Memasang bendera dan umbul – umbul di pinggir jalan saat bulan Agustus memang sudah biasa. Namun warga Desa Kalimalang, Kecamatan Sukorejo, Ponorogo memiliki kreasi sendiri dalam menghias jalanan kampungnya. Tahun ini, mereka memilih kukusan untuk menyemarakkan Peringatan HUT ke-72 Kemerdekaan RI.

LATIFUL HABIBI, Ponorogo

SIAPA yang tidak tahu kukusan. Peralatan dapur tradisional yang terbuat dari anyaman bambu itu biasanya untuk menanak nasi oleh masyarakat Jawa.

Tapi kali ini, kukusan disulap menjadi sebuah hiasan cantik. Warga Desa Kalimalang, Kecamatan Sukorejo, sengaja memasangnya sebagai media penghias jalan .

‘’Kami ingin menampilkan sesuatu yang berbeda. Karena pasang bendera dan umbul-umbul itu sudah biasa,’’ kata ketua karang taruna Desa Kalimalang, Muhammad Firman Ardiansyah.

Firman mengungkapkan, menghias jalan dengan kukusan tradisional dilakukan untuk menambah kemeriahan berbagai kegiatan peringatan HUT Kemerdekaan RI.

Kebetulan, kata Firman, tahun ini di desanya sedang digelar Kalimalang Festival (Kafe). Kegiatan itu menggandeng banyak seniman, di antaranya dari komunitas seni Sabuk Janur Ponorogo.

‘’Ini pertama kalinya desa kami menggelar acara besar. Sebelumnya hanya lomba-lomba,’’ ungkapnya.

Hajatan besar itu menginspirasi warga untuk menampilkan sesuatu yang baru. Jalanan dihias lebih variatif. Kukusan dari anyaman bambu sengaja dipilih daripada payung warna – warni.

Kondisi angin yang berhembus kencang saat ini, jadi alasan sebagian besar warga tidak setuju dengan media payung hias. Mereka khawatir payung jatuh dan mencelakai orang.

‘’Pakai payung juga butuh biaya banyak. Beda dengan kukusan, mudah nyarinya dan murah harganya,’’ terangnya.

Memasang kukusan tradisional untuk menghiasi jalan bukan hanya ekonomis. Tapi juga lebih bermakna.

Firman menjelaskan, kukusan bisa diartikan lambang kemakmuran. Adanya kukusan identik makanan atau rezeki. Sementara, yang digunakan untuk menyangga adalah galah bambu.

‘’Kalau diartikan, ini seperti nyinggrek rezeki. Agar ke depan masyarakat desa ini lebih makmur dan sejahtera,’’ jelasnya.

Ada lebih dari 400 kukusan tradisional yang dipasang. Tapi, jumlah sebanyak itu tidak cukup untuk menghias seluruh jalan desa. Hingga akhirnya pemasangannya hanya difokuskan pada tiga titik.

Yakni jalan utama pintu masuk desa, dekat jembatan Gilangsari dan area lapangan desa. Ratusan kukusan tradisional tersebut sudah dipasang sejak Sabtu (12/8) lalu.

‘’Untuk pengadaan kukusannya, swadaya masyarakat. Kebetulan warga antusias dengan ide ini,’’ terang ketua panitia peringatan HUT ke-72 RI Desa Kalimalang ini.

Ini menunjukkan semangat gotong royong warga. Masing -masing RT dimintai bantuan minimal 10 kukusan.

Alat tradisional itu tidak harus baru. Boleh bekas asal masih bagus. Sebelum dipasang, beberapa kukusan juga ada yang dicat agar lebih menarik.

‘’Setelah kegiatan selesai, akan kami lepas, jadi inventaris, siapa tahu bisa dipakai lagi tahun depan. Lumayan kan tahun depan bisa lebih banyak lagi,’’ paparnya.

Selain hiasan kukusan, hal baru di desanya adalah kirab gunungan. Rencananya setiap RT akan mengeluarkan satu gunungan. Isinya terserah, bisa sayuran, buah-buahan, jajanan atau penganan lain disesuaikan kemampuan dan ikon RT masing-masing.

Rencananya, akan ada gunungan dari roti kukus setinggi kurang lebih dua meter. Kebetulan, Kalimalang adalah sentra industri roti kukus.

‘’Setelah diarak, nanti akan dipurak bersama di lapangan desa bersama gunungan dari RT,’’ jelasnya sembari menyebut di desanya terdapat 11 RT. ***

(mn/tif/sib/JPR)