Ilustrasi. Foto: CHW

AWAL mengenal rematik atau peradangan sendi kronis yang disebabkan gangguan autoimun hanya terjadi pada orang tua. Ternyata anak-anak pun bisa merasakan penyakit yang bisa membuat seluruh tulang linu itu.

Dua tahun lalu, Doni merasakan nyeri dan kaku di sendi-sendinya. Ketika itu, usianya baru sepuluh tahun. Awalnya orang tua Doni tidak mengira bahwa anaknya terkena rematik. Mereka beranggapan, keluhan tersebut muncul karena kecapekan saja.

Ibu Doni kemudian memeriksakan anaknya ke dokter spesialis anak. Setelah memeriksa, dokter spesialis anak merekomendasikan untuk membawa Doni ke dokter spesialis ortopedi. Ternyata, Doni menderita rematik.

Dalam dunia medis, rematik yang diderita anak-anak disebut juvenile rheumatoid arthritis (JRA). Dokter spesialis ortopedi RSUD dr Soetomo dr Sulis Bayusentono SpOT menuturkan, gejala yang sering terjadi adalah nyeri pada persendian penderita.

”Biasanya juga mengalami kekakuan,” ucapnya, seperti dilansir JawaPos.com.

Nyeri sendi tidak hanya dirasakan di satu bagian. Namun, nyaris di seluruh persendian penderita. Durasi nyerinya pun bisa dirasakan hingga lebih dari enam minggu. Dampaknya, tentu akan ada gangguan mobilitas. ”Penyakit ini tergolong penyakit autoimun. Artinya, menyerang kekebalan sendiri,” tuturnya.

Penyebab rematik belum bisa dipastikan. Mereka yang punya riwayat keturunan rematik bisa saja memiliki keturunan JRA. Kecenderungannya, penyakit tersebut lebih sering diderita anak perempuan daripada anak laki-laki. Terapi yang paling tepat tentu dengan penanganan dokter. Dengan begitu, jika si kecil mengeluh daerah persendiannya nyeri atau kaku dalam waktu lama, dia harus diperiksakan ke dokter.

Menurut dokter yang juga berpraktik di RSI Jemursari itu, penanganan dini tentu akan mengurangi risiko untuk menjadi lebih parah. Untuk meringankan rasa nyeri, bagian yang sakit bisa dikompres air hangat.

Selain Sulis, dr Teddy Heri Wardana SpOT memiliki pasien rematik dengan usia muda. Ada yang berusia 19 tahun, ada pula yang 22 tahun. ”Keluhannya sama dengan rematik pada umumnya,” tutur dia.

Spesialis ortopedi RSUD dr Soetomo tersebut menambahkan, JRA memiliki manifestasi lebih berat daripada mereka yang baru mengalami rematik saat dewasa. Jika tidak ditangani dengan baik, JRA bisa berefek pada gangguan pertumbuhan atau peradangan pada mata. (lyn/c7/jan/JPG)