Ilustrasi: Pixabay

Bukan sekali dua kali Mumun (47) nama samaran menasihati, tetapi bagai masuk kuping kiri keluar kuping kanan, Joko (51) bukan nama sebenarnya tak pernah mendengarkan. Uang warisan yang dijanjikan untuk membuka usaha malah dipakai foya-foya. Sampai suatu ketika, sang suami mulai berulah menjalin hubungan dengan wanita kampung sebelah. Oalah.

“Kalau tahu bakal begini jadinya, mending dulu tanah ini enggak dijual. Saya merasa ditipu, Kang!” curhat Mumun. Ya ampun, sabar ya Teh!

“Sudah sabar banget saya, Kang. Waktu itu usia saya 30 tahun dan Kang Joko 34 tahun, duh, rasanya pedih,” ungkapnya.

Mumun anak pertama dari tiga bersaudara. Kedua adiknya masih sekolah SMA dan yang paling kecil SMP. Sebagai anak tertua, Munah memiliki peran besar dalam keluarga. Tak jarang, meski wanita, ia kerap diajak bermusyawarah dalam menentukan keputusan dalam keluarga. Termasuk penjualan tanah warisan.

Kalau berbicara wajah sih relatiflah ya. Mumun memang tidak terlalu cantik, tetapi setidaknya dengan penampilan menarik, ia mampu membuat lelaki mudah terpesona. Apalagi lekuk tubuhnya yang sangat menggoda. Pokoknya, siapa pun tidak akan bisa berkedip saat melihatnya.

Lain Mumun lain pula dengan Joko. Lelaki bertubuh kekar tinggi itu terlahir dari keluarga miskin. Ayahnya hanya petani biasa, ibunya tak bekerja. Meski sama-sama anak pertama, Joko dan Mumun memiliki karakter berbeda. Sejak muda, Joko tak mau bekerja, apalagi kalau diminta berdagang. Bisa dibilang ia orang yang gengsian. Sebenarnya mau, tapi karena malu, Joko lebih memilih menikmati kekurangan.

Namun, Joko termasuk lelaki yang tampan. Di mata orang-orang, ia juga terkenal sopan dan sederhana. Meski penampilannya biasa saja, kalau sudah diajak ngobrol berdua, wanita akan mudah hanyut terbawa ucapannya. Maklumlah, Joko juga lelaki yang humoris alias pandai melucu.

Singkat cerita, entah bagaimana awalnya, Joko dan Mumun menjalin asmara. Saat itu ekonomi keluarga sang wanita sedang meningkat. Jadilah Mumun selalu mengeluarkan banyak pengorbanan. Waduh, dimanfaatin gitu Teh?

“Enggak juga sih, Kang. Pas lagi pacaran mah dianya juga enggak macem-macem, dulu saya sih oke-oke aja ngeluarin uang buat makan dan lain-lain. Ya namanya juga sudah sayang,” ungkap Mumun.

Setahun lebih menjalin kisah asmara, keduanya mengaku siap menikah. Lantaran keluarga Mumun yang sederhana dan tidak menilai orang dari harta, Joko pun dengan mudah diterima. Pernikahan berlangung meriah. Para tamu undangan turut memberi kebahagiaan bagi Munah dan Joko yang resmi menjadi sepasang suami-istri.

Di awal pernikahan, Joko menjadi suami yang perhatian. Meski belum punya pekerjaan, setidaknya ia mampu memberi kenyamanan untuk sang istri tercinta. Setahun kemudian, lahirlah anak pertama, membuat hubungan mereka semakin mesra. Pokoknya, rumah tangga mereka diselimuti awan kebahagiaan.

Namun, memang benar kata pepatah, semakin tinggi sebuah pohon, semakin besar angin menerpa. Kehidupan Joko yang semakin hari semakin meningkat berkat uang penjualan tanah keluarga sang istri, membuatnya lupa diri. Cinta yang dibangun bersama, harus tergores hanya gara-gara tergoda wanita tetangga desa.

Seperti diceritakan Mumun, saat itu, semenjak ayahnya meninggal, kebun di belakang rumah milik keluarga tidak ada yang menggarap. Entah bagaimana awalnya, ia menyetujui saran sang suami menjual tanah warisan satu-satunya itu. Ekonomi pun meningkat. Aih, kok bisa dijual sih Teh?

“Ya dulu sih bilangnya uang itu mau diputar buat bisnis. Tapi setelah terjual, jangankan bisnis, kerja saja enggak dia,” kata Mumun.

Ternyata, diam-diam Mumun mengetahui tingkah sang suami. Ya namanya juga wanita, ia punya mata-mata yang tak lain teman yang tinggal dekat perempuan selingkuhan sang suami. Baru merasakan hidup mapan, Joko lupa daratan. Parahnya, saat itu sang anak tengah sakit bahkan sampai dirawat seminggu. Namun bagai anak tak punya ayah, Joko tak menampakkan batang hidungnya. Waduh, kebangetan banget sih Teh Kang Joko!

“Dia itu bikin malu saya, mending selingkuhnya sama wanita yang masih sendiri. Ini mah sama perempuan bersuami. Punya banyak uang, dia malah sering kalayaban,” tukas Mumun geram.

Dengan emosi yang sudah tak terkendali, ketika Joko pulang pagi, Mumun langsung membantingi perabotan rumah. Piring, gelas, bakul sampai penanak nasi, hancur menjadi pelampias amarah. Weleh-weleh.

“Biar tahu rasa dia. Kaya dari uang orangtua saya, malah dipakai buat foya-foya dan selingkuh!” kata Mumun.

Saking marahnya, detik itu juga, Mumun meminta percerian. Sontak Joko terdiam, ia berdiri lesu di ambang pintu dengan penyesalannya. Ia pun pergi dan tinggal di sebuah kontrakan kecil tak jauh dari kampung sang istri. Masak-masak sendiri, makan juga sendiri, Joko tak henti-henti menitikkan air mata.

Sabar ya Teh Munah, semoga mendapat jodoh yang jauh lebih baik. Amin. (daru-zetizen/zee/ags)