Waspada Profit Taking, IHSG Diprediksi Lanjutkan Penguatan

Dok. JawaPos.com

PERGERAKAN Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan saham awal pekan ini diperkirakan tetap akan melanjutkan penguatan. Meski demikian, aksi ambil untung tetap harus diwaspadai menyusul relatif tingginya harga sejumlah saham sektoral.

“IHSG diperkirakan bergerak bervariasi dengan support di 5375 dan resisten di 5470,” ujar analis First Asia Capital Securities, David Sutyanto, Senin (8/8), seperti dilansir JawaPos.com.

Pada perdagangan akhir pekan lalu, IHSG berhasil menembus level 5400 dan ditutup pada level 5420,2, menguat 46,3 poin (0,86%). Ini merupakan level tertingginya sejak perdagangan 27 April 2015.

Penguatan indeks terutama dipicu respon positif pasar atas rilis PDB Indonesia 2Q16 yang tumbuh 5,18% (yoy) lebih tinggi ketimbang 1Q16 yang hanya tumbuh 4,91% (yoy). Pertumbuhan ekonomi di 2Q16 tersebut juga lebih tinggi dari perkiraan Bank Indonesia (BI) sebesar 4,94% dan konsensus sejumlah ekonom 4,98%.

Nilai transaksi saham di Pasar Reguler akhir pekan lalu mencapai Rp7,7 triliun dan pembelian bersih asing mencapai hampir Rp1,5 triliun.

Sepekan terakhir IHSG berhasil menguat 3,9% melanjutkan tren bullish pasar saham yang terbentuk sejak akhir Juni lalu menyusul disahkannya UU Tax Amnesty.

Pergerakan pasar saham saat ini didominasi sejumlah sentimen positif baik itu berasal dari domestik maupun global dan kawasan.

Pasar saham global akhir pekan lalu juga kembali melanjutkan tren bullish. Indeks saham Eurostoxx di kawasan Uni Eropa naik 1,4% di 2973,71.

Di Wall Street indeks DJIA dan S&P masing-masing menguat 1% dan 0,8% di 18543,53 dan 2182,87. Indeks MSCI Emerging Market akhir pekan lalu menguat 0,6%.

Selama sepekan indeks DJIA dan S&P di Wall Street menguat masing-masing 0,6% dan 0,4%. Sentimen positif Wall Street akhir pekan lalu digerakkan dengan data tenaga kerja Juli di AS yang mencatatkan penambahan angka kesempatan kerja 255 ribu di atas estimasi 180 ribu dengan tingkat pengangguran 4,9%.

Penambahan angka tenaga kerja tersebut membuat pasar optimis atas perkembangan ekonomi AS di tengah tantangan perlambatan ekonomi global. Ini membuka kembali kemungkinan The Fed akan menaikkan tingkat bunganya di akhir tahun ini. (nas/JPG)