Tumbuhkan Jiwa Nasionalisme Dengan Pendekatan Budaya

0
632 views

SERANG – Menumbuhkan jiwa nasionalisme dan bela negara tidak harus hanya dengan angkat senjata, tapi juga bisa dengan pendekatan kebudayaan. Kebudayaan khas daerah yang diwariskan oleh leluhur dan menjadi identitas negara Indonesia.

Pejabat Kantor Pertahanan Kementrian Pertahanan Kolonel Czi Aby Ismawan menjelaskan, contoh salah satu pendekatan kebudayaan yang bisa menumbuhkan jiwa nasionalisme adalah dengan mencintai kuliner khas daerah yang menjadi warisan kebudayaan dari masa ke masa.

“Kita sebagai warga negara harus mencintai budaya kita sendiri, salah satunya kuliner atau masakan daerah. Karena dengan makana yang sehat, Indonesia jadi kuat, dan generasi muda kita tidak diracuni dengan makanan yang serba instan,” ujarnya, Kamis (8/12).

Atas dasar itu, Kantor Pertahanan Kemenhan Provinsi Banten menggelar festival kuliner khas daerah, di Mako Bataliyon Infanteri 320/Badak Putih Pandeglang. Dengan kemasan festival, Kantor Pertahanan Kemenhan Banten mengampanyekan nilai-nilai bela negara dan nasionalisme kepada masyarakat.

Event ini diikuti 30 kelompok peserta dari unsur penggerak PKK, Persatuan istri tentara (Persit) dan masyarakat Pandeglang.

Kolonel Aby menuturkan, festival kuliner ini sebagai salah satu bentuk implementasi nilai-nilai bela negara. Apalagi, Indonesia, khusunya wilayah Banten, kaya akan potensi kuliner yang diwariskan secara turun temurun. “Bela negara tidak harus dengan angkat senjata. Tapi bisa ditanamkan melalui budaya. Salah satunya kuliner daerah ini,” ujar Kolonel Aby kembali menegaskan.

Pihaknya yakin, dengan semakin mencintai budaya sendiri, masyarakat akan semakin mencintai bangsanya. Dengan itu, secara otomatis, nilai-nilai nasionalisme akan tumbuh. “Kalau nilai nasionalisme sudah tumbuh, kita tidak perlu khawatir dengan ancaman dari negeri luar. Dan ini yang membuat bangsa kita semakin kuat dan bermartabat,” katanya.

Ia berharap, masyarakat lebih peka rongrongan pihak asing melalui masakan yang serba instan. Sebab, lambat laun, masakan instan dari negeri luar bisa menghilangkan keberagaman kuliner yang ada di daerah-daerah. “Secara tidak langsung, masakan instans yang dipasarkan membuat kuliner kita hilang. Tidak jarang, makanan instan juga menyebabkan masyarakat berfikir serba instans. Ini yang perlu kita jaga dan waspadai,” katanya. (Bayu)