Warga Hidup di Bawah Ancaman Longsor

0
1462
Gunung Kecakup di Desa Pengarengan, Kecamata Bojonegara rusak parah dan puncaknya terbelah akibat aktivitas penambangan, Sabtu (9/1).

Gunung Rusak Akibat Pertambangan di Bojonegara dan Puloampel

Suara mesin eskavator dan sesekali suara blasting atau ledakan pengeboman batu terdengar di sekitar Desa Pengarengan, Desa Ukirsari, Desa Lambangsari, dan Desa Pakuncen, Kecamatan Bojonegara, Kabupaten Serang.  Suaranya terdengar dari pagi hingga malam hari pukul 22.00 WIB.

Disekitar empat desa itu terdapat sejumlah perusahaan yang melakukan aktivitas pertambangan galian C seperti PT Gunung Patsean, PT Gunung Gloria, PT Waskita Beton Precast, PT Gama Bojonegara, PT Sun Fook, dan yang terbesar PT Batu Alam Makmur (BAM) yakni Bravo 9 dan Bravo 10.

Selain enam perusahaan itu, di Kecamatan Bojonegara berdasarkan data yang ada di Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Kabupaten Serang ada beberapa lagi perusahaan pertambangan yaitu PT Bukit Sunur Wijaya di Desa Mangkunegara, PT Tunas Jaya Tammas, dan PT Sumber Gunung Maju.

Kemudian, CV Teratai Sakti Abadi, PT Lyna di Desa Wanakarta, PT Yudistira Tanjung Barat di Desa Karangkepuh, PT Griya Bagendung Asri, CV Ria Karya Utama di Desa Margagiri, PT Lambangsari Makmur Abadi, dan PT Yutai Trading di Kampung Kecakup, Desa Pengarengan.

Pantauan Banten Raya (grup Radar Banten) di Desa Pengarengan terdapat satu gunung yakni Gunung Kecakup yang menjadi lokasi  pertambangan PT BAM Bravo 10  kondisinya kritis dan memprihatinkan karena pada puncak gunungnya sudah terbelah.

Bahkan, suara eskavator sudah terdengar oleh warga Kelurahan Pabean, Kecamatan Purwakarta, Kota Cilegon dan sekitarnya karena Gunung Kecakup bersebelahan langsung dengan Cilegon. Jarak lokasi pertambangan dengan pemukiman warga juga cukup dekat hanya 300 meter.

Jarak yang dekat itu menyebabkan debu dari lokasi pertambangan bertebaran ke rumah-rumah warga di Kampung Kecakup, Kampung Kedung Banteng, dan Kampung Pengrango terutama pada saat musim kemarau. Sedangkan pada musim hujan, material tanah yang jatuh dari kendaraan menyebabkan jalanan licin.

“Kalau lagi musim hujan jalan di sini (Jalan Pengrango-red) licin. Sering juga di BAM terjadi kecelakaan kerja. Terakhir sopir damp truck lagi bawa mobil mungkin tahu mobilnya mau roboh terus loncat malah ketimpa mobilnya, kondisinya hancur,” kata warga Pengrango yang tidak disebutkan namanya, Sabtu (2/1).

Sementara itu, salah seorang pekerja PT Waskita Beton Precast yang juga tidak mau disebutkan namanya mengatakan, kegiatan pertambangan di Desa Pengarengan dan Desa Ukirsari menyebabkan kerusakan lingkungan yang cukup parah.

“Informasi dari para orang tahu di sini kegiatan pertambangan sudah berlangsung sejak tahun 1995 dan pembebasan lahan dilakukan pada 1994. Dulu di sini sore hawanya sudah dingin sekarang malam juga kadang masih panas,” katanya.

Banyak dampak lain yang disebabkan dari kegiatan pertambangan di wilayahnya, salah satunya sering meluapnya kali Klebar karena banyak material pertambangan yang masuk ke kali sehingga menyebabkan pendangkalan.

“Kalau di hulunya sini jarang terjadi banjir karena sungainya dalam tapi di hilirnya di Desa Margagiri sering terjadi banjir karena di sana ada penyempitan sungai. Pada awal 2020 (7 Januari-red) sempat terjadi pemblokiran jalan. Sebelum-sebelumnya juga memang sering terjadi banjir,” ujarnya.

Ia mengungkapkan, pertambangan di Bojonegara terbesar dilakukan oleh PT BAM dan hasil produksinya dijual ke luar daerah. “Informasinya untuk BAM dalam sebulan bisa mengirim hasil produksinya ke luar daerah mencapai enam tongkang waktu kondisi normal, kalau sekarang karena Covid-19 kurang hapal,” tuturnya.

Adapun jenis produk yang dihasilkan dari kegiatan pertambangan yaitu berupa abu batu, split, sirdam atas beskos, screning untuk hotmik jalan, dan makadam atau tanah uruk. “Kalau abu batu harganya Rp105.000 per kubik tapi kalau di PT Gama dihitungnya per mobil dump truk Rp400 ribu. Kalau BAM lebih mahal lagi,” ungkapnya.

MENGANCAM KEHIDUPAN

Terpisah, pemerhati lingkungan Bojonegara Suherman mengatakan, kerusakan lingkungan di Kecamatan Bojonegara perlu menjadi perhatian semua pihak karena dalam jangka panjang bisa saja mengancam kehidupan masyarakat di Bojonegara akibat dampak dari kegiatan penambangan tersebut.

“Memang untuk saat ini yang beroperasi perusahaan-perusahaan besar semua seperti PT BAM, PT Gama dan PT Waskita. Mungkin persoalan perizinannya juga ada karena itu kan perusahaan besar tapi kalau izinnya sudan habis atau belum saya kurang tahu karena itu harus dicek ke provinsi,” katanya.

Herman mengungkapkan, 80 persen pertambangan yang ada di Kecamatan Bojonegara pemiliknya orang luar yang tinggal di Jakarta bahkan di luar negeri. “Kalau pertambangan yang kecil yang ilegal sudah enggak ada. Beberapa bulan yang lalu memang ada di bawah Gunung Santri tapi setelah ada penolakan warga tidak dilanjutkan,” tuturnya.

Ia menjelaskan, usaha tambang sangat menjanjikan dan memberikan keuntungan besar dan harga yang diberikan masing-masing perusahaan berbeda-beda. “Kalau BAM harganya lumayan tinggi karena batunya bagus. PT BAM  dalam sebulan rata-rata bisa menjual abu batu dan split tujuh sampai delapan tongkang. Untuk ngisi tongkat sanpai penuh butuh waktu tiga hari,” ungkapnya.

Banten Raya mencoba menghubungi Manager Operasional PT BAM Grup Tb Oni Ahmad untuk menanyakan terkait dengan aktivitas penambangan yang dilakukan oleh PT BAM namun belum mendapat jawaban hanya mengajak pertemuan minggu depan. “Ketemu minggu depan saja ya insya Allah ada waktu,” kata Oni.

Kegiatan penambangan secara besar-besaran juga terjadi di Kecamatan Puloampel. Dari data yang ada di Bapenda Kabupaten Serang terdapat 17 perusahaan pertambangan seperti PT Alfa Granitama, PT Aldo HS Sejahtera, PT Berlian Sarana Utama, PT Diaz Pratama Utama, PT Gunung Gloria, PT Gunung Sakti Abadi, dan PT Fajar Angkasa Mandiri.

Kemudian, Koperasi Pegawai Maritim Tanjung Priok (Kopegmar), PT Batu Anugerah Perkasa, PT Penta Stone Abadi, CV Arif Jaya Utama, CV Putra Tunggal, PT Batu Kita Bersama, PT Batu Wangi Properties, PT Sakti Putra Wulanpurnama, dan PT Arsyindo Panca Mitra. Namun selain perusahaan itu diduga ada kegiatan penambangan yang tidak mengantongi izin atau ilegal.

Ketua Karang Taruna Kecamatan Puloampel Luki Sosiawan menyebutkan, titik lokasi penambangan di Kecamatan Puloampel sangat banyak dan hampir di setiap desa ada. Jumlah terbanyak di Desa Puloampel dan di Desa Margasari. “Mayoritas pemiliknya orang luar, orang sini paling ikut usaha dan bekerja saja,” kata Luki.

Dalam beberapa tahun terakhir, Luki menuturkan, kegiatan penambangan dengan skala kecil marak terjadi dan diduga kegiatan tersebut tidak mengantongi izin. “Sering dari Polda turun menutup sementara ketika ditanya izinya tidak ada. Pertambangan yang bodong di Kecamatan Puloampel ini jumlahnya puluhan,” paparnya. (tanjung/alt)