Wapres Jusuf Kalla: Media Perlu Inovasi

Grand Launching Kantor Berita Fajar Indonesia Network (FIN)

Wapres Jusuf Kalla didampingi Komisaris Utama FIN HM Alwi Hamu (ketiga dari kanan), Komisaris Suparno Wonokromo (kiri), Direktur Utama Agus Salim Alwi Hamu (kedua dari kanan), Direktur Dwi Nurmawan (kedua dari kiri), Ketua MPR Zulkifli Hasan (ketiga dari kiri), dan General Manager Miftahur Rahman (kanan) berbincang seusai me-launching FIN di Wisma Antara, Jakarta Pusat, Selasa (4/9).

JAKARTA – Di tengah perkembangan teknologi dan persaingan yang semakin pesat, media dituntut terus melakukan inovasi dalam menyajikan informasi kepada masyarakat. Demikian diungkapkan Wakil Presiden Jusuf Kalla pada acara Grand Launching Kantor Berita Fajar Indonesia Network (FIN) di aula utama Wisma Antara, Jakarta Pusat, Selasa (4/9).

Orang nomor dua di Indonesia itu tiba di lokasi sekira pukul 14.00 WIB. Beberapa menit sebelumnya Ketua Majelis Perwakilan Rakyat (MPR) Zulkifli Hasan lebih dahulu tiba bersama tamu undangan lainnya. Jajaran pimpinan FIN yang hadir di antaranya Komisaris Utama FIN Alwi Hamu, Komisaris FIN Suparno Wonokromo, Direktur Utama Agus Salim Alwi Hamu, Direktur Dwi Nurmawan, General Manager Miftahur Rahman, dan Pemred FIN M Ilham. Sementara Direktur FIN lainnya yakni Yanto S Utomo tidak hadir karena baru tiba di tanah air setelah melaksanakan ibadah haji. Untuk diketahui FIN merupakan kelompok media terdiri dari 90 media cetak, media online, dan media elektronik yang tersebar di seluruh Indonesia, termasuk di dalamnya Radar Banten Group.

Jusuf Kalla mengapresiasi FIN sebagai kantor berita. Sebelumnya, merupakan koran harian, kemudian merangkak dan menjangkau nasional. Hal itu membutuhkan banyak orang yang inovatif. “Saya tentu mengapresiasi bahwa Fajar, yang dulu terbit dari timur sekarang sudah menjangkau nasional, dulu Fajar koran yang merangkak, itu tentu membutuhkan banyak orang yang inovatif,” ujarnya.

JK menegaskan, saat ini media terus mengalami perubahan di tengah ketatnya persaingan. Kondisi itu memerlukan inovasi dan kecepatan terbaik. Zaman dulu, berita dua hingga tiga hari masih menarik untuk dibaca. Sekarang sudah tinggal menghitung menit. “Media memerlukan inovasi dalam suasana persaingan,” katanya.

Lebih lanjut JK mengatakan, media cetak seperti koran merupakan hasil para intelektual. Ke depan, koran diharapkan menjadi analisis, tempat di mana orang-orang berpikir. Sehingga, koran harus memiliki kemampuan untuk menyajikannya. Ia mencontohkan, koran-koran di luar negeri seperti Singapura dan Washington, Amerika Serikat, sudah lebih dahulu melakukannya. “Situasi sekarang, tentu media memberikan pegangan kepada masyarakat. Menjadi penasihat, menjadi analisa. Maka, pembaca juga menjadi pintar, membantu bangsa ini menjadi lebih baik,” katanya.

Pria asal Sulawesi itu menekankan agar media, selain dapat memberikan informasi yang mendidik, independen, positif, dan jujur, media juga bisa memberikan pelajaran yang baik kepada bangsa. “Bagaimana (koran-red) menjadi media informatif yang positif kepada masyarakat,” katanya.

“Bahwa perlu bangsa yang sehat adalah bangsa yang perlu dikritik secara baik. Karena, tanpa kritikan juga, koran tidak ada pedas-pedasnya gitu, tapi secara fair. Itulah bagian yang penting di era ini,” sambung JK.

Komisaris Utama FIN Alwi Hamu dalam sambutannya mengatakan, sejak awal berdiri pihaknya terus melakukan inovasi-inovasi. Perubahan teknologi menuntut semua media terus melakukan perubahan-perubahan. “Karena (perkembangan teknologi-red) itulah kita melakukan hal-hal yang baru,” katanya.

Dalam kesempatan tersebut, Alwi Hamu menceritakan beberapa pengalaman dari setiap perubahan yang dialaminya. Di antaranya, suara mesin ketik di awal penggunaan komputer dianggap tetap harus ada di kantor sebagai inspirasi.

“Kita melakukan inovasi-inovasi. Dulu di awal masuk dunia pers, kantor berita Antara menjadi rujukan. Di daerah seperti Makassar, Medan, berdatangan dari Jakarta. Teknologi yang luar biasa mendorong kita melakukan banyak hal. Ada istilah koran cetak kalah dengan elektronik. Tapi, itu tidak seratus persen benar semua,” terangnya.

Ia juga menjelaskan, kehadiran FIN memiliki prinsip, bijak, jelas, tak berpihak. Kata dia, saat ini arah pemberitaan good news is the best news. Berbeda dengan sebelum-sebelumnya, yaitu bad news is the best news. “Kita tetap melakukan kritik. Tapi, bagaimana yang dikritik tetap tertawa,” katanya.

Dengan demikian, Alwi berharap, keberadaan FIN di Indonesia dapat mendorong keutuhan Indonesia. Seperti halnya yang selama ini terus dilakukan oleh Wapres Jusuf Kalla. “Mudah-mudahan dengan begitu Indonesia bisa tetap utuh. Apa yang dilakukan oleh Pak JK selalu ingin menyatukan itu,” pungkasnya. (Fauzan D/RBG)