Ilustrasi

SERANG – Kasus demam berdarah dengue (DBD) di Kota Serang tahun 2019 ini cenderung meningkat. Hingga Mei lalu sudah mencapai 178 kasus.

Sementara pada 2018 hanya 63 kasus dan 2017 sebanyak 135 kasus dengan korban meninggal satu orang.

Staf Pengelola Program Pengendalian Penyakit Berbasis Binatang (P2PB) pada Dinas Kesehatan Kota Serang Iwan Kuswono menyebut, pada 2019 bakal mengalami siklus tiga tahunan seperti kasus pada 2016. “Dulu siklusnya per lima tahun, sekarang maju menjadi siklus tiga tahunan. Bahkan cenderung meningkat berapakali lipat dari tahun sebelumnya,” katanya kepada Radar Banten, Senin (10/6).

Kata Iwan, efek curah hujan yang tidak menentu menjadi penyebab peningkatan tersebut. “Curah hujan membuat banyak genangan-genangan air hujan di tempat atau wadah bekas botol, plastik dan lain-lain. Biasanya terjadi di sekitar rumah dan memudahkan nyamuk aedes berkembang biak lebih cepat dibanding air biasa,” katanya.

Kata dia, menjaga kebersihan lingkungan rumah menjadi salah satu solusi untuk mencegah maraknya kasus tersebut. Sebab, yang paling efekti untuk mencegah berkembangnya nyamuk aedes aegypti dengan cara melakukan gerakan penanggulangan sarang nyamuk (PSN).

“Lebih efektif gerakan 3M plus, bukan dengan fogging karena fogging hanya membunuh nyamuk dewasa tidak untuk jentiknya,” kata Iwan.

Kendati demikian, pihak Dinkes Kota Serang melalui puskesmas setempat tetap melakukan penyemprotan atau fogging pada daerah yang sudah terjadi kasus. “Tapi kita lebih tekankan pada pentingnya dengan 3M plus sebagai penanggulangan penyakit DBD dan tidak terpaku pada fogging,” ujarnya. (Ken Supriyono)