Waspada Virus dari Tiongkok, KKP Perketat Aktivitas Kapal

Petugas KKP Banten memeriksa crew atau ABK kapal yang berasal dari Tiongkok sebelum sandar di pelabuhan. Petugas menggunakan alat pengukur suhu untuk memastikan jika crew kapal dalam keadaan sehat.

CILEGON – Mewaspadai penyebaran virus baru yang muncul di Wuhan, Tiongkok, Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) Banten memperketat aktivitas kapal yang berasal dari luar negeri. Diketahui, virus tersebut menyebabkan manusia menderita penyakit pneumonia. Sikap kewaspadaan itu dilakukan seiring dengan adanya surat edaran dari Kementerian Kesahatan (Kemenkes) Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit tentang Kesiapsiagaan dalam Upaya Pencegahan Penyebaran penyakit Pneumonia dari Negara Republik Rakyat Tiongkok ke Indonesia.

Kepala KKP Banten Wilpren Gultom menjelaskan, di Tiongkok sudah 44 orang yang terjangkit virus tersebut, dua di antaranya meninggal dunia. Saat ini, pemerintah Tiongkok bersama World Healt Organization (WHO) sedang meneliti penyakit mematikan itu.

Sejak tanggal 7 Januari lalu, Kemenkes telah menginstruksikan kepada seluruh KKP yang ada di Indonesia untuk mewaspadai penyebaran penyakit itu. Jika di Bandara Soekarno Hatta pemerintah memasang alat termo scaner, di Banten, KKP Banten melakukan pemeriksaan terhadap anak buah kapal (ABK) di kapal yang berasal dari luar negeri sebelum sandar di pelabuhan-pelabuhan di Banten.

“Sebelum sandar, kapal anchor dulu di tengah laut. Kita datangi, kita bawa alat pengukur suhu, kita periksa semua,” ujar Wilpren didampingi oleh Kepala Seksi Pengendalian Karantina Surveylance dan Epidemiologi (PKSE) Theresia Hermin dan Kepala Sub Bagian Tata Usaha Rudi Hidayat, Senin (20/1).

Ia melanjutkan, potensi penyebaran virus tersebut melalui jalur laut dinilai cukup kecil karena masa inkubasi penyakit itu tujuh hingga 14 hari. Sedangkan rata-rata lama perjalanan laut mencapai 40 hari.“Sebelum ada kabar virus ini pemeriksaan terus dilakukan setiap hari, tapi ini lebih ketat, petugas pun menggunakan peralatan lengkap, pakai masker dan bawa alat tembak pengukur suhu,” paparnya.

Ia mengajak masyarakat untuk tetap tenang menyikapi informasi terkait virus tersebut. Menurutnya langkah antisipasi yang bisa dilakukan oleh masyarakat adalah dengan menerapkan pola hidup bersih seperti mencuci tangan sebelum makan.

Sementara itu,  Kepala Seksi Pengendalian Karantina Surveylance dan Epidemiologi (PKSE) KKP Banten Theresia Hermin menjelaskan, gejalan penyakit pneumonia sama dengan penyakit batuk dan pilek pada umumnya.

Dugaan sementara penyakit tersebut berasal dari hewan karena 44 orang yang telah menderita mengaku menderita penyakit tersebut setelah pulang dari pasar ikan di mana di pasar itu juga diperjualbelikan berbagai macam unggas.

Sejauh ini, lanjut Theresia, belum ditemukan kasus tersebut di Indonesia. Namun, upaya kewaspadaan akan dilakukan hingga pemerintah Tiongkok menyatakan tidak ada lagi masyarakat yang menderita penyakit yang sama.

Dalam kesempatan yang sama, Kasubag TU KKP Banten Rudi Hidayat menambahkan, secara berkala petugas KKP melakukan pemeriksaan dokumen kesehatan. Misalnya, proyek memo, crew list, obat-obatan, serta maritim declaration of health (MDH).

Menurutnya, dalam satu tahun sebanyak 1.900 hingga 2.000 kapal dari luar negeri yang masuk ke Indonesia melalui perairan Banten. Rata-rata perhari sebanyak lima hingga enam kapal. Kapal-kapal tersebut berasal dari Tiongkok, Brasil, Italia, Singapura, Malaysia, dan Qatar. (bam/ibm/ira)