Waktu Nikah Percaya Diri Tinggi, Tak Tahunya  Maharnya Dapat Ngutang

Tampan, bertubuh kekar dengan sorot mata tajam layaknya elang, dibalut pakaian rapi ala-ala orang kantoran, Purwo (56), nama samaran, memang terlihat meyakinkan. Apalagi ia datang membawa motor gede seolah menunjukkan kemapanan, sontak keluarga dan saudara sang wanita, sebut saja Mimin (50), mesem-mesem membanggakan anak terakhir dari empat bersaudara itu.

Menganggap Mimin tak salah pilih mencari calon suami, sang ayah bahkan sampai berpakaian rapi demi menyambut Purwo yang hari itu berniat melamar putrinya. Disambutnya sang lelaki dengan senyum ramah, kedua keluarga pasangan yang sudah ngebet itu bertemu membicarakan perihal pernikahan.

Seolah tak ada hambatan, sebulan setelah lamaran, pesta pun dilaksanakan. Meminta mahar yang cukup besar, Purwo sama sekali tak keberatan. Entah sudah mempersiapkan atau memang punya banyak uang, ia santai saja menyanggupi tanpa mempertimbangkan persetujuan keluarga. Mengikat janji sehidup semati, Purwo dan Mimin resmi menjadi sepasang suami istri. Widih, memang berapa sih Teh maharnya?

“Ada deh, kalau soal itu saya enggak mau cerita, rahasia negara, Kang. Soalnya yang menentukan juga keluarga, saya sih menerima saja,” akunya kepada Radar Banten.

Padahal, seperti diceritakan Mimin, sang suami sebenarnya tidak berasal dari keluarga kaya. Sederhana tapi mencukupi begitulah. Ayah pekerja dan ibu pengusaha pakaian di pasar, Purwo memiliki kehidupan masa muda penuh warna. Memiliki sepeda motor yang sering dimodifikasi, ia menjadi idaman wanita masa kini.

“Uh, dia itu pacarnya banyak, Kang. Soalnya bagaimana ya, ganteng, ideal, dan bermotor, aura kelelakiannya keluar gitu,” ungkap Mimin.

Mimin bukan wanita biasa. Terlahir dari keluarga berada, ayah pegawai negeri dan ibu pengajar, ia memiliki kehidupan yang tercukupi. Berpenampilan modis dengan kulit putih dan wajah manis, Mimin sukses menjadi primadona desa. Banyak lelaki yang datang mendekat, tetapi Mimin tak mudah terpikat.

Hingga ia bertemu dengan Purwo yang melakukan pendekatan berbeda dari lelaki kebanyakan, rasa penasaran muncul beriringan dengan perasaan. Menunjukkan sikap cuek tapi memberi kepastian, Purwo sukses membuat Mimin jatuh cinta. Mereka pun bersemi dalam ikatan asmara.

Hebatnya, meski selama masa pacaran sering disakiti lantaran ketahuan selingkuh, Mimin masih mau menerima. Soalnya, selain jago menaklukan hati wanita, katanya, Purwo juga memiliki bakat bersandiwara. Kalau sudah memohon di hadapan Mimin, tangisnya meluluhkan hati dan melemahkan jiwa. Widih, lebay amat.

Hingga mereka berjuang mengumpulkan biaya, Purwo yang bekerja di salah satu perusahaan ternama di Cilegon, akhirnya menikahi sang kekasih dengan percaya diri tingkat tinggi. Di awal pernikahan, baik Purwo maupun Mimin saling menjaga perasaan.

Mengarungi bahtera rumah tangga, tak semudah membalikkan telapak tangan. Cobaan dan rintangan datang menghiasi perjuangan, hanya cinta tulus yang bisa menghadapi. Keributan yang terjadi karena masalah sepele antara Purwo dan sang istri, tak mampu menghancurkan keutuhan hubungan.

Hingga menginjak setahun usia pernikahan, ibarat mendaki gunung tertinggi di langit ibu pertiwi, setelah berhasil bertahan di tengah cobaan yang datang silih berganti, Purwo dan Mimin mendapat kado manis dengan kehadiran sang buah hati. Anak laki-laki yang gemuk dan lucu, membuat rumah tangga semakin mesra.

Kedua keluarga pun tampak bahagia melihat kedua anak mereka bisa harmonis dalam membangun rumah tangga. Namun apalah daya, lamanya pernikahan nyatanya memang tak pernah selaras dengan kebahagiaan. Entah karena tak punya uang atau terdesak kebutuhan, Purwo sering terlihat gelisah.

Namun ketika ditanya, ia tak pernah cerita dengan istri atau sahabatnya sekalipun. Hal itu membuat Mimin semakin bingung. Tidak tahu harus bersikap bagaimana, awalnya ia membiarkan dan menganggap semua tak ada apa-apa. Hingga suatu hari, Mimin dikagetkan dengan bentakan saudara sendiri. Aih kok dibentak, kenapa Teh?

“Sedih ceritanya, Kang. Ternyata, tanpa sepengetahuan saya, Kang Purwo punya utang ke saudara yang belum dibayar, padahal sudah lewat waktu perjanjian,” katanya. Waduh.

Parahnya, utang Purwo bukan cuma kepada satu saudara sang istri, tapi hampir ada lima orang, mulai dari bibi sampai adik ipar, semua diutangi. Ibarat jadi bulan-bulanan tahanan narapidana, Mimin diteror tagihan utang suaminya. Aih-aih, parah amat sih Teh.

“Katanya mereka bosan menagih ke suami tapi cuma janji-janji doang, ya sudah pada marahnya ke saya,” tukas Mimin.

Yang membuat Mimin semakin tersiksa, mungkin sudah mengetahui apa yang terjadi, sang suami menghilang bak ditelan bumi. Ditelepon tak diangkat, di-SMS pun tak menjawab, Purwo seolah kabur dari masalah yang dibuatnya sendiri. Apalah daya, Mimin pun mengadu pada mertua. Gegerlah keluarga Purwo.

“Duh, waktu itu bapaknya sampai datang ke rumah. Dia enggak percaya anaknya bisa melakukan hal itu. Berulang kali minta maaf ke saya dan keluarga, kasihan melihatnya,” kata Mimin.

Hingga suatu malam, ketika Mimin sedang menyusui sang anak, berderinglah ponsel yang ditaruh di atas meja samping kasur. Dilihatnya layar dan tampak nama sang suami, lekas Mimin mengangkat, sambil berbisik, Purwo minta dibukakan pintu. Mimin pun menuju ruang depan.

Sang suami bergegas masuk kamar dan minta disediakan makan, Mimin menuruti kemauan Purwo. Mungkin kelaparan seharian tak makan, Purwo melahap habis hidangan yang disajikan sang istri. Selesai makan, seolah tak memberi kesempatan untuk beristirahat, Mimin langsung meletupkan emosinya.

Purwo pun meminta maaf, ia mengakui kesalahannya. Ternyata, ia banyak berutang lantaran untuk menutupi utang sebelumnya yang meminjam uang ke rekan sekerja guna membayar mahar. Ia mengaku diancam akan dibunuh kalau sampai tak melunasi. Tak hanya itu, selain utang mahar, Purwo juga sebelumnya banyak utang membeli aksesori tubuh dan motor pribadi. Oalah, ganteng-ganteng kok banyak utang?

Besoknya, terjadilah musyawarah keluarga. Meski semua mengikhlaskan, tetapi sikap saudara tak lagi bisa menghargai keberadaan Purwo. Malu akan keadaan, ia bersama sang istri memutuskan pindah ke rumah kontrakan. Hidup mereka pun mulai dari nol dan penuh kesederhanaan.

Ya ampun Kang Purwo ini ada-ada saja. Sabar ya Teh Mimin, semoga semua utangnya bisa terlunasi dan membuat nama baik rumah tangga menjadi harum lagi! (daru-zetizen/zee/ira)