Warga Minta Lumpur Pasir Irigasi Cimarga Dikeruk

Air dari saluran irigasi Cimarga di Kampung Cilutung, Desa Kalanganyar, Kecamatan Kalanganyar meluap ke jalan raya, kemarin. Warga berharap masalah tersebut segera ditangani.

CIMARGA – Sejumlah warga di Kecamatan Kalanganyar mengusulkan endapan lumpur pasir di saluran irigasi Cimarga dikeruk. Tujuannya, supaya saluran irigasi dari Situ Palayangan hingga Aweh, Kecamatan Kalanganyar, berfungsi dengan baik dan dapat mengairi puluhan hektare sawah milik masyarakat.

Sumarna, warga Mekarsari, Kecamatan Kalanganyar menyatakan, saluran irigasi Cimarga dari Situ Palayangan sampai Kalanganyar mengalami pendangkalan yang cukup parah. Kondisi tersebut terjadi akibat endapan lumpur pasir dari tambang pasir di wilayah Cimarga dan sekitarnya. Untuk itu, ketika musim penghujan, air dari saluran irigasi meluap ke jalan raya sehingga mengganggu para pengendara yang melintas di Jalan Raya Leuwidamar.

“Ketebalan sedimentasi oleh lumpur pasir di saluran irigasi Cimarga lebih dari setengah meter. Kondisi tersebut akibat limbah dari tambang pasir di Cimarga. Akibatnya, persawahan warga menjadi terganggu,” kata Sumarna kepada Radar Banten, kemarin.

Pada musim kemarau, lanjutnya, saluran irigasi tersebut kering sehingga areal persawahan di Kalanganyar mengalami kekeringan. Tapi, kalau musim hujan air meluap ke jalan raya dan permukiman penduduk. Untuk itu, solusi yang dapat dilakukan pemerintah daerah, yakni dengan melakukan pengerukan endapan lumpur pasir. Tujuannya, agar air dari Situ Palayangan bisa disalurkan ke sawah petani di Kalanganyar.

“Kita pun minta kepada Pemkab Lebak memperbaiki tanggul irigasi yang rusak,” ungkapnya.

Bahrudin, pengendara sepeda motor di Jalan Raya Leuwidamar mengaku terganggu dengan luapan air dari saluran irigasi Cimarga tersebut. Dia meminta kepada Pemkab Lebak untuk segera melakukan pengerukan lumpur pasir. Jika tidak, pemkab bisa meninggikan tanggul di lokasi tersebut. Dengan harapan, air dari saluran irigasi tidak lagi tumpah ke jalan raya.

“Jalan raya menjadi licin sehingga membahayakan masyarakat yang melintas. Kita minta segera ditangani, jangan dibiarkan,” paparnya.

Menurutnya, tumpahan air dari saluran irigasi Cimarga sering terjadi di musim penghujan. Debit air yang tinggi membuat saluran irigasi tidak bisa menampung air sehingga meluber ke jalan raya dan permukiman penduduk.

“Tumpahan air dari saluran irigasi berpotensi merusak tanggul. Bisa saja, tanggul di lokasi tersebut jebol,” ungkapnya.

Kepala Bidang Sumber Daya Air Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Lebak Dade Yan Apriandi menyatakan, pendangkalan di saluran irigasi Cimarga akibat limbah tambang pasir. Karena itu, pihaknya sering melakukan pengerukan endapan pasir di saluran irigasi tersebut. Namun, endapan lumpur terus bertambah karena di daerah hulu ada tambang pasir yang diduga limbahnya masuk ke Situ Palayangan dan mengalir ke saluran irigasi.

“Di sana ada beberapa tambang pasir. Kondisi tersebut membuat saluran irigasi cepat dangkal akibat endapan pasir. Jadi, bukan lumpur, tapi pasir,” terangnya.

Dade meminta kepada pengusaha tambang pasir untuk tidak membuang limbahnya ke Situ Palayangan atau saluran irigasi. Jika kondisi tersebut terus terjadi maka persoalan pendangkalan Situ Palayangan dan saluran irigasi Cimarga tidak akan pernah terselesaikan.

“Walaupun tanggul irigasi ditinggikan, saya yakin enggak akan menyelesaikan persoalan. Kita minta kesadaran semua pihak, termasuk masyarakat agar tidak buang sampah ke saluran irigasi dan terpenting mau merawat saluran irigasi agar tetap baik,” katanya. (Mastur/RBG)