Warga Gunungsugih Tagih Janji PT Synthetic Ruber Indonesia

CILEGON – Warga Kelurahan Gunungsugih, Kecamatan Ciwandan, menagih janji PT Synthetic Ruber Indonesia (SRI) untuk mempekerjakan warga Kelurahan Gunungsugih dan warga Kota Cilegon pada umumnya. Hal itu dilakukan warga karena sudah dua kali pabrik ban tersebut melakukan rekrutmen pegawai, tetapi warga yang diterima bekerja hanya sebanyak tiga orang. Padahal pada dokumen analisis dampak lingkungan (Amdal), PT SRI akan mempekerjakan 100 orang masyarakat sekitar pabrik.

Ketua Forum Komunikasi Pemuda Gunung Sugih Masuli menjelaskan, pabrik hasil joint venture antara PT Chandra Asri Petrochemical (CAP) dan Michelin itu sudah beroperasi kurang lebih selama satu tahun. Pada tahap pertama perekrutan karyawan, tidak ada satu pun warga Kelurahan Gunungsugih maupun Kota Cilegon yang diterima bekerja. Belum lama ini tahap kedua perekrutan dilakukan, hanya tiga orang yang diterima.

“Dua dari Cilodan, satu dari Kampung Baru. Di amdal pabrik itu akan mempekerjakan 177 orang untuk karyawan, yang 100-nya untuk orang sekitar,” ujar Masuli usai kegiatan hearing bersama Komisi II DPRD Kota Cilegon dan Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kota Cilegon, Selasa (7/1).

Dengan melakukan hearing berasama DPRD dan Disnaker, masyarakat berharap agar PT SRI mau mengikuti ketetapan yang telah tertuang di dalam amdal dengan mempekerjakan masyarakat sekitar. Namun, dalam pertemuan tersebut, tidak ada satu pun perwakilan PT SRI hadir. Meski kecewa, masyarakat tetap berharap PT SRI mempunyai iktikad baik dengan merekrut warga sekitar.

Mewakili Komisi II DPRD Kota Cilegon, Masduki menjelaskan, masyarakat berharap bisa bekerja di pabrik tersebut. Karena itu, pihaknya akan bersikap tegas mengawal hal tersebut. “Akan kembali dipanggil tanggal 14 (Januari),” ujar Masduki usai hearing.

Masduki menilai sikap PT SRI dengan tidak mengakomodasi masyarakat sekitar telah melanggar ketentuan dalam amdal. Dalam dokumen dijelaskan jika PT SRI membutuhkan 177 pegawai, yang terdiri dari posisi manajer sebanyak 48 orang, supervisor sebanyak 29, dan operator sebanyak 100 orang. Untuk manajer pendidikan minimal S-1, supervisor D-3, sedangkan operator SMA sederajat.

“Oke lah kita tidak bicara manajer dan supervisor, tapi operator yang untuk lulusan SMA, kan masyarakat banyak,” tuturnya.

Ia menilai, keberadaan industri selain memberikan nilai positif untuk laju investasi serta pendapatan daerah, juga harus bisa menekan jumlah pengangguran di Kota Cilegon.

Dalam kesempatan yang sama, Kepala Disnaker Cilegon Soeparman mengaku, dalam waktu dekat akan memanggil pihak manajemen untuk meminta klarifikasi terkait hal tersebut.  “Kita panggil pekan ini,” ujarnya.

Usai pemanggilan, Disnaker Kota Cilegon akan melaporkan hasilnya kepada DPRD Kota Cilegon untuk kemudian dijadwalkan ulang hearing. (Bayu M)