Uji Coba Tiket Online di Pelabuhan Merak Ricuh

0
136
Demo yang dilakukan Petruk di Kantong Parkir Dermaga Reguler Pelabuhan Merak, Jumat (17/4) dinihari.

ASDP Digeruduk Petruk, Penyeberangan Tersendat 5 Jam

CILEGON – Uji coba pemberlakuan tiket online di Pelabuhan Merak mulai diterapkan, Kamis (16/4). Rencananya, penyeberangan Merak ke Bakauheni dan sebaliknya akan menerapkan sistem pembelian tiket online efektif mulai 1 Mei 2020.

Pada masa uji coba tersebut, para Pengurus Jasa Penyeberangan Truk (Petruk) menolak sistem pembelian tiket online. Sebab, dinilai merugikan para Petruk. Protes dilakukan terhadap PT Angkutan Sungai Danau dan Penyeberangan (ASDP) Indonesia Ferry, pengurus dan ratusan sopir truk melakukan aksi demo di Pelabuhan Merak. Kamis (16/4) malam.

Demo dilakukan di kantung parkir dermaga reguler mulai sekira pukul 20.30 WIB. Akibatnya dermaga reguler yang terdiri dari dermaga I, II, III, V, dan VII ditutup dan tidak melayani penyeberangan. Akibatnya antrean kendaraan yang hendak menyeberang mengular sekira dua kilometer sebelum Pelabuhan Merak. 

Pada pukul 21.30 WIB, General Manajer PT ASDP Indonesia Ferry didampingi Kapolres Cilegon melakukan mediasi dengan perwakilan Petruk. Mediasi selesai Jumat (17/4) sekitar pukul 01.00 WIB. Ratusan petruk membubarkan diri sekitar pukul 01.30 WIB.

Salah seorang pengurus truk, Febri mengatakan, pihaknya sangat keberatan dengan diberlakukan kebijakan PT ASDP Indonesia Ferry terkait sistem tiket online tersebut. Ini lantaran, pengoperasian sistem dirasa membingungkan para sopir yang sebagian besar belum memiliki telepon genggam jenis android.

“Registrasi pembayaran dan lainnya sekarang logikanya online itu harus masukan email. Ini yang jadi persoalan pengguna jasa. Selain itu diwajibkan mempunyai email, dan yang berikutnya mempunyai HP android kan tidak semua supir punya. Adapun kalau misalkan banyak yang datang tidak mungkin langsung dilayani,” ujarnya saat dikonfirmasi. 

Febri mengungkapkan, dibandingkan dengan sistem manual pembelian tiket dengan sistem online diketahui memakan waktu yang cukup lama. Hal tersebut bisa mengakibatkan antrean yang panjang dan keterlambatan kendaraan untuk memasuki kapal.

“Penumpang ini bukan satu atau dua yang datang bisa mencapai ratusan bahkan ribuan yang datang, online itu bisa mencapai setengah jam. Kalau manual malah lebih cepat bisa mencapai tiga sampai lima menit hanya beli uang elektroniknya saja atau top up e-Toll,” ungkapnya.

Ia berharap agar kebijakan pembelian tiket menggunakan sistem online tersebut dapat di batalkan. Jika sampai diteruskan bisa menimbulkan masalah bagi para pengguna jasa penyebrangan di Pelabuhan Merak. 

“Kalau ada datanya langsung mah iya bisa lebih cepat ini kan datanya dimasukin ulang di ketik dari awal itu yang memakan waktu. Ketik manual melalui HP bukan komputer, kita maunya kembali ke awal lagi aja.” harapnya

Sementara saat dikonfirmasi awak media, General Manager (GM) PT ASDP Indonesia Ferry Cabang Merak, Hasan Lessy menegaskan, pihaknya akan tetap melaksanakan pemberlakuan tiket online untuk penyeberangan di Pelabuhan Merak. 

“Artinya kondisi seperti itu (demo-red) dinamika lapangan pasti akan ada, kalau antrean itu sudah pasti ada, tidak mungkin tidak ada, namun kan kalau melihat sistem semua lengkap, kalau mungkin ada kekurangan ya kita evaluasi melakukan perbaikan,” tegasnya.

Saat disinggung terkait sosialisasi yang dilakukan oleh PT ASDP Indonesia ferry sebelum pemberlakun tiket online, Hasan mengungkapkan bahwa pihaknya sudah melakukan sosialisai sejak lama.

“Kalau sosialisasi dan edukasi ini kan sudah berjalan sekian lama, sudah sejak dari 2019, bahkan di angkutan lebaran pun tiket online ini sudah berjalan serta kami sudah menyiapkan customer service pembelian di dua titik yakni di sekitar Gerbang Tol Merak dan di SPBU Gerem, artinya kalau ada orang yang tidak paham tansaksi online ya bisa transaksi di dua titik itu,” tandasnya. (bry/air)