Ulama Karismatik Serukan Kerukunan dan Ketenteraman Jelang Pemilu 2019

0
366 views
KH Zainudin RH

SERANG – Masa kampanye Pemilu 2019 tidak dimungkiri terjadi perbedaan dalam masyarakat. Lantaran itu, Pondok pesantren (ponpes) diminta untuk ikut menjadi penengah di tengah perbedaan tersebut.

Keberadaan ponpes sebagai lembaga pendidikan yang memiliki akar sejarah, dinilai sangat penting dalam menjaga situasi kondusif masyarakat. “Kami berharap semua pondok pesantren menjaga kedamaian selama proses pemilu,” kata KH Zainudin RH, Pimpinan Ponpes Salafi Al Idrisyah, di kediamannya pada Sabtu (26/1).

Ponpes yang beralamat di Kelurahan Terumbu, Kecamatan Kasemen, Kota Serang, ini mendeklarasikan diri untuk menjaga situasi kondusif selama Pemilu 2019 berlangsung. Terlebih, sejak didirikan pada 2004, ponpes ini memiliki tujuan untuk membentuk generasi muda yang ber-akhlakul karimah.

Kiai Zainudin mengimbau seluruh masyarakat Banten agar menjaga situasi kondusif selama Pemilu 2019 berlangsung. Semua harus saling hormat-menghormati dalam perbedaan pilihan politik. “Nasib bangsa kita lebih utama. Apalagi, kita semua ini dididik dan berjuang untuk sama-sama mencintai Indonesia,” katanya.

Dirinya tidak memungkiri selama proses kampanye banyak beradar hoax dan ujaran kebencian. Karena itu, semua harus menahan diri untuk selalu mengecek informasi yang didapat. Jangan gampang menyebarkan informasi yang tidak jelas kebenarannya.

Banyak isu SARA hingga ujaran kebencian beredar di tengah masyarakat. “Untuk itu, peran ponpes dalam membentengi hal tersebut sangat dibutuhkan,” kata Kiai Zainudin.

Kiai Zainudin juga berharap, ponpes yang memiliki peranan dan posisi strategis dalam pembangunan moral mampu turut serta dalam menjaga kerukunan antarumat. Dengan begitu, tidak ada lagi isu SARA yang mampu memecah belah umat. “Kita semua harus menjaga persatuan dan kesatuan karena persatuan bangsa ini lebih utama,” ujarnya.

Dengan mengedepankan pola pembelajaran ala ponpes salafi atau tradisional, kata Kiai Zainudin, ponpes yang didirikannya menampung santri-santri dari berbagai daerah yang tidak mampu. Sedari dini, para santri juga diajarkan menjadi dai piawai dalam menyampaikan tausiyah yang menarik. “Kami ingin para santri menjadi ulama-ulama yang santun dalam berdakwah. Meneduhkan masyarakat dalam tausiahnya,” ujarnya.

Para santri juga diajarkan latihan pembelajaran silat Terumbu Banten. Kemampuan silat ini merupakan tradisi turun-temurun yang sudah diwariskan dari nenek moyang sebelumnya. “Meski kita belajar bela diri itu digunakan untuk melindungi diri, tapi dalam bermasyarakat harus tetap menjaga kedamaian,” ujar Kiai Zainudin. (ADVERTORIAL)