Detik-detik kapal nelayan saat dikandaskan ombak di pantai Puger, Kabupaten Jember, Jawa Timur, Kamis (19/7). Foto: Radar Jember

JAKARTA – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) terus menyampaikan perkembangan terkini prakiraan tinggi gelombang di perairan Indonesia.

Kabag Humas BMKG Hary Tirto Djatmiko mengatakan, mulai 22 Juli sampai 26 Juli bakal ada peningkatan angin timuran dengan kecepatan mencapai 37 km/jam. Dengan kuatnya angin tersebut, maka menyebabkan adanya gelombang yang mencapai 6 meter di perairan Indonesia. Total ada tujuh titik perairan Indonesia yang berpotensi mengalami gelombang setinggi 4-6 meter. Yaitu perairan barat Kepulauan Mentawai, perairan Bengkulu hingga Lampung, dan Selat Sunda bagian selatan.

Kemudian gelombang 4-6 meter diperkirakan juga bakal terjadi di perairan selatan Banten, perairan selatan Jawa sampai Sumbawa, selat Bali – selat Lombok – selat Alas bagian selatan, serta di perairan selatan pulau Sumba.

“Dengan tingginya gelombang itu BMKG menghimbau supaya nelayan, khususnya dengan perahu kecil, tidak memaksakan diri untuk melaut,” kata dia sebagaimana dilansir JPNN.

Kepala BMKG Dwikorita Karnawati juga menuturkan, ombak tinggi akan terjadi pada 24 hingga 25 Juli nanti. Tinggi ombak pada Selasa dan Rabu nanti bisa mencapai enam meter. ”Gelombang tinggi sudah terjadi sejak Mei lalu. Diprediksi hingga Oktober yang tingginya mencapai 4 meter,” kata perempuan yang akrab disapa Rita itu.

Gelombang tinggi terjadi di Barat Sumatera, Selatan Pulau Jawa, hingga Nusa Tenggara Barat (NTB).

Setelah 25 Juli, gelombang berangsur-angsur turun. Namun bukan berarti masyarakat tidak waspada. ”Untuk ukuran kapal nelayan dan kapal tongkang itu masih membahayakan,” bebernya.

Rita menjelaskan jika kondisi gelombang tinggi ini merupakan kondisi abnormal. Indonesia memasuki kondisi yang dipengaruhi perubahan iklim global. ”Ada perubahan anomali-anomali, kejadian perubahan siklon tropis. Ilmu cuaca yang turun temurun diporak-porandakan itu karena banyak dari kita yang kurang siap,” ujarnya, Minggu (22/7).

Fenomena global yang dimaksud Rita adalah adanya tekanan udara tinggi di Samudera Hindia sebelah timur Madagaskar. Di belahan bumi lain, Australia, tekanan anginnya rendah. ”Sehingga ada aliran udara dengan kecepatan tinggi dari sebelah timur Madagaskar sampai dengan Pasifik. Membelok ke sebelah selatan Indonesia karena menabrak Australia,” tuturnya.

Aliran udara ini bisa mencapai kecepatan 50 km/jam. ”Bisa dibayangkan Kalau kapal nelayan menghadapi 50 km per jam. Itu cuma mukjizat aja,” ungkapnya.

Selain itu, siklon tropis juga terbentuk di Filipina. Rita memprediksi aka nada cuaca akstrem di Indonesia Timur. Bedanya, cuaca ekstrem akibat siklon tropis ini disertai hujan yang sangat lebat. ”Siklon tropis itu udara basah menyebabkan hujan,” ungkapnya.

Dia mengatakan jika sudah melaporkan hasil perkiraan dari BMKG kepada beberapa pihak yang dirasa membutuhkan. Kementerian Perhubungan menjadi salah satu steakholder yang menerima laporan dari BMKG.

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi yang ditemui dalam kesempatan yang sama mengatakan jika laporan cuaca ini memang dibutuhkan dalam pelayaran. Namun di sisi lain dia mengingatkan agar kompetensi dan kelayakan kapal juga diperhatikan agar tidak terjadi kecelakaan pelayaran.

”Saya meminta pemda dan syahbandar berkoordinasi. Di selatan Jawa banyak kapal nelayan, saya akan ajak diskusi KKP (Kementerian Kelautan dan Perikanan, Red),” ujarnya. (lyn/wan/JPNN/JPG)