UPH Gelar Startup Competition

Seluruh peserta UPH Startup Competition bersama para juri (tengah atas ke kanan) Ivan Tandyo (CEO Navanti) Wakil Rektor UPH bidang Marketing, External Cooperation, and Business Development Stephanie Riady, Vice President Junior Chamber International Andry Tejokusuma, dan (bawah tengah) Juri sekaligus Direktur UPH SPARKLABS INCUBATION Radityo Fajar. Foto: UPH

TANGERANG – Universitas Pelita Harapan (UPH) menggelar Startup Competition pada 26-28 November 2019 di UPH Kampus Lippo Village. Event ini untuk mendorong berkembangnya ide bisnis berbasis teknologi di lingkungan mahasiswa.

Direktur UPH SPARKLABS INCUBATION Radityo Fajar menjelaskan, Startup Competition yang pertama kali diadakan UPH ini merupakan kompetisi yang fokus pada proses membangun ide untuk menyelesaikan masalah penting di masyarakat. Kompetisi terbuka untuk seluruh mahasiswa dari beragam angkatan hingga alumni UPH. Tujuannya agar terjadi interaksi ide yang bisa dievaluasi dari beragam tingkatan, mulai dari ide yang masih fresh atau ide yang sudah dijalankan namun belum dieksekusi sepenuhnya.

Kompetisi bertema Dare to Take Risk and Fulfill Your Dream ini dilatarbelakangi fakta lapangan banyak calon pengusaha muda yang masih ragu. “Pada tahap pertama ini kami ingin mendorong keberanian mereka, karena tahapan pertama menjadi seorang entrepreneur sukses yaitu make decision untuk mencoba suatu business idea,” jelas Radityo.

Dalam proses penilaian melibatkan tim juri yang kompeten dari beragam bidang industri, yaitu industri pendidikan, CEO perusahaan multinasional, alumni yang sudah berhasil, dan internal inkubator.

Ivan Tandyo, CEO Navanti yang menjadi salah satu juri dalam kompetisi menuturkan, seorang yang ingin terjun ke dunia entrepreneurship terlebih dulu harus memiliki purpose hidup dari orang itu. Entrepreneurship tidak bisa dipaksakan tapi panggilan, kemudian juga perseverance. Kemudian dari teknisnya secara sederhana yaitu harus melihat marketnya. Di balik sebuah problem selalu ada solusi.

“Jadi ketika kita lihat ada problem berarti juga ada peluang. Barulah kita kembangkan menjadi bisnis. Menurut saya para peserta yang ikut kompetisi ini sudah memulai langkah pertama yang benar, ini yang penting. Apa yang UPH lakukan bersama Navanti ini, adalah sesuatu yang tidak bisa saya temukan dulu ketika saya mulai, dan ini hal yang sangat baik,” ungkap Ivan.

Faktor utama yang menjadi kriteria penilaian juri yaitu bagaimana ide yang dihasilkan mampu menjadi solusi bagi banyak orang. Kriteria lainnya mengikuti standar BMC atau Business Model Canvas. BMC ini mengukur siapa target marketnya, bagaimana kemungkinan revenue stream, sehingga ide ini bisa difokuskan untuk menjadi solusi dan sustainable, bukan fokus pada profitnya.

Kompetisi diikuti 31 peserta yang terbagi menjadi 5 kelompok dengan ide bisnis masing-masing. Kelima ide ini mencakup beragam bidang.
Setelah melewati proses penilaian, panitia mengumumkan ide bisnis yaitu ‘Tutoria’ sebagai juara pertama, yaitu ide bisnis untuk menjawab menghubungkan tutor dengan mahasiswa yang membutuhkan. Mata Nusa, juara kedua yang memiliki ide bisnis jasa konsultasi bagi pengusaha kelapa sawit. Lalang Team, juara ketiga, aplikasi untuk mewadahi kebutuhan lelang di Indonesia. Para pemenang pertama dan kedua mendapatkan hadiah. (aas)