Warga Keluhkan Pemblokiran Jalan Akibat Sengketa Lahan Perusahaan

CIKUPA – Warga Desa Bojong, Kecamatan Cikupa, Kabupaten Tangerang mengeluhkan adanya aksi pemblokiran akses jalan masuk ke lingkungan mereka yang terjadi Selasa (14/4) diduga oleh PT Sinar Masanda Industri (SMI) di desa tersebut.

Salah satu yang mengeluhkan pemblokiran jalan tersebut adalah Caswati. Menurutnya, tindakan tersebut menghambat akses beraktivitas. “Warga di sini jelas sangat terganggu dengan kondisi seperti ini. Karena aktivitas keluar-masuk kami agak sulit akibat pemblokiran akses jalan ini,” katanya kepada wartawan, Kamis (16/4).

Wanita yang tinggal di RT02/ RW01 Desa Bojong itu menyebut, pemblokiran akses jalan merupakan buntut dari persoalan sengketa lahan yang melibatkan PT SMI dan PT Samcro Hyosung Adilestari (SHA). Menurut Wati, kedua perusahaan yang lokasi pabriknya berdekatan tersebut sama-sama mengklaim bahwa lahan berupa akses jalan tersebut milik mereka.

“Sudah dua hari ini akses jalan diportal. Kabarnya ada sengketa lahan. Tapi kenapa kami, warga di sini yang menjadi korban? Ini kan tidak adil. Apa tidak bisa diselesaikan secara baik-baik oleh kedua belah pihak,” tukasnya.

Sementara Nining, warga lainnya mengaku, khawatir jika pemblokiran jalan tersebut akan berdampak buruk bagi masa depan mereka. Terlebih, sebagian besar warga yang tinggal di sana, bekerja di salah satu perusahaan yang bersengketa.

“Kalau perusahan tempat kami bekerja bangkrut akibat tidak bisa lagi beroperasi karena adanya pemblokiran akses jalan ini, ya tentu kami khawatir akan ada PHK nantinya. Lalu bagaimana dengan nasib kami, siapa yang mau tanggung jawab kalau sampai ada PHK,” tutur Nining.

Ia pun berharap pihak yang berwenang seperti Pemerintah Kabupaten Tangerang maupun aparat kepolisian setempat bisa melakukan mediasi guna menyelesaikan persoalan tersebut. Terlebih, peristiwa ini terjadi di tengah pandemi corona virus disease (Covid-19) yang melanda bangsa ini. “Semua serba susah karena Corona, ya tolong juga jangan buat kami tambah susah,” imbuhnya.

Terpisah, perwakilan managemen PT SHA Wardy tak menampik soal adanya aksi pemblokiran akses jalan akibat sengketa lahan antara perusahaannya dengan PT SMI. Bahkan, PT SHA yang memproduksi magic tape (pita perekat) itu ikut menyayangkan pemblokiran jalan secara sepihak yang dilakukan managemen PT SMI. Karena menghambat aktivitas dan berakibat pada kerugian.

“Sudah dua hari ini kami tidak bisa kirim barang keluar karena adanya pemblokiran sepihak itu. Kerugian kami mencapai kurang lebih Rp100 juta,” kata Wardy kepada wartawan, Kamis (16/4).

Ia menuturkan, pemblokiran akses jalan tersebut dilatarbelakangi persoalan sengketa lahan antara PT SHA dan PT SMI. Lahan dimaksud, berupa akses jalan masuk ke pabrik. Dimana, PT SMI yang kabarnya memproduksi outsole atau tapak sepatu untuk merek dagang Nike itu mengklaim bahwa akses jalan menuju pabrik tersebut merupakan milik mereka. Padahal, PT SHA telah memiliki bukti kepemilikan tanah berupa sertufikat dan akte jual beli (AJB) yang terbit sejak tahun 1989. Menurutnya, persoalan sengketa lahan tersebut sedang dalam proses hukum di Pengadilan Negeri (PN) Tangerang dan belum inkrah.

“Mereka klaim punya sertifikat, kami pun sama punya sertifikat dan bukti AJB yang terbit tahun 1989. Jadi lebih dulu kami ada di sini dibanding mereka. Tapi kenapa mereka menghalang-halangi aktivitas kami? Dan pasca gugatan kami layangkan, mereka mulai mengintimidasi kami,” bebernya.

Sementara itu, hingga berita ini dilansir belum ada konfirmasi dari managemen PT SMI terkait pemblokiran akses tersebut. (Wifi)