SERANG,RADARBANTEN.CO.ID-Malam Anugerah Hari Ulang Tahun (HUT) ke-6 Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI) berlangsung khidmat di Hotel Horizon Ultima Ratu, Kota Serang, Minggu 8 Februari 2026. Selain perwakilan anggota JMSI dari seluruh Indonesia, sejumlah tokoh penting ikut hadir.
Mereka di antaranya, Menteri Koperasi dan UKM Feri Juliantono, Wakil Menteri Hak Asasi Manusia (Wamen HAM) Mugiyanto, Wakil Menteri Dahnil Anzar Simanjuntak.
Selain itu, sejumlah anggota dewan dan kepala daerah. Tampak juga Ketua Umum JMSI Teguh Santosa yang didampingi Dirut Radar Banten Group Mashudi.
Dalam sambutannya, Dahnil Anzar Simanjuntak menyampaikan apresiasi dan ucapan selamat atas perjalanan JMSI yang telah memasuki usia ke-6 tahun.
“Saya mengucapkan selamat untuk JMSI, sukses selalu, dan selamat Hari Pers untuk seluruh insan jurnalis. Saya berharap jurnalis terus berkembang,” ujar Dahnil.
Dahnil juga sempat mengutip pesan Jacob W yang menurutnya relevan dengan peran pers. “Presiden memerintah lima tahun, 10 tahun jika terpilih kembali. Tapi kalau jurnalis memerintah selamanya. Jurnalis adalah peran-peran yang mencerahkan, peran-peran yang meninggikan peradaban,” katanya.
Dalam kesempatan tersebut, Dahnil juga menyampaikan testimoni tentang profil Ketua JMSI Teguh Santosa yang dikenalnya sejak lama. Ia mengisahkan perkenalan mereka saat ia menjabat Wakil Ketua Pemuda Muhammadiyah bersama ketum Shaleh Daulay.
“Bang Teguh ini unik. Saya kenal beliau pertama kali ketika saya menjadi Wakil Ketua Umum Pemuda Muhammadiyah. Saat itu, Kami melirik anak-anak muda lulusan terbaik untuk bergabung ke Pemuda Muhammadiyah,” kenangnya.
Dahnil menyebut Teguh sebagai lulusan Hawaii yang pernah menjadi Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah di Hawaii. “Beliau ini orang soleh, Pak. Kalau nggak percaya lihat saja,” ujarnya disambut tawa hadirin.
Ia pun bercerita, dengan nada bercanda, saat mengajak Teguh bergabung ke Pemuda Muhammadiyah. “Waktu itu kami sempat bertanya-tanya, Pak Teguh ini salat nggak ya? Kita paksa saja untuk salat,” katanya, kembali mengundang gelak tawa.
Menurut Dahnil, Teguh merupakan “produk Amerika” dengan pemikiran kritis dan dikenal sebagai wartawan intelektual. Bahkan, kata dia, jika ingin memahami Korea Utara, Teguh Santosa termasuk salah satu yang paling paham.
Dahnil menegaskan bahwa para bapak bangsa Indonesia adalah para penulis. Perjuangan mereka, katanya, lahir melalui tulisan dan semangat jurnalisme.
“Hari-hari ini yang dibutuhkan adalah konten yang sesungguhnya. Sekarang ini ramai konten yang tak berkonten. Kontennya ramai tapi tak bermakna. Tidak ada nilai di dalamnya,” tegasnya seraya berharap semakin banyak wartawan intelektual tumbuh di JMSI.
Saat diundang ke Banten, Dahnil mengaku teringat masa lalu. Ia menyebut nama Mashudi (saat ini menjabat sebagai Dirut Radar Banten-red) yang dulu kerap menempatkan dirinya sebagai narasumber.
“Sekarang ini tradisi jurnalisme intelektual seperti terkubur. Kenapa? Karena ekosistem intelektualisme tidak mendapat tempat. Saya berharap ada apresiasi dari teman-teman jurnalis untuk menempatkan para intelektual sebagai narasumber, baik pejabat politik, pejabat negara maupun siapa pun,” ujarnya.
Ia juga mengajak jurnalis untuk berhenti mengangkat figur-figur yang tidak memberi ruang pada nalar ilmiah dan intelektualisme. “Ruang publik ini harus diisi dengan gagasan, debat intelektual,” tandasnya.
Di akhir sambutannya, Dahnil sempat melontarkan pantun penutup. Pantunnya begini: Pergi ke pasar membeli pena, Pena dipakai menulis berita. JMSI hadir menjaga makna, Media bersatu mencerdaskan bangsa.
Editor: Agung S Pambudi







