Ilustrasi

Sudah menjadi kewajiban sebagai seorang suami untuk bekerja dan menafkahi kehidupan keluarga. Sang istri berkewajiban mengurusi anak-anak serta mengelola keuangan keluarga. Namun di balik kewajibannya, tentu sebagai kepala keluarga juga memiliki hak di setiap penghasilannya, baik untuk kebutuhan pribadi dan anak-anaknya.

Tidak halnya dengan Udin (49), bukan nama sebenarnya. Ia harus menerima ketika hak dari hasil jerih payahnya bekerja di rampas istri. Kok bisa?

Ada pepatah bilang kalau uang suami adalah uang istri dan uang istri tetap milik istri. Ya, seolah pepatah ini sesuai dengan yang dirasakan Udin. Dengan profesinya sebagai buruh harian lepas yang mendapatkan uang penghasilan setiap hari, ia harus rajin setoran setiap harinya pada sang istri, sebut saja Siti (43), bukan nama sebenarnya.

“Kalau nggak ngasih, pasti semua kantong dan dompet diperiksa,” katanya.

Dengan karakter Siti yang terkenal galak dan bawel, membuat Udin harus menahan kesal setelah seharian lelah bekerja. Ketimbang melawan dan protes ini itu dan ujung-ujungnya ribut, Udin memilih legowo dan memaklumi sifat istri yang ia nikahi 23 tahun lalu. “Mungkin sifatnya memang begitu, ya mau diapakan lagi,” Udin pasrah.

Meski memaklumi sifat istrinya, secara perlahan Udin mulai membandel dan berani menyelipkan sebagian uangnya. Sebagai lelaki perokok, tentu Udin dituntut selalu memiliki uang. “Mulai dari kantong kecil di dompet, celana dalam, dan kaos kaki,” katanya sambil tertawa. Ya iyalah, namanya juga manusia kan punya keinginan beli sesuatu untuk kebutuhan pribadi.

Namun tidak jarang, perilaku Udin yang menyelipkan sebagian uangnya ini ketahuan dan juga ikut diambil oleh Siti. Mau tidak mau, Udin pun harus menerima risiko akibat dari ulahnya menyelipkan uang. “Akhirnya istri ngomel dan galak. Bahkan diam seharian,” terangnya.

Selain karena sifatnya yang bawel, perilaku Siti yang sering menagih uang penghasilan ini buntut dari ketidakpercayaannya pada Udin yang memiliki masalalu dengan perilaku yang buruk. Selain itu faktor ekonomi jadi alasan utama perilaku Siti yang tegas terhadap uang setoran suami. Mengingat Udin dan Siti telah memiliki tiga buah hati, Resti (22), Jaya (18), dan Puput (8), bukan nama sebenarnya yang harus dicukupi kebutuhan sehari-harinya.

Siapa sangka berkat perilaku Siti yang rajin merampas penghasilan Udin, secara bertahap kini Udin sudah mulai membangun rumah miliknya sendiri untuk tempat tinggal keluarga kecilnya. Karena sebelumnya, Udin dan Siti masih numpang tinggal di rumah mertua.

”Meski rumah dibangun dengan modal gali lobang simpan uang bayar hutang, tapi bersyukur bisa diselesaikan sesuai tempo berkat uang yang disimpan istri,” tuturnya.

Hmmm, memang menjadi istri harus pintar mengatur segalanya, terutama soal uang. Dan sebagai suami pun harus sadar dan tahu betul penghasilannya bisa mencukupi kehidupan keluarga atau tidak. Ini mengingat tiap tahun harga kebutuhan ekonomi meningkat. Apa salahnya bekerjasama sebagai suami istri dalam membangun rumah tangga yang diimpikan dengan cara yang baik, jujur dan saling terbuka tanpa ada istilah suami takut istri. Iya kan? (wivy-zetizen/zee)