Wagub: Pembelajaran Tatap Muka Tunggu Zona Hijau

0
1766
Wakil Gubernur Banten Andika Hazrumy bersama Bunda PAUD Provinsi Banten Adde Rosi Khoerunnisa saat Rakor Bunda PAUD Provinsi Banten di salah satu hotel di Kota Serang, Kamis (10/12). Wagub mengatakan sekolah tatap muka bisa dilakukan jika zona hijau.

SERANG – Pemprov Banten merencanakan pembelajaran tatap muka untuk tingkat SMA/SMK negeri di Banten dimulai Januari mendatang. Namun, berdasarkan ketentuan, pembelajaran tatap muka saat pandemi Covid-19 ini dapat dilakukan apabila daerah tersebut berada dalam zona hijau atau beresiko kecil.

Tak hanya itu, Wakil Gubernur Banten Andika Hazrumy juga mengatakan, para siswa bisa tak lagi belajar online apabila di daerah itu tak terjadi kasus konfirmasi positif selama sepekan berturut-turut. “Kalau sudah begitu, nanti baru bisa pembelajaran tatap muka,” ujar Andika saat Rakor Bunda PAUD Provinsi Banten di salah satu hotel di Kota Serang, Kamis (10/12).

Ia mengatakan, pihaknya harus merujuk kepada keputusan pemerintah pusat. Pemprov tidak ingin berspekulasi. Namun, diharapkan pembelajaran tatap muka dapat segera dilaksanakan di Banten mengingat dampak dari belajar online cukup besar.

“Anak-anak PAUD di masa keemasan tiga sampai enam tahun, mereka kehilangan penguatan jati dirinya,” terang Andika. Setiap hari, anak-anak harus bergelut dengan gadget dan internet. Setelah belajar, anak-anak ingin main game atau nonton youtube. “Hal itu tidak bisa dipungkiri. Ini bisa membahayakan kalau tidak bisa diantisipasi dengan konkrit,” tutur mantan Anggota DPR RI ini.

Namun, lanjutnya, kebijakan pembelajaran tatap muka dapat dilakukan dengan tidak mengorbankan kesehatan dan keselamatan masyarakat. Saat ini juga semua daerah belum menetapkan pembelajaran tatap muka. “Kalaupun ada, menunggu vaksin Covid-19,” ujarnya. Tetapi, pihaknya juga menunggu informasi dari pemerintah kabupaten/kota lantaran mereka yang mengetahui kondisi wilayahnya.

Kata dia, untuk memutus mata rantai penyebaran Covid-19, bukan hanya dengan menerapkan protokol kesehatan, tetapi juga dengan vaksin. Namun, yang menjadi kendala adalah vaksin Covid-19 itu tidak dapat digunakan untuk masyarakat yang berusia di bawah 18 tahun. “Yang divaksin nanti para gurunya,” tutur Andika.

Pada kesempatan itu, ia juga meminta Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dindikbud) Provinsi Banten untuk memberikan perhatian kepada PAUD yang tidak bertentangan dengan kewenngan Pemprov. Hal itu bisa berupa pembinaan dan pelatihan. “Syukur-syukur bisa membantu insentif para tenaga pengajar,” ujarnya.

Bunda PAUD Provinsi Banten Adde Rosi Khoerunnisa mengatakan, dengan Rakor saat ini, pihaknya neminta Pokja Bunda PAUD dengan Dindikbud se Provinsi Banten untuk mengidentifikasi PAUD-PAUD yang terdampak pandemi Covid-19. Dari data itu, pihaknya akan merencanakan program yang tepat untuk PAUD-PAUD tersebut.

Kata dia, PAUD adalah jenjang pendidikan yang paling terdampak di dunia saat pandemi Covid-19. Berdasarkan data Unicef pada Juli lalu, sedikitnya ada 40 juta anak usia dini di dunia kehilangan pendidikan akibat pandemi. Padahal, PAUD merupakan pondasi penting untuk aspek perkembangan anak yang paling dasar.

Adde Rosi mengatakan, menurut catatan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada September lalu, ada 6,7 juta siswa jenjang pendidikan anak usia dini yang terdampak pandemi Covid-19. “Bahkan, ada 542 ribu guru PAUD se Indonesia, 203 ribu satuan PAUD, serta 13,6 juta orangtua siswa anak usia dini yang juga terdampak,” tuturnya.

Selain meminta pendataan terkait PAUD yang terdampak pandemi, ia juga memberi arahan agar kabupaten/kota yang sudah mempunyai Bunda PAUD untuk membentuk Pokja Bunda PAUD. Lantaran Bunda PAUD, tanpa Pokja Bunda PAUD dan dukungan OPD, maka Bunda PAUD tidak bisa bekerja dengan maksimal. “Agar penekanan program dan kebijakan kepala daerah bisa termaksimalkan,” ujar perempuan yang juga menjabat sebagai Anggota DPR RI ini.

Terkait dengan rencana pembelajaran tatap muka, ia mengatakan, pihaknya akan mendukung kebijakan pemerintah pusat. Apalagi, pembelajaran secara online bisa menjenuhkan anak-anak. “Bagaimana kembalinya pembelajaran virtual ke tatap muka juga harus menjadi perhatian penting bagi semua pihak,” ujarnya.

Kata dia, apabila pembelajaran tatap muka sudah diperbolehkan, PAUD juga harus melakukan persiapan. Mulai dari sarana prasarana penunjang protokol kesehatan, seperti tempat mencuci tangan yang memadai, hingga melakukan pembelajaran yang menerapkan protokol kesehatan. “Misalnya berbaris tapi jaga jarak. Bermain tapi jaraknya juga dibatasi. Untuk anak-anak PAUD tentu perlakuannya berbeda. Jangan sampai mereka seperti diatur, tapi penerapan protokol kesehatan itu harus menyenangkan,” tutur Adde Rosi. (nna/air)