Warga Keukeuh Tolak Geothermal di Padarincang

0
665
Warga berkumpul untuk menolak proyek geothermal di Desa Batukuwung, Kabupaten Serang, Senin (23/11).

SERANG – Ribuan massa mengadang aparat yang membawa alat berat ke lokasi proyek geothermal di Kecamatan Padarincang, Kabupaten Serang. Massa menolak proyek pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTB) itu.

Pantauan Radar Banten, ribuan masyarakat sudah berkumpul di dekat lokasi proyek geothermal di Desa Batukuwung, Kecamatan Padarincang, Kabupaten Serang, sejak pukul 09.00 WIB. Massa terdiri dari tokoh masyarakat, santri, mahasiswa, dan organisasi kemasyarakatan (ormas).

Pada pukul 17.30 WIB, sejumlah kendaraan aparat dari marinir yang melakukan pengawalan alat berat datang melintas. Massa langsung turun ke jalan untuk mengadang. Akhirnya, aparat tidak bisa menembus sekumpulan massa yang mengadang di tengah jalan dan berputar balik.

Tokoh Masyarakat setempat Aunillah mengatakan, warga mendengar kabar jika alat berat akan didatangkan ke lokasi proyek geothermal melalui surat pemberitahuan dari perusahaan kepada instansi TNI-Polri di Banten. Alat berat itu rencananya untuk membuka palang yang dipasang oleh warga ke akses menuju proyek geothermal.

Mendengar kabar itu, kata dia, massa langsung melakukan koordinasi untuk melakukan pengadangan. Warga tetap menolak proyek geothermal di Kecamatan Padarincang. “Masyarakat akan tetap mempertahankan untuk menolak proyek geothermal,” katanya kepada Radar Banten di Desa Batukuwuung.

Ia mengatakan, penolakan warga atas proyek geothermal itu sudah dilakukan sejak lima tahun lalu. Bahkan, massa juga sudah melakukan audiensi dengan pemerintah baik di tingkat kabupaten, provinsi, hingga pemerintah pusat. “Bahkan, kita sampai audiensi dengan DPR RI,” ujarnya.

Dikatakan Aunillah, palang yang dipasang warga di akses menuju proyek geothermal itu merupakan bentuk penolakan dari warga. Karena itu, pihaknya mengaku akan mempertahankan palang itu agar tidak dibongkar. “Kita akan tetap standby untuk mengadang di sini,” ucapnya.

Di tempat yang sama, tokoh masyarakat lainnya Umi Eha mengatakan, penolakan warga atas proyek itu mempunyai alasan yakni tidak ingin lingkungan rusak karena proyek tersebut. “Kita hanya ingin menjaga tanah kelahiran saja,” katanya.

Ia mengatakan, kerusakan lingkungan itu sudah mulai terjadi sejak proyek itu dilakukan. Salah satunya, banjir bandang yang terjadi pada 2018. “Padahal sebelumnya tidak ada itu banjir bandang di Padarincang, sejak ada proyek ini saja,” ucapnya.

Dikatakan Umi, proyek geothermal itu dibangun di atas gunung Prakasak. Proyek itu baru sebatas pemerataan tanah dan pendirian posko-posko. “Baru sebatas itu saja sudah menimbulkan bencana alam, apalagi nanti kalau sudah jadi,” katanya.

Sementara itu, pihak pelaksana proyek geothermal belum bisa dikonfirmasi atas kejadian tersebut. Presiden Direktur PT Inti Bumi Perkasa Darmizon Pikiang saat dihubungi wartawan melalui telepon seluler tidak menjawab. Saat dikonfirmasi melalui pesan singkat WhatsApp pun tidak merespons. (jek/alt)