Warga Serang Merantau ke Papua Jualan Bubur

0
251 views
Warga Banten terdampak kerusuhan di Sentani, Jayapura yang sudah didata Pemprov Banten untuk dipulangkan ke Banten.

JAYAPURA – Tim kemanusiaan Pemprov Banten membuka posko kemanusiaan di Sentani, Jayapura, Kamis (3/10). Posko dibuka untuk mengumpulkan warga Banten yang masih tertahan akibat kerusuhan Wamena dan sekitarnya.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana (BPBD) Banten yang juga Ketua Tim Kemanusiaan Provinsi Banten E Kusmayadi mengatakan, pendataan sementara sudah ada 16 jiwa yang terdiri dari enam kepala keluarga (KK) dari Kabupaten Serang dan Kota Serang. “Kita akan terus lakukan pemantauan di beberapa posko pengungsian untuk mencari pengungsi orang Banten,” kata Kusmayadi di Sentani.

Dari data yang terkumpul, warga Banten tersebut mayoritas berprofesi sebagai pedagang bubur dan guru. Kata Kusmayadi, tim rencananya akan melakukan penyisiran sampai Senin (7/10) mendatang.

Kumasyadi juga mendapatkan laporan ada enam jiwa lagi orang Banten yang berada di Wamena. Orang tersebut sedang dievakuasi untuk dibawa ke posko di Sentani.

Tim kemanusiaan Banten di lapangan dibantu aparat keamanan setempat. “Alhamdulillah pengungsi dari Banten dalam keadaan sehat dan tidak ada yang jadi korban luka-luka apalagi sampai meninggal,” kata Kusmayadi.

Amisah, orangtua dari Resti Ardini yang saat ini masih berada di Sentani, Jayapura, mengaku terus kepikiran anak perempuannya. Meski sang anak sedang bersama suaminya, ia tetap saja mencemaskan kondisi anaknya.

“Namanya orangtua pasti kepikiran terus, karena anak cerita banyak yang meninggal, rumah-rumah dibakaran. Jadi, tiap malam enggak bisa tidur saya,” akunya saat ditemui Radar Banten di kediamannya di Lingkungan Dalung, Kelurahan Dalung, Cipocokjaya, Kota Serang, Rabu (2/10).

Apalagi anaknya sedang mengandung lima bulan. Selain itu, ada cucunya atau anak pertama Resi yang baru berusia empat tahun. “Saya berdoa semoga aman dan bisa ada bantuan biar anak dan cucu saya bisa pulang,” harapnya.

Resi Ardini adalah istri dari Nurhasanudin. Sehari-hari Nurhasanudin bekerja sebagai pedagang bubur ayam. Namun, sejak pecah kerusuhan, ia tidak bisa lagi menjalankan usahanya. “Gimana mau jualan, baru buka sudah diusir-usir dirusakin gerobaknya,” ujar Amisah.

Perasaan yang sama dirasakan suami Amisah, Satiman. Ia merasa khawatir karena mendengar langsung cerita menantunya yang melihat langsung kesadisan di Papua. Bukan saja rumah dan bangunan, massa menyasar para pendatang. “Enggak cuma orang dewasa, anak-anak pun tetap jadi sasaran dan dibakar,” cetusnya. (Ken Supriyono)