WH ‘Tahan’ Padi Keluar dari Banten

0
1477
Gubernur Banten Wahidin Halim saat panen bawang dan melon di Sitandu Dinas Pertanian Banten, Senin (18/1).

60 Persen Padi Keluar Banten

SERANG – Gubernur Banten Wahidin Halim akan mengendalikan distribusi padi Banten. Selama ini, produksi padi di Banten sebenarnya cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Namun,  selama ini Banten juga berperan memenuhi pangan warga Jakarta dan sekitarnya.

WH mengatakan, untuk pengaturan pola distribusi produksi padi, pihaknya menugaskan PT Agrobisnis Banten Mandiri selaku BUMD milik Pemprov Banten di bidang pertanian. “Jangan  langsung dilempar keluar. Dikendalikan. Diutamakan untuk memenuhi kebutuhan Provinsi Banten,” katanya saat panen bawang dan melon di Sistem Pertanian Terpadu (Sitandu) Dinas Pertanian (Distan) Provinsi Banten di Jalan Syekh Nawawi Al-Bantani, Senin (18/1).

Kalau dulu, lanjut WH, padi hasil produksi petani Banten dilempar keluar Banten. Namun, saat ini BUMD harus membeli padi langsung dari tangan masyarakat untuk kemudian didistribusikan guna memenuhi kebutuhan masyarakat Banten. Tidak hanya padi saja, tapi juga produk pertanian lain.

Kata dia, hal itu memang baru bisa dimulai tahun ini, karena BUMD yang memungkinkan untuk mengatur pola distribusi. “Kerja sama dengan Distan dan Dinas Ketahanan Pangan,” tuturnya.

Sektor pertanian saat ini menjadi salah satu fokus Pemprov untuk memperkuat ketahanan pangan di Tanah Jawara ini. Apalagi, saat ini di Banten juga sedang dikembangkan tanaman porang yang mencapai 200 hektare oleh petani dan beberapa pondok pesantren di Kabupaten Serang, Kabupaten Lebak, dan Kabupaten Pendeglang. Saat ini porang memiliki nilai ekonomi tinggi serta mudah dipasarkan.

Sementara itu Kepala Dinas Pertanian Provinsi Banten Agus M Tauchid mengatakan, berdasarkan data statistik pertanian, produksi padi Banten tahun 2020 sebanyak 2.148.874 ton gabah kering giling. Jumlah itu meningkat sebesar 4.571 ton dibandingkan produksi tahun 2019.

“Dari produksi tahun 2020 ini masih menyisakan atau kita sebut surplus sebanyak 12.116 ton,” terangnya.

Kata dia, berdasarkan data perkiraan, padi yang keluar dari Banten mencapai 60 persen. Dengan keluarnya padi dari Banten, maka ada nilai tambah yang hilang dari Banten. Ia juga menyampaikan, tahun ini Gubernur memberikan bantuan produksi padi ful paket untuk luasan lahan 200 hektare.

Selain itu, masih ada bantuan untuk pengembangan minapadi dan perkebunan. Untuk mempercepat pengolahan tanah, Gubernur juga akan memberikan bantuan 120 unit handtractor.

Sementara itu, untuk pengembangan bawang merah di Provinsi Banten, Distan membuat demplot bawang merah varietas Bima Brebes di Sitandu. Pada umur 55 hari, varietas ini sudah memasuki waktu panen dengan produktivitas per hektare mencapai 12 ton. Untuk saat ini, produktivitas bawang merah di Provinsi Banten masih mencapai 6,2 ton per hektare. Di Banten, budidaya bawang merah tersebar di Kecamatan Kramatwatu dan Kecamatan Baros, Kabupaten Serang; Kecamatan Panimbang dan Kecamatan Cimanuk, Kabupaten Pandeglang; serta Kecamatan Rajeg, Kecamatan Sepatan, Kecamatan Sepatan timur, dan Kecamatan Pasar Kemis, Kabupaten Tangerang.

Sedangkan, untuk demplot melon yang ditanam adalah varietas Golden Melon Alisha. Pada usia 65 hari, varietas ini sudah memasuki waktu panen dengan produktivitas hingga 30 ton per hektare. Bobotnya sekira 0,8 kilogram hingga 2,5 kilogram per butir dengan tingkat kemanisan melon ini 12 hingga 16 brix. Keunggulan melon varietas ini memiliki buah dengan tekstur renyah serta rasa manis yang segar.

Pengembangan Melon di Banten tersebar di Purwakarta, Ciwandan, Pulomerak, Cilegon, Cibeber, serta Citangkil di Kota Cilegon; Waringinkurung, Cikeusal, Walantaka, serta Ciruas di Kabupaten Serang;  dan Teluknaga di Kabupaten Tangerang. (nna/alt)