UMK Naik, Pabrik Hengkang

TANGERANG – Rencana kenaikan upah minimum kota/kabupaten tahun depan, harus disikapi serius dan bijaksana. Sebab, bukan tak mungkin imbasnya sejumlah pabrik akan hengkang dari Tangerang. Peringatan ini disampaikan Sekretaris Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) Kota Tangsel, Yakub Ismail.

“Kemungkinannya (hengkang-red) bisa saja terjadi, jika UMK naik tinggi,” kata Yakub yang dihubungi, Kamis (14/11).

Kalau ditanya jumlahnya berapa yang akan hengkang ke daerah lain, Yakub mengaku tak bisa pastikan. Tapi, yang jelas, banyak pengusaha menjerit atas besaran kenaikan UMK 2020. Sudah jadi hukum ekonomi, pengusaha akan berinvestasi di daerah yang UMK-nya lebih rendah. 

Bukan cuma hengkang, kenaikan UMK juga dapat menyebabkan industri menutup usahanya. Di Kota Tangsel saja, pabrik sekelas Sandratex dan Surya Siam Keramik sekarang sudah tutup. “Industri besar saja roboh, apalagi yang pengusaha modal pas-pasan,” singkatnya.

Diketahui, muncul dua rekomendasi di Kota Tangsel menyikapi rencana kenaikan UMK 2020. Apindo mengacu PP Nomor 78 Tahun 2015 dengan kenaikan UMK mencapai 8,51 persen sehingga usulan UMK Tangsel menjadi 4,1 juta. Sedangkan, rekomendasi kedua, dari serikat pekerja yang mengacu Permenaker Nomor 13 Tahun 2012 dengan kenaikan mencapai 10,91 persen sehingga menjadi Rp4,2 juta.

Wakil Walikota Tangsel Benyamin Davnie mengakui terkait rencana kenaikan UMK ada dua usulan. Namun, kata Benyamin, selisihnya di antara keduanya tidak terlalu besar. “Bila UMK tak selesai tingkat kota, nanti provinsi yang memutuskan. Tapi, biasanya diambil jalan tengah,” kata Benyamin usai membuka festival ragam budaya tujuh kecamatan di Mall Teras Kota, Kamis (14/11).

Dia berharap persoalan UMK diselesaikan secara musyawarah. Pengusaha memberikan penjelasan saat rapat dengan Dewan Pengupahan Kota (Depeko) terkait kesulitan yang dihadapi, misalnya penjualan maupun marketing. “Jadi, pemerintah bisa mengambil sikap untuk membantu menyelesaikan persoalan pengusaha. Kami tak ingin industri tutup,” tukasnya.

Sementara itu, Ketua Apindo Kota Tangerang Ismail mengatakan, jika kenaikan UMK mengikuti permintaan buruh yakni 12 persen akan berdampak pada perusahaan. Terlebih, saat ini kondisi perekonomian Indonesia sedang lesu.

“Saat ini sudah banyak perusahaan yang tidak kuat untuk mambayarkan UMK. Kalau tetap diberlakukan UMK seperti yang buruh mau, kemungkinan banyak pabrik yang akan pindah ke Boyolali, Brebes yang UMKnya masih rendah,” ungkapnya.

Meski demikian, Ismail mengaku belum bisa memperkirakan perusahaan yang berpotensi akan pindah ataupun yang melakukan upaya-upaya jika tuntutan buruh dipenuhi. “Mulai dari efisiensi pegawai, pindah perusahaan atau tindakan lainnya ada di internal perusahaan mereka masing-masing,” ujarnya. (you/one/asp)