Ulama Akan Layangkan 11 Hal Hasil Mudzakarah di Banten ke PBB dan Vatikan

0
80

SERANG –  Para ulama yang hadir pada mudzakarah, di Banten Lama, Kecamatan Kasemen, Kota Serang, ingin berdialog langsung dengan kekuatan terbesar di dunia, yakni Perserikatan Bangsa-bangsa dan Vatikan.

Pada kegiatan mudzakarah tersebut tercipta sebelas poin hasil musyawarah. Poin-poin yang disepakati itu, akan dilayangkan kepada PBB dan Vatikan.

Ketua I Ahlul Halil Wal ‘Aqdi Fathul Adhim Chatib mengatakan mudzakarah ini mempertemukan berbagai ulama, kiyai dan cendekiawan.

“Selain itu, disini mensosialisasikan keberadaan ulama Ahwa. Ulama yang punya kemampuan membuka dan mengurai, menjadi sebuah masalah dan kemudian mengerucutkan, menjadi sebuah aturan-aturan dan semuanya harus berdasarkan Qur’an dan Sunnah,” paparnya di Komplek Kesultanan Banten, Kecamatan Kasemen, Kota Serang, Senin (20/11).

Dikatakannya, target maupun pencapaian ingin berdialog bersama dua kekuatan besar dunia. Yaitu PBB dan  Vatikan.

“Kemudian nanti diterima atau tidak (Oleh PBB dan Vatikan) bukan urusan kami,” ujarnya.

Selain itu, ia berpesan umat Islam jangan sampai membentur-benturkan Islam dengan produk manusia. Menurutnya, menyandingkan dengan ideologi maupun sistem saja tidak boleh. “Ngga bakal sebanding. Islam itu bukan hasil pemikiran orang,” ujarnya.

Sultan Banten XVIII Ratu bagus Hendra Bambang Wisanggeni mengatakan pada intinya mudzakarah ini mengingatkan kembali untuk ditegakan kembali dinnul Islam. Berdasarkan aturan  Islam dan tata cara islam.

“karena saat ini harus kita akui sudah luntur,” ucap Bambang, di Komplek Kesultanan Banten, Kota Serang, Senin (20/11).

Dengan niat baik suci, kata dia, semoga dapat menciptakan ukhuwah islamiah. “Bukan kekerasan, bukan terorisme. Jadikan Banten berbudaya berkeadilan dan sejahtera,” tukasnya.

Berikut sebelas poin, Rekomendasi Peserta Mudzakarah Ulama, Zuama, dan Cendekia Muslim di Banten 18-20 November 2017 kepada Jam’iyyah Ahlul Hallu Wal Aqdi Al Alamiya.

1. Konsep pemikiran yang dihasilkan harus berlandaskan Al Qur’an dan Sunnah yang sahih.

2. Meminimalkan perbedaan dan memaksimalkan kesamaan di dalam persaudaraan. Perbedaan yang diperbolehkan adalah perbedaan yang alami dan dalam tingkat ilmu pengetahuan, sedangkan perbedaan yang dilarang bentuk taashuf (fanatisme golongan) dan tafarruq (memecah belah).

3. Tidak memusuhi umat di luar Islam namun diupayakan menjadikan mereka sebagai ladang amal soleh dalam proses menyongsong dalam tegaknya islam yang rahmatal alamin sepanjang tidak bertentangan dengan akidah dan syariah.

4. Membentengi generasi muda dari gaya hidup manusia yang hedonis, pragmatis dan sekuler dan menjadikan Al Qur’an sebagai proses pembelajaran, pemahaman dan pengalaman yang wajib bagi generasi Islam dimulai dari institusi keluarga, sekolah, pesantren dan jenjang pendidikan tingkat tinggi.

5. Pengelola lembaga pendidikan harus fokus pada target tujuan akademik dan tidak melakukan politik praktis sembari menjadikan masjid sebagai wadah pemersatu umat dalam bentuk merapatkan shaf salat berjamaah.

6. Memperjuangkan umat Islam di bidang ekonomi dan perbankan dari sistem ribawi serta menjauhi produk-produk yang diharamkan Allah Subhanahuwataala.

7. Keberadaan nabi sebagai utusan Allah bukan untuk menggantikan kepemimpinan gaya kerajaan maupun kepala negara, tapi lebih kepada membangun sistem khilafah ala minhajin nubuwwah yang membawa misi besar untuk memakmurkan bumi Allah dengan segala kompleksitas kehidupannya dengan manhaj siyasah yang berpijak kepada manhajin nubuwwah.

8. Perlunya membangun tansiq dengan bersinerginya kelompok-kelompok gerakan Islam yang dimulai dari ta’aruf, bersilaturahim, dan bermusyawarah sehingga menemukan formulasi tujuan dan meraih Islam rahmatalil alamin sembari mengantisipasi adanya paham-paham sesat yang mengilfiltrasi.

9. Fenomena gerakan kaum munafik yang sudah ada sejak zaman Rasulullah terus menunjukkan geliatnya bagaikan musuh dalam selimut, bagi umat Islam yang harus disikapi dengan tuntunan Qur’an dengan cara berpaling dari mereka sembari tetap menasihatinya dengan kata-kata yang tegas.

10. Membangun kesadaran umat Islam untuk mendukung bersimpati dan berempati terhadap permasalahan umat Islam serta berkorban dengan harta dan jiwa dalam rangka tegaknya izzul Islam Wal muslimin.

11. Perlu adanya pendekatan komunikasi dan koordinasi dengan pihak-pihak terkait di dalam upaya mewujudkan Islam yang rahmatalil alamin, berjamaah dan berimamah sesuai contoh rasulallah shalallahu alaihi wassalam dan Khulafaur Rasyidin almahdiyin. (Anton Sitompul/antonsutompul1504@gmail.com).