Ilustrasi (Pixabay).

TANGERANG – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Tangerang menerjunkan tim untuk mengecek upaya pengelolaan lingkungan (UKL) dan upaya pemantauan lingkungan (UPL) pabrik tiner yang terbakar di Jalan Manis V Nomor 17 Kampung Cikoneng Girang RT 01, RW 03, Kelurahan Manisjaya, Kecamatan Jatiuwung, Jumat (17/11) sekira pukul 13.10 WIB. Akibat dari kebakaran ini, warga setempat trauma.

Trauma mendalam dirasakan langsung warga Jalan Cikoneng Girang RT 01, RW 03. Pasalnya, kampung padat penduduk itu berada di belakang pabrik tiner tersebut. Saat api melahap pabrik, warga mengungsi dengan membawa barang-barang berharga seperti surat rumah dan dokumen pribadi.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Tangerang Engkos Zarkasyi mengakui timnya sedang mengecek lokasi pabrik tiner tersebut. ”Tim sedang melakukan pengecekan. Saya belum dapat laporannya,” kata Engkos, Rabu (22/11).

Sementara, desakan warga Kampung Cikoneng Girang RT 01, RW 03, Kelurahan Manisjaya, Kecamatan Jatiuwung agar pabrik tiner milik PT Mustika Carana Laksana ditutup mendapat respons Walikota Tangerang Arief R Wismansyah.

Arief mengaku sudah memerintahkan Dinas Lingkungan Hidup dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) mengecek seluruh proses perizinan di pabrik nahas tersebut.

Pasal 36 ayat 1 UU Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup menyebutkan bahwa setiap usaha atau kegiatan wajib memiliki amdal atau UKL dan UPL wajib memiliki izin lingkungan.

”Saya sudah perintahkan, apakah layak dan sebagainya. Ini kan musibah karena petir ya. Yang namanya kebakaran, jangankan di situ, koran aja bisa kebakaran,” kata Arief.

Arief menyatakan, pendirian pabrik di Kampung Cikoneng Jatiuwung sudah sesuai Perda Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Tangerang. ”Kan bukan saya yang ngeluarin izin. Kalau sudah keluar izin, pasti sesuai perda. Jadi kita lihatlah nanti,” ujarnya.

Menurut Arief, Pemkot Tangerang gencar melakukan sosialisasi mengenai bahaya kebakaran di kawasan pabrik atau industri. Ia juga meminta jajarannya untuk mengecek pengamanan dalam mengantisipasi dan meminimalisasi ancaman kebakaran di lokasi pabrik.

”Alasan kena petir, oke musibah. Tapi kalau ada penangkal petir harusnya bisa diminimalisasi. Begitu sebenarnya, jadi enggak ada alasan. Pengamanan untuk mengantisipasi kebakaran harus tersedia secara komprehensif,” pungkasnya.

Diketahui, warga berpendapat bahwa pabrik tiner sudah semestinya hengkang dari wilayah mereka. ”Kami sangat tidak nyaman kalau sudah begini. Bukan tidak mungkin peristiwa sama akan terjadi lagi di kemudian hari. Kami berharap supaya pabrik dipindahkan dari sini,” tegas Jariyati yang diamini Sri Murniati, warga setempat.

Sementara puluhan kontrakan milik Solihin mengalami rusak ringan akibat tertimpa drum berukuran 200 liter. Drum jumbo itu sempat terbang karena kerasnya ledakan hingga jatuh di atas atap rumah warga. Hampir semua warga mengosongkan rumahnya dan mengeluarkan seluruh barang-barang rumah tangga agar tidak ikut dilahap si jago merah. (mg-05/dai/sub)