Ilustrasi (pixabay).

Siang itu Wati (41), bukan nama sebenarnya meminta tolong pada sang suami, sebut saja Mulki (51), untuk diantar ke salah satu pasar di Kecamatan Ciruas, Kabupaten Serang. Seolah patuh pada apa yang diminta sang istri, selepas Salat Zuhur Mulki sudah siap dengan kuda besinya di depan rumah. Diantarlah Wati dengan riang dan bahagia.

Sesampainya di pasar, lantaran bahan belanjaan yang banyak dan membutuhkan waktu lama, Wati berpesan agar Mulki menjemput lagi dua jam kemudian di tempat yang sama. Berpisahlah keduanya. Sampai akhirnya Wati selesai belanja, ia menunggu sang suami di tempat yang sudah dijanjikan.

Sepuluh menit berlalu, Wati masih sabar menunggu. Tiga puluh menit, satu jam, sampai dua jam lebih, ia mulai menggerutu. Sang suami yang diharapkan datang tak kunjung kelihatan batang hidungnya. Terpaksa, Wati naik angkot sampai depan gang perkampungan, lalu naik ojek sejauh 500 meter.

Sesampainya di rumah, ia mendapati sang suami sedang menonton televisi sambil meminum kopi. Waduh. Seolah tak kuat menahan emosi, tanpa mengucap salam lagi, ia menerobos masuk dengan ekspresi wajah penuh amarah. Melihat Mulki cekikikan menyaksikan tontonan, ia menendang gelas kopi sampai hancur berantakan.

Ditungguin dua jam lebih kepanasan di pasar, Kakang malah enak-enakan ngopi sambil cekikikan,” tukas Wati emosi.

Parahnya, bukannya langsung meminta maaf. Layaknya orang tak punya salah, Mulki diam dengan mata melongo menyaksikan istrinya mengamuk. Ia bingung akan apa yang terjadi. Sontak hal itu membuat Wati semakin geram, ia pun menjelaskan ulang kejadian yang dialaminya.

Astagfirullah, maaf Neng, Kakang lupa,” begitu kata Wati mengikuti ucapan sang suami. Oalah, parah amat ya tuh Kang Mulki. Kok bisa lupa sih?

“Dia itu sering begitu, Kang. Mengesalkan, sifat lupanya keterlaluan,” tutur Wati kepada Radar Banten.

Seperti diceritakan Wati, sang suami memang memiliki keturunan pelupa alias pikun. Dimulai dari bapaknya yang sudah wafat, katanya sih, dahulu terkenal sebagai orang yang sering lupa. Parahnya, berdasarkan cerita tetangga dan saudara, ayahanda Kang Mulki pernah lupa dengan istri dan anak sendiri. Aih, ngeri amat.

Terlahir dari keluarga tak punya, Mulki sejak kecil terbiasa hidup susah. Ia anak kedua dari lima bersaudara. Menamatkan pendidikan di tingkat SMP, membuatnya hanya mampu bekerja sebagai petani. Meneruskan garapan sawah sang ayah, Mulki menjadi anak kebanggan keluarga. Maklumlah, kakak dan adik-adiknya tidak ada yang mau turun kotor-kotoran ke sawah, giliran sudah panen, barulah semua mendekat. Hmm, dasar manusia.

Mulki merupakan lelaki baik. Meski sering disakiti keluarga dan saudara sendiri, ia tetap menerima di kala susah maupun senang. Ya bisa dibilang, orangnya tidak perhitungan. Terlebih ia memang termasuk lelaki yang taat beribadah, hal itu membuatnya disukai banyak orang.

Hebatnya, meski ingatannya sering lupa, tapi kalau dalam hal mengaji, ia termasuk murid yang pandai. Ustaz kampung sering memuji kemampuan mengaji Alquran Mulki yang begitu fasih. Sampai suatu hari, mungkin prihatin dengan Mulki yang sudah dewasa tapi tidak terlihat tanda-tanda memiliki kekasih, sang ustaz mengenalkannya dengan wanita yang dulu pernah mengaji di tempatnya, itulah Wati.

“Pas awal ketemu sih saya biasa saja, Kang. Enggak ada rasa penasaran atau bagaimana,” curhat Wati.

Wati waktu itu termasuk wanita yang diincar banyak pria. Maklumlah, selain salihah, ia juga anak seorang ustaz yang memiliki pengajian di rumah. Kulit putih dengan mata sayu berselimut hijab yang indah, Wati sukses menarik hati Mulki.

Hingga suatu hari, bersama sang ustaz, Mulki mendatangi rumah Wati. Berhadapan langsung dengan orangtua sang wanita, tentu ia grogi setengah mati. Beruntung ustaz mau membimbing sampai terjadilah kesepakatan bersama. Keluarga Wati menerima Mulki apa adanya. Loh, tadi katanya biasa saja, kok sekarang diterima sih Teh?

“Saya juga enggak tahu, waktu itu saya nurut saja apa kata orangtua, ya mungkin memang sudah jodohnya,” kata Wati.

Singkat cerita, menikahlah keduanya. Mengikat janji sehidup semati, Mulki dan Wati resmi menjadi sepasang suami istri. Meski pekerjaannya sebagai petani yang tidak bisa menjanjikan harta duniawi, tetapi berkat doa dan usaha yang ia kerjakan, Mulki berhasil meyakinkan sang istri untuk berjuang bersama.

Di awal pernikahan, Mulki bersikap layaknya suami pada umumnya. Menyayangi Wati sepenuh hati, ia mengayomi sang istri. Begitu pun halnya dengan Wati, ia menjadi istri yang baik. Hingga dua tahun rumah tangga, keduanya dikaruniai anak pertama. Keluarga pun semakin mesra.

Seiring berjalannya waktu, tentu mereka mulai mengetahui kelebihan dan kekurangan masing-masing. Kalau dari Wati sih tentu tidak jadi masalah, sebagai istri ia memiliki kekurangan yang dialami wanita pada umumnya. Tapi dari sisi Mulki, dari sekian banyak kekurangan, ada hal yang membuat sang istri jengkel setengah mati.

Sifat lupa alias pikun sang suami, membuat Wati sering emosi. Mulai dari lupa menaruh kunci motor, sampai lupa menjemput Wati di pasar. Hal semacam itu sering ia alami. Parahnya, tragedi kelupaan Mulki yang mungkin paling besar menciptakan keributan terjadi kepada keluarga besar Wati.

Suatu hari, mereka baru saja pindah rumah. Waktu itu hasil panen Mulki sedang bagus dan bisa membeli rumah sederhana milik tetangga. Keesokannya, ketika keluarga Wati hendak menjenguk dan sudah sampai di depan rumah, mereka berpapasan dengan Mulki yang hendak pergi entah ke mana. Parahnya, ia tak menyapa atau tersenyum sama sekali, Mulki nyelonong pergi.

“Dasar menantu sombong. Sudah kita pulang saja!” Begitu hardik ayah Wati.

Beruntung kejadian itu disadari Wati dari perubahan sikap ayahnya, terjadilah musyawarah. Barulah diketahui kalau penyebab tak menyapanya sang suami karena lupa akan keluarga mertuanya sendiri. Aih-aih. Repot juga ya punya suami pikun. Hehe.

“Ya  begitulah, Kang. Tapi, saya sih enggak masalah. Selama dia setia, saya akan selalu cinta,” kata Wati menutup perjumpaan dengan wartawan siang itu.

Ya sudahlah Teh, semoga langgeng sampai mati. Amin. (daru-zetizen/zee/ira/RBG)