TANGERANG, RADARBANTEN.CO.ID – Berdasarkan data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), pada tahun 2022 diperkirakan terdapat 2,3 juta wanita yang terdiagnosis menderita kanker payudara, dan 670.000 di antaranya meninggal dunia akibat penyakit ini.
Kanker payudara dapat terjadi pada wanita di seluruh dunia, pada usia berapa pun setelah masa pubertas. Namun, risiko meningkat seiring bertambahnya usia.
Kanker ini berasal dari epitel duktus dan lobulus di jaringan kelenjar payudara. Hingga kini, penyebab pastinya belum diketahui secara pasti, namun ada sejumlah faktor risiko yang dapat memicu timbulnya kanker payudara.
Faktor Risiko Kanker Payudara
Kanker payudara bisa menyerang siapa saja, tetapi risikonya meningkat bila seseorang memiliki beberapa faktor berikut:
- Usia di atas 40 tahun
- Belum pernah hamil atau baru melahirkan di usia lanjut
- Tidak menyusui atau menyusui dalam waktu singkat
- Menstruasi terlalu dini atau menopause terlambat
- Penggunaan obat hormonal tanpa pengawasan dokter
- Riwayat keluarga dengan kanker payudara atau kanker ovarium
- Pernah menjalani operasi tumor atau radiasi dada di usia muda
- Kelebihan berat badan dan kurang olahraga
- Kebiasaan mengonsumsi alkohol dan merokok
Kenali Gejalanya Sejak Dini
Waspadai bila muncul benjolan padat dan keras di payudara, perubahan bentuk atau posisi puting, keluarnya darah dari puting, kulit payudara tampak seperti kulit jeruk (peau d’orange), atau terdapat benjolan di ketiak.
“Banyak pasien datang saat sudah stadium lanjut karena mengabaikan perubahan kecil di payudaranya. Padahal, jika diperiksa lebih awal, hasil pengobatan bisa jauh lebih baik,” jelas dr. Ivan Rinaldy, Sp.B, Subsp. Onk(K), Dokter Spesialis Bedah Subspesialis Onkologi di Bethsaida Hospital Gading Serpong, dikutip RADARBANTEN.CO.ID, Kamis 30 Oktober 2025.
Deteksi Dini: SADARI dan SADANIS
Menurut dr. Ivan, pencegahan terbaik terhadap kanker payudara adalah deteksi dini, yang dilakukan melalui dua cara:
- Pemeriksaan Payudara Sendiri (SADARI)
Dapat dilakukan oleh wanita berusia di atas 20 tahun.
- Bagi yang masih haid, lakukan pada hari ke-7 hingga ke-10 setelah hari pertama haid.
- Bagi yang sudah menopause, lakukan pada tanggal yang sama setiap bulan.
Amati bentuk payudara di depan cermin, lalu raba seluruh bagian payudara dan ketiak untuk memastikan tidak ada benjolan atau perubahan.
“SADARI adalah bentuk cinta pada diri sendiri. Dengan pemeriksaan sederhana di rumah, wanita dapat mengenali perubahan sejak dini,” ujar dr. Ivan.- Pemeriksaan Payudara oleh Tenaga Medis (SADANIS)
Dilakukan oleh tenaga medis atau dokter untuk mendeteksi adanya kelainan.
Jika ditemukan indikasi mencurigakan, dokter dapat melanjutkan pemeriksaan dengan USG payudara atau mammografi.
Bagi wanita usia di atas 15 tahun, pemeriksaan klinis ini dianjurkan dilakukan setiap 2–3 tahun sekali agar deteksi dini dapat dilakukan sebelum mencapai stadium lanjut.
“SADANIS melengkapi langkah SADARI karena pemeriksaan klinis oleh dokter memberikan hasil yang lebih akurat,” pungkas dr. Ivan.
Reporter: Mulyadi

