Wacana Pemindahan Rau Tidak Realistis

SERANG – Wacana pemindahan Pasar Induk Rau ke daerah Kecamatan Walantaka dinilai kurang tepat dan tidak realistis. Daripada menimbulkan polemik, lebih baik Pemkot fokus pada penataan.

Posisi PIR yang ada sekarang sudah cukup representatif berada di tengah kota. Hanya saja, kesemrawutan yang ada butuh keseriusan penataan agar menjadi lebih rapi dan tertib.

Wakil Ketua DPRD Kota Serang Roni Alfanto mengaku belum mendengar informasi secara resmi dari pihak Pemkot terkait wacana pemindahan PIR ke wilayah Walantaka. “Kita akan lihat seperti apa, kalau nanti ditanggapi jadi polemik duluan dan idenya belum sampai kami,” katanya di kawasan Gedung DPRD Kota Serang, Kamis (19/12).

Menurutnya, posisi PIR masih cukup representatif. Kondisi yang ada tinggal dilakukan penataan. “Masih cukup layak dan tinggal ditata. Ketimbang belum jelas kalau untuk relokasi bikin pasar baru,” katanya.

Ketua DPD NasDem Kota Serang ini menilai, pemindahan lokasi baru membutuhkan energi besar. Bukan hanya dari anggaran, juga waktu dan persiapannya. “Perlu waktu yang tidak cepat, yang jelas yang di depan mata saja didata. Belum (kajian) bangunanya, belum penyiapan lahan dan proses. Kalau sekadar wacana boleh saja, tapi yang ada saja dibenahi,” katanya.

Tidak hanya PIR, ucap Roni, penataan juga berlaku pada pasar lain di wilayah Kota Serang. Ini dilakukan agar masyarakat saat berbelanja nyaman. “Sudah saatnya pasar ditata dengan baik, Pasar Lama, Pasar Rau harus dikembalikan pada fungsinya. Karena orang mau mencari kebutuhan sehari-hari ada di pasar,” ujarnya.

Menurutnya, jika pasar rapi masyarakat yang belanja akan nyaman. Hal itu akan membuat perputaran ekonomi menjadi lebih besar dan mendorong pertumbuhan perekonomian Kota Serang secara umum. “Kalau pasar sudah melakukan penatan, Kota Serang akan lebih baik,” ujarnya.

Kata dia, idealnya dalam pasar ada zonasi sesuai jenis atau kelompok dagang yang diperjualbelikan. Jangan sampai pedagang kering dicampur dengan pedagang basah. Selain itu, akses masuk dan fasilitas yang ada di pasar diperbaiki sesuai fungsinya. “Harusnya ada zona, kalau acak-acakan kan orang datang acak-acakan susah. Apalagi, pedagang basah dicampur dengan kering,” cetusnya.

Wacana pemindahan PIR mencuat bersamaan program penataan PIR oleh Pemkot Serang. Kepala Bappeda Kota Serang Nanang Saefudin mengatakan, secara kebetulan wacana pemindahan di Teritih, Kecamatan Walantaka terdapat tanah bengkok milik Pemkot Serang. “Pak Wali dengan Pak Wakil punya wacana yang luar biasa, bagaimana nanti kita akan kaji membuat FS kajian pasar induk atau apa pun nanti. Kebetulan, Pemkot punya tanah bengkok di Teritih sekitar 3,5 hektare,” kata Nanang.    

Menurutnya, alasan pemindahan PIR karena saat ini PIR bukan lagi menjadi pasar lokal masyarakat Kota Serang. Akan tetapi, sudah menjadi pasar lintas kabupaten kota di Provinsi Banten.

Selain kondisi PIR semakin kumuh, kemacetan juga semakin krodit. “Anggarannya apakah nanti dari pemerintah pusat, dari provinsi itu masalah lain. Atau pihak ketiga, bisa saja dikerjasamakan. Tapi intinya, ingin memindahkan masalah dari Pasar Rau. Sementara, transportasi segala macam sudah sangat krodit di sana dan tambah kumuh,” tuturnya.     

Namun, ujar dia, lokasi pasti dan kebutuhan lahannya akan diketahui setelah kajian feasibility study (FS) bersama DPRD Kota Serang dan detailed enginering design (DED) selesai. (ken/air/ags)