Ujung Kulon Jadi Geopark

Eko Palmadi

SERANG – Taman Nasional Ujung Kulon di Kabupaten Pandeglang ditetapkan sebagai warisan geologi.

Hal itu tertuang dalam Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral RI Nomor 54 K/40/MEM/2020 tentang Penetapan Warisan Geologi (Geoheritage) Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten.

Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Banten Eko Palmadi mengaku menerima surat keputusan Menteri ESDM itu pekan lalu. “Tentu kami sangat menyambut baik,” ujar Eko, Selasa (24/3).

Eko menerangkan, Ujung Kulon telah dikenal secara internasional dan memiliki brand sebagai Taman Nasional, sehingga tidak sulit untuk mempopulerkan. Dengan begitu, ke depan mudah didorong menjadi Geopark Internasional. “Pandeglang mengambil lokasi ini dengan harapan dapat mengangkat perekonomian masyarakat di selatan, terutama di sektor pariwisata. karena saat ini pariwisata yang menjadi andalan Pandeglang sedang terpuruk pasca tsunami,” tuturnya.

Ia menguraikan, geopark adalah taman bumi yang di dalamnya terdapat tiga pilar diversiti yaitu geodiversiti, biodiversiti, dan culturdiversiti.

Geodiversiti adalah semua hal yang menggambarkan kegeologian di dalam geopark tersebut seperti batuan, mineral, bentang alam, dan struktur geologi. Sedangkan biodiversiti yakni semua hal yang bersifat biologi, seperti tumbuhan dan binatang.

Sementara, culturdiversiti adalah budaya seperti rumah adat, tarian, dan cultur lain dari masyarakat di sekitar lokasi geopark.

Katanya, penetapan Geopark Ujung Kulon akan semakin menarik pengunjung untuk datang. “Geopark Ujung Kulon memang sudah kita siapkan dari waktu sebelumnya bersama dengan Geopark Lebak, dengan berbagai survei geologi yang telah dilaksanakan sebagai persiapan dengan bekerjasama antara Dinas ESDM dengan Fakultas Geologi Unpad,” terang Eko.

Ia mengatakan, lokasi ini cukup strategis karena akses jalan sudah dibangun Gubernur Banten Wahidin Halim dengan baik ditambah dengan akses Tol Panimbang yang akan mempersingkat waktu perjalanan pengunjung. Apabila dibandingkan dengan Geopark Ciletuh di Sukabumi, maka akses ke Ujung Kulon lebih mudah. Sebagai gambaran, Ciletuh dari daerah yang nol pengunjung sekarang memiliki target sampai dengan 1,5 juta pengunjung dengan lokasi yang sulit diakses. “Jadi kita optimis Geopark Ujung Kulon akan dikunjungi lebih banyak orang. Kami berharap itu menjadi salah satu upaya kita membantu meningkatkan perekonomian Pandeglang yang tertinggal dari sektor pariwisata,” terang Eko.

Ia yakin ketika pembangunan Tol Serang-Panimbang rampung, maka sektor lain juga akan ikut bergerak. “Semoga dengan terlaksananya Geopark Ujung Kulon, ini akan semakin populer dan banyak lokasi menarik di Banten,” tuturnya. (nna/nda/ags)