SERANG – Sejumlah perempuan membentuk satu barisan di depan tugu monumen perjuangan masyarakat Banten, Alun-alun Kota Serang, satu orang di depan memegang pengeras suara, berteriak, mengajak siapapun yang ada di area alun-alun, dari masyarakat umum yang sedang menikmati akhir pekan hingga pengguna jalan untuk berhenti membeda-bedakan antara perempuan dan laki-laki.

Dita Angelia Dwi Hastuti, menggunakan pengeras suara dengan lantang berujar jika perempuan mempunyai hak-hak yang sama dengan laki-laki. Perempuan punya hak atas segala apapun yang berada di dirinya, termasuk tubuhnya.

“Tubuh kita punya hak, dan tidak bisa diatur oleh orang lain,” ujarnya kembali menegaskan saat diwawancarai setelah unjuk rasa, Minggu (4/3).

Perempuan yang aktif di komunitas Rumah Buku Cilegon ini menjelaskan, unjuk rasa ini merupakan salah satu dari rangkaian acara Women’s March Serang. Sebelumnya, dilakukan beberapa kegiatan seperti diskusi soal sejarah, musik, pembahasan Rancangan Undang-Undang Kekerasan Seksual, kekerasan dalam pacaran, dan tentang kiprah perempuan dalam dunia literasi dengan menghadirkan Ayu Utami, sastarawan perempuan di Indonesia.

“Permepuan bebas dari stigma, laki-laki juga bebas stigma. Perempuan boleh emosi, laki-laki juga boleh,” jawab Dita saat ditanya pesan yang ingin disampaikan dari gerakan ini kepada masyarakat.

Menurut Dita, tidak ada perbedaan antara perempuan dan laki-laki, karena itu masyarakat diharapkan bisa bersikap sama kepada perempuan. “Kita harus bisa hadapi perbedaan,” katanya.

Disinggung soal LGBT, menurut Dita, itu bagian dari hak. Menurutnya, siapapun boleh tidak setuju dengan LGBT namun tidak boleh melarang seseorang untuk menjadi bagian dari LGBT. (Bayu Mulyana/coffeandchococake@gmail.com)