Waspada! Cilegon Dilintasi 72 Ribu Hewan Pembawa Rabies

Petugas DKPP saat memberikan vaksin kepada anjing peliharaan milik masyarakat.

CILEGON – Lalu lintas pengiriman hewan penular rabies (HPR) seperti anjing, kucing, kera, monyet, kelelawar, dan musang di Kota Cilegon cukup tinggi setiap tahunnya. Jumlahnya mencapai angka 72 ribu per tahun.

Sayangnya kondisi itu tidak diimbangi dengan jumlah vaksin rabies yang dimiliki oleh Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Cilegon. Saat ini vaksin tersebut tinggal 100 dosis.

Kepala Seksi Kesehatan Hewan (Keswan) pada DKPP Cilegon Dr Dina Safitri,  menjelaskan, jumlah lalu lintas pengiriman HPR itu bersumber dari data  Balai Karantina Pertanian (BKP) Kelas II Cilegon.

Data itu merupakan pengiriman HPR yang berasal dari Jawa Barat melalui Cilegon menuju Sumatera. “Dari beberapa anjing itu, barangkali ada yang tidak lolos pemeriksaan karantina hewan. Bisa jadi ada yang ditinggal di Cilegon, lalu ada hewan lokal yang ikut tertular,” ujarnya, Minggu (6/4).

Jumlah HPR  yang berada di Kota Cilegon saja yang tercatat sampai saat ini  mencapai 700 ekor.  500 di antaranya adalah anjing. Sisanya hewan-hewan lain, sehingga totalnya mencapai 700 HPR.

Dengan data itu, menurut Dina, vaksin yang dimiliki oleh DKPP dinilai sangat tidak seimbang dengan jumlah HPR yang ada. Sambung Dina, awalnya dinas memiliki stok 300 dosis vaksin rabies, namun vaksin tersebut telah digunakan 200 dosis. “Meskipun Kota Cilegon tidak termasuk daerah rawan kasus rabies, namun potensi munculnya penyakit ini tetap ada,” katanya.

Sementara itu, Kepala DKPP Cilegon Wawan Hermawan mengatakan, penyakit anjing gila atau dikenal dengan nama rabies merupakan suatu penyakit hewan menular akut yang disebabkan oleh virus famili Rhabdoviridae Genus Lysavirus, bersifat zoonosis (menular dari hewan ke manusia) dan sulit diberantas. Sekali telah muncul gejala klinis penyakit rabies pada penderita, kasus penyakit baik pada hewan maupun pada manusia selalu diakhiri dengan kematian. “Penyakit zoonosis ini membawa kekhawatiran dan keresahan bagi masyarakat,” ujarnya.

Pemberikan vaksin rabies menurutnya cukup penting mengingat Cilegon berdekatan dengan pulau Sumatera yang merupakan daerah endemis rabies. Kemudian Cilegon sebagai kawasan industri dan tujuan pariwisata menjadikan minat masyarakat untuk memelihara HPR meningkat.

Wawan menuturkan, pemberian vaksin rabies memang tanpa biaya alias gratis. DKPP melayani pemberian vaksin rabies gratis di Pusat Kesehatan Hewan (Puskeswan) di Cibeber. “Vaksin rabies memang gratis. Kecuali kalau di klinik swasta, kalau tidak salah sekitar Rp100 ribu. Ini memang program pemerintah pusat, bahkan Pemprov Banten menargetkan Banten zero rabies di 2018 ini,” ujarnya.

Pentingnya pemberian vaksin rabies kepada HPR pun menurutnya ditunjukan oleh Pemprov Banten melalui Surat edaran Gubernur Banten nomor 520/151-DPP/2010 tentang kewaspadaan rabies di Provinsi Banten.

Surat edaran itu menyebutkan bahwa HPR dari daerah tertular dilarang masuk ke daerah bebas terancam. Daerah yang berbatasan dengan daerah tertular dilakukan vaksinisasi untuk menciptakan daerah penyangga (immune helt) sehingga dapat mencegah penularan baru penyakit anjing gila (rabies). (mg09/sr/ags/RBG)