Waspadai Puncak Musim Kemarau

0
913 views

SERANG – Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Klas 1 Serang memperkirakan puncak musim kemarau di wilayah Banten terjadi pada Agustus. Kebakaran alang-alang menjadi salah satu yang perlu diwaspadai. Oleh karena itu, masyarakat diimbau tetap waspada dengan berbagai kondisi cuaca.

Kepala Seksi Data dan Informasi pada BMKG Kelas 1 Serang, Tarjono mengatakan, berdasarkan analisa kedeputian Klimatologi BMKG, untuk wilayah Banten secara umum telah masuk musim kemarau. “Puncaknya musim kemarau diprediksi bulan Agustus 2020. Insya Allah relatif masih aman, karena masih terjadi hujan sesekali,” ujar Tarjono kepada Radar Banten, kemarin.

Kata Tarjono, walaupun saat ini sudah mulai memasuki musim kemarau, tapi tidak menutup kemungkinan akan tetap terjadi hujan. Tetapi prakiraan sifat hujan pada musim kemarau di 2020 umumnya bersifat normal. Kecuali untuk wilayah Serang bagian Timur dan Tangerang bagian Utara sifat hujan di musim kemarau tahun 2020 di atas normal. “Dengan adanya dinamika atmosfer masih memungkinkan terjadinya hujan dengan intensitas ringan,” katanya.

Tarjono mengatakan, memasuki bulan Juli, diperkirakan curah hujan mulai berkurang. Penyebabnya, arah angin dominan dari arah Timur hingga Tenggara dengan kecepatan 10-30 km/jam hingga Agustus mendatang. “Jadi salah satu yang harus diwaspadai kebakaran alang-alang di lahan,” katanya.

Menurutnya, ada beberapa cuaca ekstrem seperti angin kencang, masih harus diwaspadai di awal musim kemarau bulan ini. Termasuk adanya hujan lebat, tapi dengan intensitasnya yang berbeda dari biasanya. “Pada masa peralihan musim, dalam artian belum semua masuk musim kemarau, karakteristik cuacanya kadang ekstrem. Masyarakat diminta waspada dan update terus info cuaca dari BMKG,” terangnya.

GEMPA TIDAK SALING BERKAITAN

Sementara itu, terkait gempa bumi. Tarjono mengatakan, berdasarkan keterangan dari Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG jika gempa secara beruntun pada Selasa (8/7) tidak memiliki kaitan dengan gempa yang terjadi sebelumnya. Baik gempa laut Jawa di utara Jepara, Banten, Garut  dan Gempa Selatan Selat Sunda berada pada sumber yang berbeda, kedalaman yang berbeda, dan juga berbeda mekanismenya. “Sebenarnya apa yang terjadi di beberapa wilayah gempa tersebut adalah manifestasi pelepasan medan tegangan pada sumber gempa masing-masing,” katanya.

Tarjono menjelaskan, masing-masing sumber gempa mengalami akumulasi medan tegangan sendiri-sendiri, mencapai stress maksimum sendiri-sendiri, hingga selanjutnya mengalami rilis energi sebagai gempa juga sendiri-sendiri. Ini konsekuensi logis daerah dengan sumber gempa sangat aktif dan kompleks. “Kita memang memiliki banyak sumber gempa sehingga jika terjadi gempa di tempat yang relatif berdekatan lokasinya dan terjadi dalam waktunya yang relatif berdekatan maka itu hanya kebetulan saja,” katanya.

Ia mengungkapkan terkait dengan gempa di wilayah Banten, berdasarkan hasil analisis BMKG menunjukkan gempabumi ini memiliki parameter update dengan magnitudo M=5,1. Episenter gempabumi terletak pada koordinat 6,70 LS dan 106,15 BT, atau tepatnya berlokasi di darat pada jarak 18 km arah Barat Daya Rangkasbitung, Banten pada kedalaman 87 km. “Bisa dikatakan, gempa tersebut tidak berpotensi tsunami,” pungkasnya. (fdr/air)