Tunjungteja Bakal Jadi Kawasan Industri

Salah satu kawasan industri di Kabupaten Serang. Foto : bantenprov.go.id

SERANG – Pemkab Serang bersama DPRD Kabupaten Serang membahas revisi rencana tata ruang dan wilayah (RTRW). Terjadi perubahan RTRW di beberapa wilayah. Salah satunya Kecamatan Tunjungteja yang diproyeksikan menjadi kawasan permukiman dan industri.

Sekretaris Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Serang Muhammad Hanafiah mengungkapkan, beberapa wilayah di Kabupaten Serang akan terjadi perubahan RTRW. Menurutnya, ada dua faktor yang mengubah RTRW. Yakni, penetapan lahan pertanian pangan berkelanjutan (LP2B) dan dampak pembangunan tol.

Katanya, pembangunan Tol Serang-Panimbang akan berdampak perubahan RTRW di beberapa kecamatan. Di antaranya Kecamatan Tunjungteja dan Cikeusal yang menjadi lokasi exit tol. “Karena itu, Kecamatan Tunjungteja diproyeksikan menjadi kawasan permukiman dan industri. Sementara Cikeusal menjadi kawasan permukiman,” ungkap pria yang akrab disapa Hanafi itu kepada Radar Banten di ruang kerjanya, Jalan Samaun Bakrie, Kota serang, Rabu (7/8).

Alasan Kecamatan Tunjungteja diproyeksikan menjadi kawasan industri dan permukiman, dijelaskan Hanafi, selain menjadi lokasi exit tol Serang-Panimbang, juga dipicu adanya pembangunan tempat pembuangan sampah akhir (TPSA). Berdasarkan rekomendasi tim ahli yang diterima Hanafi, TPSA harus berada di wilayah industri. “Kalau TPSA di wilayah permukiman, enggak bakal ada orang yang mau tinggal di situ,” jelasnya.

Setelah RTRW Kecamatan Tunjungteja ditetapkan sebagai kawasan industri, kata Hanafi, wilayah selanjutnya akan dijadikan kawasan aneka industri, seperti di Kecamatan Cikande, Jawilan, dan Kecamatan Kopo. TPSA Bojongmenteng juga akan ditetapkan sebagai industri sampah. “Jadi, bukan seperti di Bojonegara dan Puloampel, karena butuh infrastruktur lalu lintas perairan seperti laut. Kalau di Tunjungteja, kita arahkan aneka industri,” terangnya.

Pihaknya sudah melakukan konsultasi publik kepada masyarakat terkait rencana perubahan RTRW di Kecamatan Tunjungteja. Sesuai standar operasional prosedur (SOP) penyusunan RTRW, konsultasi publik dilakukan minimal dua kali. “Kita sudah lakukan dua kali konsultasi publik tahun kemarin,” ungkapnya.

Untuk lahan LP2B, pihaknya sudah menetapkan seluas 31.000 hektare. Lahan tidak boleh dialihfungsikan menjadi kawasan lainnya. “Boleh dialihfungsikan hanya untuk fasilitas umum saja, itu pun harus disediakan lahan penggantinya,” tandasnya.

Terpisah, Camat Tunjungteja Kusyaman menyambut baik revisi RTRW wilayahnya. Menurut Kusyaman, dijadikannya Kecamatan Tunjungteja sebagai kawasan industri akan membuka lapangan kerja bagi masyarakat. “Tinggal ke depan penyiapan SDM (sumber daya manusia)-nya saja agar tidak kalah saing dengan pendatang,” katanya.

Kusyaman tidak menampik perubahan RTRW akan menuai pro dan kontra di masyarakat. Oleh karena itu, pihaknya meminta perubahan RTRW disosialisasikan kepada masyarakat. “Kalau pandangan kami, akan lebih baik dibanding menjadi kawasan pertanian dan peternakan,” pungkasnya. (jek/zai/ira)