Warga Protes Alun-alun Cilegon Dipagar

CILEGON – Pemkot Cilegon melalui Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Perkim) Kota Cilegon membangun pagar mengelilingi Alun-alun Kota Cilegon setinggi dua meter. Saat ini, proyek tersebut pun sedang proses pengerjaan.

Pantauan Radar Banten, sejumlah tiang-tiang pagar sudah berdiri. Kegiatan itu sendiri menuai protes dari sejumlah masyarakat. Pembangunan pagar setinggi dua meter dinilai tidak tepat untuk memagari ruang publik. Pagar tersebut dinilai terlalu tinggi sehingga bisa menghalangi pandangan masyarakat dari luar alun-alun. Terlebih jika pagar tersebut nantinya dibuat tertutup.

Ketua Ormas Kesatuan Komando Pembela Merah Putih (KKPMP) Cibeber-Cilegon Jajat Sudrajat menuturkan, sebagai tempat publik, alun-alun harus bisa diakses oleh pandangan masyarakat dengan cara mudah. “Kalau itu tertutup seperti benteng, seperti gudang, itu menurut saya betul apa yang dikatakan masyarakat membuat alun-alun terkesan eksklusif,” ujarnya, Jumat (29/11).

Kata Jajat, alun-alun merupakan ciri khas suatu kota sehingga harus mudah diakses dan dinikmati oleh masyarakat. Tidak hanya sekadar fasilitas yang ada di dalam alun-alun, masyarakat pun harus bisa secara mudah menikmati keindahan alun-alun dari luar.

Dengan pagar setinggi dua meter itu, menurutnya, alun-alun tidak akan mudah dinikmati oleh masyarakat Cilegon maupun luar yang sedang transit atau melintas menuju Sumatera. “Karena itu, saya tidak sepakat setinggi dua mater, tidak sepakat kalau alun-alun tertutup. Kalau alun-alun tertutup, bukan hanya terkesan ekslusif, tapi akan menjadi tempat yang akan terkesan negatif. Sedangkan terbuka saja terbukti banyak orang mojok, minum-minuman di tengah malam. Apalagi tertutup, enggak kelihatan di luar,” tuturnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Perkim Kota Cilegon Azis Setia Ade Putra menjelaskan, pertimbangan Pemkot Cilegon membangun pagar setinggi dua meter untuk lebih memperindah area alun-alun secara keseluruhan. “Meningkatkan estetika, dulu yang dari KS kan biasa saja, masa alun-alunnya bagus, tapi pagarnya biasa saja,” ujar Ajis.

Ia menilai pagar setinggi dua meter tidak akan menimbulkan kesan eksklusif karena pagar yang dibuat tidak tertutup, selain itu, banyak akses masuk yang bisa digunakan oleh masyarakat untuk bisa menikmati suasana alun-alun.

Menurutnya, pemagaran itu tak jauh beda dengan dilakukan pemerintah pada area Monumen Nasional (Monas). Pagar tinggi dibuat bukan untuk memberikan kesan ekslusif, tapi memperindah sekaligus demi keamanan serta kenyamanan masyarakat.

Untuk lebih memanjakan masyarakat, dalam waktu bersamaan, Pemkot Cilegon tidak hanya membangun pagar setinggi dua meter, tapi juga membuat penutup area kuliner serta play ground yang berada tepat di dekat air mancur. “Semua itu ditarget selesai pada Desember,” tuturnya. (bam/Ibm/ira)