Usaha Bumdes Tunas Mulya Terus Berkembang

TANGERANG – Desa Jatimulya merupakan salah satu dari enam desa di Kecamatan Sepatan Timur yang memiliki berbagai potensi usaha diberbagai bidang. Mulai dari panganan lokal seperti kripik singkong, opak dan usaha penjualan gas elpiji yang dikelola Badan Usaha Milik Desa (Bumdes) Tunas Mulya.

Pelaksana harian (Plh) Sekretaris Desa Jatimulya Mulyadi mengatakan, Bumdes Tunas Mulya dibentuk sejak akhir 2018 lalu, dan mulai berjalan di awal tahun ini. Hadirnya usaha Bumdes ini sekaligus upaya mencetak wirausaha di desa. “Hampir seluruh warga disini berwirausaha mulai dari pengusaha keripik singkong, opak hingga usaha warung. Kalau Bumdes Tunas Mulya menjual gas elpiji tiga kilogram yang sampai saat ini berjalan lancar,” katanya, saat ditemui di kantornya, Selasa (8/10).

Mulyadi menjelaskan, alasan memilih usaha gas elpiji lantaran menyesuaikan dengan kebutuhan masyarakat dimana pangsa pasarnya sudah ada dan pasti. “Sekarang kan gas elpiji sudah dipakai hampir semua rumah tangga untuk memasak, setiap harinya pasti ada yang membutuhkan. Maka itu, usahanya pasti terus jalan dan minim dari kerugian,” jelasnya.

Usaha tersebut, lanjut Mulyadi, berjalan dengan menggunakan dana APBDes 2019. Total anggarannya yakni sebesar Rp100 juta dan dijadikan sebagai modal awal. Mulai dari pengadaan tabung gas elpiji, kendaraan pengangkut, hingga kebutuhan sekretariat Bumdes Tunas Mulya. Saat ini totalnya ada 300 tabung gas yang dimiliki. Pemasarannya, dipasarkan ke warung-warung yang ada di desa.

Selain tabung gas, ke depan Bumdes Tunas Mulya Desa Jatimulya akan merangkul beberapa pengusaha home industri warga yang berkembang. Di antaranya usaha tempe, kripik singkong, keset dan lainnya. Nantinya para pengusaha tersebut akan dirangkul menjadi unit usaha di Bumdes sehingga bisa dibantu permodalan dan penjualannya.

Ketua Bumdes Tunas Mulya Teguh Widodo mengatakan, harga gas elpiji yang dijual Bumdes masih terbilang murah yakni hanya Rp18 ribu ke warung atau penjual. Sedangkan untuk penjualan langsung ke warga, mengikuti harga pasaran di warung-warung. “Kami ingin menjadi agen penyuplai, tetapi terkendala modal. Karena untuk menjadi agen minimal punya 600 tabung dengan modal sekira Rp150 juta,” tutupnya. (pem/rb/adm)