Viral, ‘Surat Cinta’ Kepala Sekolah untuk Orangtua Siswa

0
2.318 views
Potongan surat dari Kepala Sekolah SD Mutiara Persada, Bantul, Yogyakarta, Suwarsana (Istimewa)

SEORANG kepala sekolah di SD Mutiara Persada, Bantul, Yogyakarta, Suwarsana menulis surat terbuka kepada para orangtua. Surat tersebut kemudian menyebar menjadi viral di kalangan netizen. Surat tersebut berisi ajakan kepada para orangtua agar tidak menekan anak dan memaksakan kehendak pribadi kepada anak.

Orangtua zaman sekarang masih ada yang memaksakan rasa egois dan ambisi pribadi pada anak. Misalnya saja, seorang anak harus masuk jurusan IPA karena gengsinya lebih tinggi dan menjamin masuk universitas negeri. Selain itu, anak yang berasal dari keluarga dokter, juga diwajibkan harus menjadi dokter juga.

Surat dari Kepala Sekolah SD Mutiara Persada, Bantul, Yogyakarta, Suwarsana (Istimewa)

Dalam surat yang dibuat Suwarsana, isinya begitu menyentuh hati para orangtua. Sehingga mata dan hati pikiran orangtua bisa lebih terbuka bahwa anak memiliki hak untuk memilih. Ada beberapa bagian yang paling menyentuh dari isi surat tersebut, di antaranya.

“Bersama surat ini kami sampaikan bahwa, ujian anak Anda telah selesai. Saya tahu Anda cemas dan berharap anak Anda berhasil dalam ujiannya. Tapi mohon diingat, di tengah-tengah para pelajar yang menjalani ujian itu, ada calon seniman yang tidak perlu mengerti matematika. Ada calon pengusaha yang tidak butuh pelajaran sejarah atau sastra. Ada calon musisi yang nilai kimianya tidak akan berarti. Ada calon olahragawan yang lebih mementingkan fisik daripada fisika di sekolah. Ada calon fotografer yang lebih berkarakter dengan sudut pandang art berbeda yang tentunya ilmunya bukan dari sekolah ini”.

“Sekiranya anak Anda lulus menjadi yang teratas, hebat! Tapi bila tidak mohon jangan rampas rasa percaya diri dan harga diri mereka. Katakan saja “tidak apa-apa, itu hanya sekadar ujian. Anak-anak itu diciptakan untuk sesuatu yang lebih besar lagi dalam hidup ini. Katakan pada mereka tidak penting berapapun nilai ujian mereka, Anda mencintai mereka dan tak akan menghakimi mereka. Lakukanlah ini dan di saat itu, lihatlah anak Anda menaklukan dunia, sebuah ujian atau nilai terendah takkan mencabut impian dan bakat mereka. Dan mohon berhenti berpikir bahwa hanya dokter dan insinyur yang bahagia di dunia ini”.

Hal itu dibenarkan Psikolog Klinis, Analisa Widyaningrum. Dia membenarkan banyak anak sekarang kecil-kecil sudah mengalami stres karena tuntutan orangtua. Selama menjadi psikolog, Analisa juga menerima banyak pasien anak-anak atau pelajar yang merasa stres karena pendidikan yang terlalu keras.

Pengalaman lainnya, banyak pula pasiennya yang mengalami stres karena harus memenuhi tuntutan orangtua. Orangtua memaksakan kehendak anak harus masuk jurusan IPA atau kedokteran. Ada pula siswa asing yang stres di sekolah karena belum lancar berbahasa Indonesia.

“Berbagai macam anak yang datang mengalami stres karena pendidikan. Ini pekerjaan rumah kita bersama,” tegasnya. (cr1/JPG)