Wisata Edukasi Mangrove Jadi Potensi PADes Tanjungburung

Staf Desa Tanjungburung (duduk) saat memberikan pelayanan administrasi kependudukan kepada warga, Selasa (26/3).

TANGERANG – Desa Tanjungburung. Nama desa ini cukup terkenal dengan potensi wisatanya di Kecamatan Teluknaga. Ya, desa ini punya wisata edukasi mangrove. Desa ini juga pernah menjadi desa terbaik dalam lomba desa tingkat Provinsi Banten 2018 dan mendapatkan piagam penghargaan dari Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) pada tahun yang sama, karena wisata tersebut.

Wisata edukasi mangrove, menurut Sekretaris Desa Tanjungburung Hasan Basri, mulai dibangun sejak 2010. ”Tempat penanaman mangrove itu dibangun bersama para komunitas pencinta lingkungan mangrove. Tujuan awalnya untuk mencegah abrasi di pesisir pantai,” terangnya saat ditemui di Kantor Desa Tanjungburung, Selasa (23/3).

Basri menjelaskan, Tanjungburung merupakan pemekaran dari Desa Pangkalan pada 1982. Letak geografisnya berada di pesisir Utara Pulau Jawa dan bersebelahan dengan hilir Sungai Cisadane. Penanaman mangrove atau bakau menjadi salah satu cara untuk menangani abrasi di muara Sungai Cisadane.

Seiring berjalannya waktu, kini, lokasi penanaman mangrove justru menjadi destinasi wisata edukasi bagi beberapa kalangan, terutama pelajar dan mahasiswa. ”Saat ini, banyak pelajar datang ke tempat penanaman mangrove. Mereka tidak hanya menikmati pemandangan indah, tetapi juga diajak secara langsung untuk belajar menanam mangrove. Bahkan, minggu lalu, ada Miss Indonesia juga syuting dan tanam mangrove,” terang Hasan.

Ia menjelaskan, wisata edukasi mangrove itu berada di muara Sungai Cisadane. Luasnya sekira lima hektare, berjarak sekira tiga kilometer dari Kantor Desa Tanjungburung. Untuk mencapainya, pengunjung harus menyeberang dengan menyewa perahu. Harganya Rp200 ribu per perahu.

”Ke depan, kami sudah membuat konsep untuk mengembangkan tempat wisata edukasi itu. Misalnya dengan membuat home stay dan objek-objek menarik tempat selfie seperti di Bandung. Meskipun cuma tempat selfie, tapi pengunjungnya ramai. Kami optimistis bisa mengembangkan wisata itu sehingga bisa menjadi salah satu potensi pendapatan desa,” ungkap mantan Pejabat Sementara Kepala Desa Tanjungburung pada 2017 itu.

Hanya saja, Hasan mengakui, konsep pengembangan wisata itu terhambat. Pasalnya, area lokasi penanaman mangrove tersebut sudah menjadi miliki investor swasta. ”Konsep sebenarnya sudah ada, tinggal dipoles dan direalisasikan. Tetapi kami juga dilema. Kalau dibangun, lalu kemudian digarap oleh investor dan pengembang, jadi pembangunannya akan sia-sia,” tukasnya.

Kepala Desa Tanjungburung M Idris Efendi menambahkan, desa seluas 854 hektare yang dia pimpin juga memiliki potensi lain. Yakni, keripik sukun serta bandeng cabut duri dan presto. Potensi itu merupakan hasil olahan anggota Pembinaan Kesejhateraan Keluarga (PKK) Desa Tanjungburung. ”Sebagai pemerintah desa, kami berharap, semua potensi yang ada di desa dapat dikembangkan secara maksimal,” tutup Idris. (pem/rb/sub)