Uji Nyali di Jembatan Cisauk, Bergetar Tiap Truk Melintas

Lebar Jembatan Cisauk yang sempit membuat kendaraan yang melintas berjalan perlahan, Minggu (5/8). Jembatan tua ini menjadi alternatif pengusaha truk pasir mengantarkan muatannya ke Kota Tangsel dan sekitarnya.

CISAUK – Mimik Anjar (52) terlihat resah saat armada truknya melintasi Jembatan Cisauk, Minggu (5/8). Jembatan yang membentang di atas Sungai Cisadane itu terasa bergetar saat truknya berada di tengah jembatan yang konstruksinya dibangun era kolonial Belanda. Getarannya pun makin terasa hebat saat truk beroda 12 yang dikemudikannya mencapai bibir jembatan. Seperti uji nyali saja. ”Derrrrrrtttttttttttt…. ngerasa nggak (getaran-red)?” tanyanya kepada wartawan Radar Banten yang diajak melewati lintasan tersebut.

Jembatan Cisauk ada dua jalur. Salah satu jalurnya dibangun sejak Belanda masih berkuasa. Sementara jalur yang lain, dibangun belum lama ini dengan konstruksi yang lebih kokoh. Jalur lama sendiri lebih sempit. Lebarnya tak kurang dari empat meter. Bahkan terlihat mepet. ”Kalau begini, kami harus lewat secara perlahan-lahan. Tak terperosok ke sungai,” katanya.

Di depan jalur sempit itu, seorang pria menghadang. Ia memberikan aba-aba layaknya tukang parkir. ”Terus-terus, oke sip,” teriak pria berprofesi pak ogah itu di ujung jembatan. Sebuah kardus sudah ditentengnya saat kendaraan mulai mendekat untuk meminta uang ala kadarnya.

Berbeda dengan kondisi jalur jembatan di sisi kanan. Bentuknya lebih lebar dan lancar. Anjar lalu melambatkan laju truknya. Setirnya diputarnya mengambil jalur sebaliknya. Tak ada getaran. ”Pertanyaan saya kenapa yang sudah tua kok masih dibiarkan,” katanya.

Pria bertubuh tambun ini merupakan juragan pasir di Desa Sampora, Cisauk. Setiap harinya, 10 truk membawa muatan pasir hilir mudik dari Rumpin, Kabupaten Tangerang menuju Kota Tangsel. Lebih parahnya, getaran menjadi lebih terasa saat terjadi antrean kendaraan. Karena posisi jembatan menjadi area para truk pasir dari Rumpin dan Gunungsindur, Kabupaten Bogor mengantarkan muatannya ke Tangerang.

Hal yang sama juga diungkapkan Ayong. Menurutnya, lebar jembatan itu sudah tak sesuai dengan lebar truk yang melintas. Sehingga ketika melintas, sopir truk harus hati-hati mengendarainya. “Ya harus pelan-pelan jalannya” kata salah satu pengusaha pasir bernama Koh Ayong kepada Radar Banten, kemarin (5/8).

Ayong mengatakan, banyak sopir truk yang kewalahan ketika harus melintasi jembatan tua tersebut. Kondisi jembatan yang sudah dimakan usia, tidak sepadan jika melihat perkembangan Kecamatan Cisauk maupun Kecamatan Serpong. ”Apa enggak malu ya. Kotanya sudah maju, jembatannya masih itu saja,” ujar Ayong.

Sayangnya, Dinas Bina Marga dan Sumber Daya Alam (DBMSDA) Kabupaten Tangerang tampak abai. “Kalau jembatan itu, bukan kewenangan kami. Tapi kewenangan Provinsi. Jadi coba saja tanya langsung ke Pemprov Banten” tandas Sekretaris DBMSDA Kabupaten Tangerang Iwan Firmansyah. (Umam/RBG)