, kesal, dan marah, karena proses pendidikan didasarkan pada semangat persaingan agar anak mereka menjadi “competen child” atau menjadi “yang terbaik” dari teman-temannya tanpa memperhatikan ragam kecerdasan. Korban dari ambisi orang dewasa yang keliru ini adalah anak.

Kebijakan belajar dari rumah tidak hanya soal perpindahan tempat belajar. Kebijakan belajar dari rumah harus disertai dengan penyesuaian kurikulum yang meliputi isi, proses, dan evaluasi keberhasilan pembelajaran. Isi kurikulum harus kontekstual dengan kehidupan nyata, termasuk merespon kemungkinan resesi ekonomi akibat Pandemi. Proses pembelajaran berbasis proyek berbasis keunggulan lokal. Sedangkan evaluasi keberhasilan pembelajaran disesuaikan dengan kecakapan mengurus diri sendiri, menolong orang lain, dan bekerja membantu ekonomi keluarga pada masa Pandemi. Dengan demikian kegiatan belajar dari rumah mendukung proses kreatif, keakraban keluarga, serta pemenuhan cinta dan kasih sayang.

Kembali kepada kasus di atas. Kita tidak bisa memvonis salah semata-mata kepada keluarga korban. Kita juga berempati dengan kesulitan hidup yang menimpa keluarga akibat Pandemi. Kesulitan itu menimbulkan stres sehingga kehilangan kendali dan bertindak impulsif. Tidak jarang agresi menjadi pilihan saat galau dan yang menjadi korban adalah anak yang lemah. Sekali lagi, kebijakan belajar dari rumah seharusnya menjadi berkah yang mendekatkan anak kepada keluarga. Menjadi momentum untuk mewujudkan cita keluarga sakinah. “Rumahku surga bagiku!”

Meskipun dalam situasi Pandemi, berilah kesempatan anak tumbuh secara alami, belajar, bermain, dan berkreasi sesuai taraf perkembangan mereka.Wallahu a’lam (*)