Work from Home: Awalnya Seru, Selanjutnya Gabut

0
2.048 views

Penyebaran COVID-19 yang sangat cepat, membuat segala kesibukan masyarakat terutama dalam hal pekerjaan diarahkan menjadi work for home (WFH). Kebijakan ini memang untuk mengantisipasi status darurat masyarakat yang sudah semakin banyak terinfeksi.

Korban positif dan meninggal yang semakin naik tiap harinya, membuat Presiden resah dan memutuskan menerapkan kerja, sekolah, bahkan beribadah di rumah selama 14 hari terhitung dari 16 hingga 31 maret. Karena membatasi interaksi sosial atau social distancing bisa menekan penyebaran virus dari orang ke orang.

Namun selama pandemi virus corona masih tidak bisa di-hold, penerapan ini bisa diperpanjang kapan pun sesuai kebijakan Presiden dan pemerintah. Respons masing-masing orang atau para pekerja yang menerapkan work from home bermacam-macam. Ada yang menganggap pro dan kontra dengan berbagai alasan. Meski begitu, mereka tetap memilih menjaga keselamatan diri dan orang-orang di sekitarnya.

Seperti halnya Putri Mustika, salah satu pekerja perusahaan financial di Tangerang mengaku, merasa lega setelah perusahaannya memutuskan work from home untuk para pekerjanya. “Karena di kota ini yang aku tahu udah lumayan banyak yang positif, jadi resah sendiri. Pas diperbolehkan work from home aku bersyukur. Jadi aku bisa melindungi diri dari virus ini,” akunya.

Wanita 25 tahun ini mengatakan, di tengah pandemic virus ini, work from home adalah solusi tepat. “Karena tempat kerjaanku juga bertemu banyak orang, jadi mengkhawatirkan kalau enggak segera WFH. Terlebih walaupun suka pegal sendiri depan laptop, setidaknya bisa lebih santai sambil ngemil atau memberi jeda istirahat,” tuturnya.

Sedangkan menurut Siti Abasiah, guru SDIT Al-Izzah Kota Serang, WFH kurang kondusif. “Karena sebagai guru tahfiz yang enggak pakai aplikasi dan megang bimbingan konseling untuk anak-anak, saya merasa kesulitan mengontrol dan melihat setoran hafalan anak-anak,” aku sarjana Jurusan Bimbingan Konseling Islam UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten ini.

Wanita 23 tahun itu menambahkan, WFH memang baik untuk meng-hold virus selama di sekolah, tetapi pekerjaan sekolah dan tugas anak-anak membuatnya kurang terlihat.

Lilo Rohili, guru SMA Terpadu Al-Qudwah Rangkasbitung berkomentar, masa WFH di yayasanya 16 – 29 Maret 2020. Namun ada rencana mau diperpanjang. “Rasanya work from home itu senang sekali. Awal-awal memang bingung apa yang harus dilakukan, terlebih para siswa juga belum merespons tugas rumahnya, akhirnya mencoba menikmati hari. Namun, melewati dua sampai tiga hari, anak-anak di rumah mulai merasakan kebosanan. Terlebih di rumah kami tidak memiliki televisi. Seribu satu cara dilakukan agar anak merasa betah berlama-lama di rumah. Akhirnya, saya dan istri mengonsep agenda day by day. Misalnya, berbagi tugas. Kakak (6 tahun) tugasnya mengasuh adik (1 tahun), murajaah hafalan Alquran, membaca majalah anak dan membereskan kembali mainannya. Umi, beres-beres rumah, masak, dan cuci piring. Abi bantu mencuci baju, jemur kasur dan jagain anak-adik,” tukas guru yang juga penulis buku ini.

Tips Lilo selama WFH dalam menyelesaikan pekerjaan yakni pada malam hari, karena lebih leluasa. “Sekira pukul 21.00, saat anak-anak sudah tidur. Karena saya guru, jadi saya tinggal mengecek tugas-tugas siswa yang saya berikan pada hari kedua lockdown. Untuk konsultasi tugas dilakukan sambilan saat mengerjakan tugas-tugas rumah via WA atau IG,” jelas Lilo yang juga penyiar di radio Genj FM ini.

Sopik Emeraldi, Manajer Marketing Dompet Dhuafa Cilegon pun WFH sejak 18-29 Maret, tapi sepertinya akan diperpanjang lagi sampai waktu yang belum ditentukan. “Selama WFH sih justru kebanyakan boringnya karena mengerjakan kerjaan kantor kurang maksimal. Untuk menyelesaikan kerjaan kantor di rumah itu enggak mudah dan enggak fokus sih, harus bener-bener nyiptain mood kerja, membuat suasana kerja di rumah kondusif, atau sedia minum dan camilan masuk kamar kerja dan pasang handset biar enggak terganggu oleh suara keluarga lah, tetangga lah. Dan godaan yang udah pasti sih pengin selonjoran, tiduran, nonton,” jelas lelaki berkacamata yang tinggal di Cikerai, Kota Cilegon ini.

Sementara Gayuh Permadi ASN Cilegon yang tetap ngantor meski yang lain WFH, menanggapi dengan positif. “Sebenernya ini jadi kayak sesuatu yang baru dan baru dialami saat ini. Selama kerja 14 tahun, baru kali ini kebijakan itu diadakan. Kayaknya bakal lebih seru karena memakai sistem daring, jadi mau enggak mau belajar teknologi yang lain. Yang pasti, bakal lebih riweuh sih, karena double fokusnya. Kalau di rumah, jadi fokus kerjaan rumah dan ngasuh anak juga. Jadi timingnya harus pas kalau mau daring atau ngerjain tugas kantor,” pungkasnya. (najla-yogi-fikar zetizen/zee/air/ags)