Wabah Covid-19 Adalah Ujian dan Rahmat Bagi Umat

0
7.185 views
Wari Syadeli M.Si

Makhluk 0,1 mikron (Corona Virus Disease 2019) membuka tabir kebesaran pencipta alam semesta Allah SWT di saat yang sama menunjukkan ketidakberdayaan, kelemahan manusia, tamparan bagi keangkuhan, kesombongan, individualitas. Sekaligus menjadi pengingat bagi manusia untuk berpikir kembali tentang siapa dirinya, untuk apa dia hidup dan kemana manusia setelah mati. Pandemi Covid-19 di dunia termasuk Indonesia seolah menjadi alat uji dalam segala aspek baik sistem kesehatan, tatanan sosial, ideologi, politik, negara, kekuasaan termasuk ujian akidah.

Eren Duzgun dalam jurnal yang dipublikasi socialistproject.ca menganggap pandemi Covid-19 sebagai “Godzilla Covid19” sebuah mimpi buruk jalan kepunahan jutaan orang. Penganalogian virus corona dengan godzilla menggambarkan persepsi seorang sosialis melihat wabah sebuah peristiwa menakutan, mematikan dan mengerikan. Dalam kata lain wabah bagi seorang yang tidak beriman dimaknai sebagai“azab”, berbeda dengan muslim memandang wabah sebagaimana yang diungkap oleh Nabi Muhammad Saw adalah sebuah “rahmat.” Dua sudut pandang yang berbeda antara seorang tak bertuhan (atheis) dan seorang muslim.

“Dari Siti Aisyah RA, ia berkata, ‘Ia bertanya kepada Rasulullah SAW perihal tha‘un (wabah), lalu Rasulullah SAW memberitahukanku, ‘zaman dulu tha’un adalah azab yang dikirimkan Allah kepada siapa saja yang dikehendaki oleh-Nya, tetapi Allah menjadikannya sebagai rahmat bagi orang beriman. Tiada seseorang yang sedang tertimpa tha’un, kemudian menahan diri di rumahnya dengan bersabar serta mengharapkan ridha Ilahi seraya menyadari bahwa tha’un tidak akan mengenainya selain karena telah menjadi ketentuan Allah untuknya, niscaya ia akan memperoleh ganjaran seperti pahala orang yang mati syahid,’’ (HR Ahmad).

Seorang muslim hendaknya memandang wabah ini sebagai ujian dari Allah SWT, mengambil hikmah dan berpegang pada ajaran Allah Swt kembali kepada Alquran dan mengikuti petunjuk-petunjuk Nabi Muhammad Saw. Berkaitan dengan musibah ini dengan metamasalah yang bermunculan pada aspek kesehatan, dampak sosial ekonomi, ancaman kelaparan, strategi kebijakan politik hendaknya kembali pada ajaran Islam (Qur’an dan Hadits). Nabi Muhammad Saw berbicara tegas sebuah metode menghadapi sebaran virus (outbreak) pengendalian virus (Karantina Wilayah, PSBB ataupun Lockdown) dengan tidak mendatangi epicentrum wabah dan keluar dari titik epicentrum, juga berbicara penguatan mental saat seorang berdiam diri dirumah (karantina mandiri) selama masa inkubasi virus berjalan. Nabi juga berbicara tentang langkah isolasi pemisahan orang sakit dan sehat.

Banyaknya persoalan yang muncul tentu tidak bisa dibahas semua dalam artikel ini kita akan membicarakan dampak sosial dari pandemi covid-19, pembatasan sosial berskala besar (PSBB) anjuran physical distancing secara langsung berdampak pada menurunnya interaksi sosial. Berkurangnya interaksi sosial berpengaruh menurunnya transaksi ekonomi bagi UKM. Hal ini adalah pukulan yang sangat hebat bahkan melebihi krisis tahun 1998.

Menurunnya transaksi ekonomi menurunkan daya beli, menurunnya daya beli menyebabkan keterbatasan akses pada kebutuhan dasar makanan (Hajaatul Udhowiyah). Ketidaktersediaan makanan berakibat pada ancaman kelaparan, juga menurunnya daya tahan tubuh manusia disebabkan tidak tercukupinya asupan gizi, nutrisi pada tubuh yang berpotensi menimbulkan penyakit bahkan ancaman kematian. Selain dihadapkan pada ancaman virus saat berinteraksi diluar rumah tinggal dirumah pun terancam kelaparan. Kondisi yang menyulitkan dan berat bagi semua orang dan ini nyata terjadi dan sebagian besar yang terdampak adalah umat Islam.

Masalah Sosial

Kita menyadari masyarakat Indonesia saat ini terancam persoalan sosial yang kompleks meningkatnya kemiskinan, pengangguran disebabkan pemutusan hubungan kerja. Berkurangnya pendapatan ini berdampak multidimensi melahirkan tingginya ketimpangan saat ini (gini ratio). Kondisi ini bisa memicu tindakan kejahatan atau kriminalitas maka wajar kalau pemerintah mengambil strategi intervensi pemenuhan kebutuhan pokok melalui bantuan langsung baik bahan pokok, uang tunai sebagai bentuk jaringan pengaman sosial.

Umat Islam perlu kembali pada ajarannya dalam menghadapi dampak sosial wabah virus ini. Alquran datang membuka mata kita semua agar memahami hakikat jati diri seorang manusia di dunia ini, agar kita tidak terlena dan jatuh dalam keterpurukan dalam menghadapi persoalan ini. Dan tidak juga sedih berkepanjangan yang akan berdampak pada ancaman disabilitas mental.

Alquran mengajak kita berpikir tentang kekuasaan Allah, meyakini akan adanya kehidupan akhirat, berbaik sangka kepada Allah, memahami Qadha dan Qadr. Allah menghendaki kebaikan bagi manusia. Alquran juga berbicara tentang kepedulian sosial, memerintahkan kita untuk memperhatikan asupan nutrisi pada orangtua, kerabatan, tetangga, duafa, yatim dan kelommpok masyarakat marjinal. (*)

Penulis adalah Anggota Satgas Covid-19 MUI Banten dan Kepala Departemen Penelitian dan Pengembangan Organisasi FSPP Banten.